BP Gelar Diskusi Pengembangan Ekosistem MRO

BP Gelar Diskusi Pengembangan Ekosistem MRO
Suasana jalannya diskusi ekosistem Maintenance, Repair, and Operations (MRO) melalui implementasi rencana induk Bandara Hang Nadim, pada Kamis (23/1/2025). (F. rud)

BATAM (Kepri.co.id)Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Pusat Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), menggelar focus group discussion (FGD) atau diskusi kelompok terpumpun perihal pengembangan ekosistem MRO melalui implementasi rencana induk Bandara Hang Nadim, pada Kamis (23/1/2025).

Bertempat di Ruang Balairungsari Lantai 3 Gedung Bida Utama, kegiatan dibuka Anggota Bidang Kebijakan Strategis BP Batam, Enoh Suharto Pranoto dan turut didampingi Anggota Bidang Administrasi dan Keuangan, Alexander Zulkarnain.

Baca Juga: MRO 12 Maskapai di KEK Batam Aero Technic, Serap 1.636 Tenaga Kerja

Enoh mengatakan, diskusi terpumpun dengan tema pengembangan ekosistem Maintenance, Repair, and Operations (MRO), dikembangkan berdasarkan implementasi Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 47 Tahun 2022 tentang Rinduk Bandar Udara Hang Nadim di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Ia mengatakan, fokus pembangunan di Batam sesuai RPJMN 2025-2029 yaitu ”Percepatan Peningkatan Investasi melalui Pengembangan Kawasan dan Pembangunan Infrastruktur”.

Baca Juga: Kehadiran SEZ Singapura-Johor: Peluang Emas Meningkatkan Daya Saing KEK Batam

Di mana, hal ini juga sejalan dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2025 yang mengusung tema ”Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan”.

”Untuk mencapai visi tersebut, target investasi di KPBPB Batam difokuskan pada pengembangan industri-industri sektor strategis yang memiliki nilai tambah tinggi. Salah satunya industri kedirgantaraan,” terang Enoh.

Baca Juga: KEK Batam Aero Technic Gerakkan Roda Ekonomi Batam

Adapun prioritas pengembangan industri-industri sektor strategis di Batam yang memiliki nilai tambah tinggi:
1. Hub logistik internasional.
2. Industri kedirgantaraan.
3. Industri ringan dan bernilai tinggi.
4. Industri digital dan kreatif.
5. Pusat perdagangan dan keuangan internasional.
6. Serta pariwisata kesehatan yang terintegrasi.

Enoh mengatakan, diksusi ini sangat penting, mengingat potensi industri MRO dan Kedirgantaraan ke depan akan semakin terang.

Baca Juga: Batam Miliki 3 KEK dan 3 PSN, JR: Berlari Cepat, Lari Kencang di Atas 8 Persen

”30 Hektare (Ha) MRO KEK Batam Aero Technic (BAT), saat ini sudah sangat baik performanya. Ke depan, akan ada 108 Ha perluasanya MRO di luar kawasan ekonomi khusus dengan status FTZ,” kata Enoh.

Hal tersebut dibahas secara lebih komprehensif melalui pemaparan dan diskusi tanya jawab bersama narasumber: Kasubdit Kelikudaraan DKPPU Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Udi Tito Priyatna.

Baca Juga: BP Dukung Sinergi Pengelolaan dan Penataan Kewenangan Kepelabuhanan di KPBPB Batam

Kemudian Acting President Director Batam Aero Technic (BAT), Riki S Suparman; Direktur Politeknik Batam Bambang Hendrawan, dan dimoderatori Kepala Pusat Pengembangan KPBPB dan KEK, Irfan Syakir.

KEK BAT merupakan industri MRO terbesar di Indonesia, dengan 23 hanggar airlines dan dua painting.

Baca Juga; Kemenko Perekonomian Jadikan KPBPB Batam Sebagai Model KPBPB Lainnya di Indonesia

Melayani 12 maskapai dan memiliki tujuh sertifikat internasional, KEK BAT menargetkan akan menjadi lima besar Asia Pacific MRO Market Leaders atau Pemimpin Pasar MRO Asia Pasifik.

Sementara itu, dari sisi sumber daya manusia (SDM), Politeknik Batam siap mendukung target tersebut dengan menyiapkan sumber daya manusia dengan program studi, fokus merespons kebutuhan industri MRO dan KEK di Batam dan Provinsi Kepri.

Baca Juga: Ombudsman RI Dorong Perbaikan Pelayanan Pengeluaran Barang di KPBPB Batam

Hadir dalam diskusi para akademisi dan puluhan mahasiswa Politeknik Batam dan Universitas Batam (Uniba) yang berada dalam program studi terkait MRO. (hen)