ANAMBAS, Kepri.co.id – Gangguan listrik yang berulang di Pulau Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, berdampak langsung terhadap aktivitas usaha perikanan. Produksi es batu terganggu, kualitas ikan terancam, dan kerugian pengusaha diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Kondisi tersebut dirasakan Ahmad, salah seorang pengusaha ikan di Tarempa. Sejak September 2026 hingga awal Oktober 2026, pasokan listrik yang tidak stabil menghambat proses pembekuan dan penyimpanan ikan.
Bagi pelaku usaha perikanan, ketersediaan listrik menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran produksi. Ketika listrik padam berulang kali, mesin pembuat es batu tidak dapat beroperasi secara optimal. Akibatnya, kebutuhan es untuk menjaga kesegaran ikan ikut terganggu.
Produksi Es Terganggu, Kerugian Usaha Membesar
Ahmad menjelaskan, es batu merupakan kebutuhan utama dalam rantai usaha perikanan. Selain pengusaha ikan, nelayan juga membutuhkan es batu untuk mempertahankan kualitas hasil tangkapan sebelum dijual ke pasar.
“Dampaknya banyak. Aktivitas kami sangat terhambat. Untuk ikan beku maupun ikan segar, semuanya membutuhkan es batu. Kalau tidak ada listrik, es batu tidak bisa diproduksi dengan baik. Akibatnya, pelaku usaha maupun nelayan tidak bisa berproduksi secara maksimal,” ujar Ahmad kepada zonasidik, Kamis (22/10/2026).
Gangguan tersebut tidak hanya menghambat proses produksi, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan hasil tangkapan. Ikan yang tidak tersimpan pada suhu dingin yang memadai, dapat mengalami penurunan kualitas, bahkan tidak lagi layak dijual.
Ahmad memperkirakan, kerugian usahanya selama periode gangguan listrik mencapai ratusan juta Rupiah. Perkiraan itu, mencakup dampak terhadap kegiatan usaha serta kerusakan peralatan.
“Kalau ikan yang betul-betul rusak parah, sudah ada sekitar dua Ton yang kami buang. Sedangkan ikan yang masih bisa diselamatkan, harganya jauh turun. Modal pembelian dengan harga jual sudah tidak sesuai, sehingga tetap menimbulkan kerugian,” ungkapnya.
Selain dua Ton ikan yang terpaksa dibuang, Ahmad memperkirakan, jumlah ikan yang terdampak di usahanya mendekati 10 Ton jika dihitung bersama ikan yang masih dapat diselamatkan, tetapi mengalami penurunan harga jual.
Kerugian tersebut, memperlihatkan besarnya ketergantungan usaha perikanan terhadap pasokan listrik yang stabil. Ketika proses penyimpanan terganggu, pelaku usaha menghadapi risiko kehilangan modal sekaligus penurunan pendapatan.
HMNI Dorong Penyelesaian Konkret
Persoalan ini turut mendapat perhatian Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia (HMNI) Kabupaten Kepulauan Anambas. Sekretaris HMNI Kabupaten Kepulauan Anambas, Desvian, mengecam gangguan listrik yang terus menghambat aktivitas masyarakat di Pulau Siantan.
Menurut Desvian, persoalan listrik tidak bisa dianggap sebagai gangguan biasa karena berkaitan langsung dengan mata pencaharian nelayan dan keberlangsungan usaha perikanan.
“Persoalan listrik ini harus menjadi perhatian serius PLN. Jangan sampai masyarakat, khususnya nelayan dan pengusaha ikan, terus menjadi pihak yang menanggung kerugian, akibat pasokan listrik yang tidak stabil. Bagi kami, listrik bukan hanya kebutuhan penerangan, tetapi juga penunjang utama aktivitas ekonomi masyarakat nelayan,” ujar Desvian saat dihubungi, Kamis (22/10/2026).
Ia menilai, gangguan listrik dapat memengaruhi berbagai tahapan usaha perikanan, mulai dari produksi es batu hingga penyimpanan hasil tangkapan sebelum dipasarkan. Jika kondisi tersebut terus berulang, risiko kerugian bagi nelayan dan pengusaha ikan dikhawatirkan semakin besar.
“PLN harus memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat dan menunjukkan langkah nyata, menyelesaikan persoalan ini. Jangan sampai gangguan yang sama terus berulang, sementara masyarakat harus menanggung dampaknya. Kami berharap, ada penyelesaian yang konkret, agar aktivitas nelayan dan usaha perikanan bisa berjalan dengan baik,” tegasnya.
Sebagai langkah mencari penyelesaian, Desvian mengatakan, HMNI Kabupaten Kepulauan Anambas berencana melakukan audiensi dengan PLN ULP Anambas. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat nelayan untuk menyampaikan dampak gangguan listrik sekaligus meminta penjelasan mengenai penyebabnya.
Melalui audiensi itu, HMNI berharap dapat memperoleh kejelasan mengenai persoalan pasokan listrik di Pulau Siantan dan mendorong langkah perbaikan yang konkret. Upaya tersebut dinilai penting agar gangguan serupa tidak terus menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi nelayan dan pengusaha ikan, kepastian pasokan listrik bukan sekadar persoalan kenyamanan. Stabilitas listrik turut menentukan kelancaran produksi es, kualitas hasil tangkapan, serta kemampuan pelaku usaha mempertahankan nilai jual ikan.
Hingga berita ini disusun, bahan yang tersedia belum memuat penjelasan dari PLN ULP Anambas, mengenai penyebab gangguan maupun langkah penanganan yang telah dilakukan. Keterangan resmi PLN diperlukan, untuk melengkapi informasi dan memberikan gambaran yang berimbang mengenai upaya penyelesaian persoalan tersebut. Jika ada informasi dari pihak PLN, akan kami naikkan. (latep)
BERITA TERKAIT:
PLN Anambas Ungkap Penyebab Gangguan Listrik, Usulkan Tambahan Mesin 1 Mega
Listrik Padam Mendadak di Tarempa, PLN Anambas Minta Maaf dan Bantah Blokir Kontak Pelanggan
Listrik Padam Mendadak di Tarempa Selatan, Pelaku Usaha Keluhkan Sikap Bungkam PLN Anambas
Warga Anambas Datangi Rumah Dinas Bupati, Desak PLN Pulihkan Listrik dan Bertanggung Jawab
Sekda Anambas Dorong PLN Perkuat Koordinasi Soal Pemadaman Listrik di Tiga Kecamatan
Aneng Turun Langsung Pantau Mesin PLTD Tiba, Jawab Keresahan Warga Anambas
Listrik Padam Berjam-jam, Inilah 6 Dampak saat Listrik Anambas Padam
PLN Bantah Gangguan Listrik Tarempa Disebabkan Acara Lapangan Bola Sulaiman








