Pembangunan Batam Masif, Gapensi Minta BP dan Pemko Berpihak pada Kontraktor Lokal

Ketua BPC Gapensi Batam, Sahaya Simbolon SH (tengah) foto bersama pengurus Gapensi usai buka puasa bersama di Restoran Love Seafood Batam Center, Selasa (2/4/2024). (F. asa)

BATAM (Kepri.co.id) – Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Batam, mengapresiasi masifnya pembangunan Kota Batam, yang dilaksanakan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Pemerintah Kota (Pemko) Batam, pemerintah pusat, dan swasta.

“Masifnya pembangunan Kota Batam ini, tidak lepas dari peran kontraktor. Kami minta, kontraktor lokal diberdayakan,” ujar Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Gapensi Batam, Sahaya Simbolon SH usai buka puasa bersama pengurus Gapensi Batam di Restoran Love Seafood Batam Center, Selasa (2/4/2024).

Pentingnya pemberdayaan kontraktor lokal, kata Sahaya, akan memberikan sumbangsih pajak badan maupun perorangan, lapangan pekerjaan, dan perputaran uangnya di daerah.

“Kalau kontraktor luar yang dipakai, otomatis uangnya dibawa ke luar Batam. Kalau kami kontraktor lokal, makan dan hidup kami di Kota Batam. Kami juga menghidupi pekerja yang hidup dan tinggal di Kota Batam,” ujar Sahaya.

Baca Juga: Tinjau Pembangunan Jalan Arteri, Rudi Ingatkan Kontraktor Kerja Tepat Waktu

Keberpihakan kepada kontraktor lokal yang dimaksud, kata Sahaya, dengan membuat paket pekerjaan yang lebih kecil dari Rp15 miliar.

“Kami harus akui, 70 persen kontraktor lokal pengusaha kecil dengan modal Rp15 miliar ke bawah. Kalau pekerjaan di atas Rp15 miliar ke atas, berat bagi kontraktor lokal bersaing,” ungkap Sahaya.

Bahkan, kata Sahaya, sering juga terjadi proyek di Kota Batam dengan pagu anggaran di atas Rp15 miliar. Kemudian, proyek tersebut terjadi kendala.

“Itu ada. Sikap kami, cuek aja. Sekaligus memberikan pelajaran ke stakeholder, memberikan pesan pakailah kontraktor lokal,” ujar Sahaya.

Baca Juga: Kejati Limpahkan Tahap II Tipikor Jembatan Tanah Merah ke Kejari Bintan

Bahkan, lanjut Sahaya, ada juga pekerjaan dari pemerintah pusat di Kepri, pemenang proyeknya dari luar kemudian “menjual” pekerjaan tersebut ke kontraktor lokal.

“Kontraktor luar tersebut bukan mau kerja, tapi mengharapkan fee. Ini bisa terjadi, karena sistim lelang terbuka. Siapa saja bisa pemenangnya. Tapi, kami meminta hendaknya stakeholder memprioritaskan kontraktor lokal,” pinta Sahaya.

Memasuki tahun anggaran 2024, Sahaya pesimis proyek pekerjaan fisik. Sebab, proyek tahun anggaran 2023 Kota Batam saja terjadi defisit anggaran.

“Tahun lalu terjadi tunda bayar sejumlah proyek. Tahun 2024 ini, akan memasuki pemilihan Walikota (pilwako) Batam. Otomatis, anggaran proyek fisik bisa terkoreksi,” ujar Sahaya. (asa)