Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial
MENGEROPAKAN Indonesia… ini adalah pikiran lama saya. Pikiran ini adalah pikiran yang sangat ditakuti semua lawan politik saya. Terutama suku terbesar di negara ini, yang takut kehilangan kekuasaannya di semua provinsi jajahannya, daerah-daerah di luar pusat kekuasaannya. Diwakili oleh presiden beserta semua lembaganya, terutama kepolisian dan TNI.
Pengeropaan Indonesia artinya adalah membuat kehidupan semua orang yang ada di wilayah Indonesia sekarang, menjadi sesedap orang-orang di benua Eropa. Membuat semua suku-suku utama di Indonesia menjadi berkuasa penuh di wilayahnya masing-masing. Misalnya suku Sunda menjadi seberjaya suku Prancis.
Pikiran saya ini sangat ditakuti pemerintah pusat, polisi, tentara, dan semua pejabat dari kalangan suku terbesar di negara ini. Yang paling mereka takutkan adalah, apabila semua suku di negara ini mempunyai keinginan yang sama dengan saya, mendukung pikiran cemerlang saya, kemudian mereka semua menuntut hak wilayah mereka kepada pemerintah pusat. Sebab, berdasarkan prinsip demokrasi, apabila semua wilayah menuntut keinginan yang sama, yaitu berdaulat di wilayahnya masing-masing, maka pemerintah pusat wajib mengabulkannya. Karena ini adalah suara terbesar. Seperti yang telah terjadi di Soviet dan Cekoslowakia.
Suku terbesar di Indonesia takut pikiran cemerlang ini terjadi, karena mereka takut kehilangan kekuasaan di semua daerah jajahan mereka, yaitu semua provinsi di luar daerah suku terbesar. Mulai dari Sumatera sampai Papua. Mereka takut tak bisa menguasai semua kekayaan alam semua provinsi jajahan mereka lagi, mulai dari gas di Aceh sampai emas di Papua. Kemudian mereka takut setoran pajak dari semua provinsi jajahan mereka, tak pernah masuk lagi. Mereka juga sangat takut penguasaan mereka di semua lembaga negara yang ada di pusat dan di semua provinsi jajahan mereka, tidak dikuasai lagi. Mulai dari Pertamina sampai TNI.
Dan mereka takut, kalah gengsi dengan Malaysia karena wilayah negaranya mengecil. Menjadi sama besar dengan mMalaysia. Itu sebab, mereka selalu mengatasnamakan “NKRI harga mati” untuk mengecoh semua pikiran rakyat Indonesia, padahal semua semboyan itu dibuat untuk membodohkan dan melemahkan semangat semua suku lain di Indonesia untuk mendapatkan hak kedaulatannya. Supaya tak menuntut keadilan kepada pemerintah pusat. Mereka terus menggaungkan itu demi kekuasaan mereka, yang dampaknya adalah merugikan semua pribumi di provinsi-provinsi yang pribuminya sedikit atau kecil jumlahnya.
Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun membahas ini, saya mendapati kawan bercakap saya banyak yang setuju. Hanya saja mereka takut dibunuh oleh negara, seperti yang saya alami. Sehingga, mereka menyembunyikan kemauan mereka. Orang-orang yang berbahas dengan saya soal ini semuanya setuju dengan pikiran-pikiran yang saya ungkapkan, karena memang benar. Kalau Indonesia menjadi seperti Eropa, artinya semua suku menjadi untung seuntung-untungnya. Karena mempunyai negara sendiri, suku-suku lain bisa menjadi presiden di wilayah sukunya. Sesuatu yang tak akan pernah terjadi selama berada di dalam kekuasaan Indonesia.
Keuntungan kedua adalah bisa mengatur perekonomiannya sendiri, dengan memanfaatkan hasil kekayaan alam yang melimpah di setiap wilayah provinsi masing-masing. Malaysia bisa mempunyai gedung sehebat menara Petronas adalah karena wilayahnya bukanlah wilayah Indonesia. Sehingga, kekayaan alam mereka tidak bisa dicuri Indonesia, kekayaan alam mereka dipakai untuk kesejahteraan bangsa mereka. Yang ketiga adalah setiap suku utama bisa menjadikan bahasa sukunya menjadi bahasa resmi negaranya. Yang dipakai di kantor, di sekolah, di pasar, di televisi, dan surat menyurat negara. Keempat, semua suku utama bisa mempunyai timnas sepakbolanya sendiri. Dan terakhir bisa seperti di Brunei, hidup bebas pajak.
Selama ini yang terjadi di Indonesia adalah ketidakadilan yang memang sengaja dibiarkan untuk melanggengkan kekuasaan suku terbesar di negara ini. Dengan memanfaatkan keadaan suku-suku lain yang jumlahnya tak sebesar jumlah suku terbesar. Di antara semua provinsi di Indonesia, yang selalu menjadi presiden Indonesia adalah orang-orang dari provinsi yang (asal orangtuanya adalah provinsi) yang tidak berjaya. Provinsi pengirim pendatang ke provinsi-provinsi lain dan ke mancanegara. Alias provinsi-provinsi yang gagal total. Presiden bukan berasal dari provinsi-provinsi yang berjaya pemerintahannya, bukan dari provinsi yang berprestasi.
Keadaan yang memprihatinkan ini, disebabkan jumlah suku terbesar yang sangat banyak di negara ini dan mereka terus-menerus menguasai semua lembaga di pusat, sejak tujuh dekade yang lalu. Sebab lainnya, disebabkan mereka sebagai suku adalah suku yang tak pernah dewasa, tak pernah merasa cukup. Sehingga, setiap periode jabatan presiden mereka merasa harus selalu mereka yang menjabat, berdasarkan kemauan mereka. Intinya mereka menjadi presiden bukan karena mereka mampu, apalagi karena hebat, bukan. Tapi, hanya karena mereka diuntungkan oleh keadaan yang tidak adil bagi suku-suku lain yang kecil jumlahnya. Yang tidak sebanyak mereka dan tidak seberkuasa mereka. Saat ada orang yang menyadarkan semua rakyat, mereka bungkam dan mereka bunuh.
Inilah negara paling tidak adil di dunia, paling tidak benar pengaturannya, dan paling tidak bermanfaat bagi kebanyakan pribuminya. Oleh sebab itu, pengeropaan Indonesia adalah sebuah keharusan dan keperluan mendesak yang wajib segera diwujudkan bersama. Dengan begini, keadilan bisa tercipta. Misalnya, suku Bugis bisa menjadi presiden di wilayahnya. Begitu juga dengan suku Madura, bisa menjadi presiden di Republik Madura. Ini bisa terjadi, karena keadaannya memungkinkan. Demokrasi pada hakikatnya adalah benar bila diterapkan pada satu kelompok masyarakat yang sama sukunya, homogen. Supaya tidak terjadi ketidakadilan abadi.
Saat dibandingkan dengan tetangga terdekat yang sama-sama ras nusantara, yaitu Malaysia, Indonesia kalah telak. Bukan hanya dari prasarana umum di semua wilayahnya, tetapi yang paling utama adalah dalam hal gampangnya mendapatkan pekerjaan dan penghasilan bulanan umum rakyatnya. Itu dengan Malaysia. Dalam skala yang lebih kecil, apabila provinsi-provinsi suku terbesar itu dibandingkan dengan Provinsi Kepulauan Riau misalnya, Gubernur Kepulauan Riau adalah gubernur yang berjaya. Sebab, di Kepulauan Riau pengangguran sangat jarang di kalangan masyarakat pribuminya. Pribuminya sangat jarang merantau, semua bayi pribumi yang lahir sehat, tingkat kejahatan rendah, kunjungan wisatawan setiap tahun tinggi, dan angka harapan hidup juga tinggi.
Intinya, dari segi prestasi, masyarakat pribumi Kepulauan Riau lebih layak menjadi Presiden Indonesia. Tapi, kepatutan dan keharusan ini tidak akan pernah terjadi karena pengaturan yang tidak adil di negara ini, yang disebabkan suku terbesarnya sengaja membiarkan keadaan yang tidak adil ini. Demi semua keserakahan mereka. Yang disokong dengan undang-undang yang tidak bijaksana. Disebabkan mereka yang tidak pernah dewasa, tidak pernah merasa cukup. Jangankan mengusahakan, bahkan mereka tak pernah terpikir misalnya menjadikan suku Dayak yang sudah sangat berjasa kepada negara iniM menjadi Presiden Indonesia. Dengan semua kuasa yang mereka punya. Tak ada dalam pikiran mereka. Jangankan presiden, menteri pun tidak.
Mereka ingin selamanya begini, mereka hanya mau mendapatkan hasil kekayaan alam semua daerah jajahannya. Mereka membiarkan semua suku yang kecil berkeadaan tidak mujur. Pembangunan yang tidak merata di semua provinsi, perpindahan masal masyarakat dari provinsi-provinsi tertinggal ke provinsi idaman tanpa henti, tak ada duit pensiun bagi yang bukan dari kalangan pegawai negeri, penghasilan bulanan umumnya rakyatnya yang hanya cukup untuk hidup sebulan, dan rusaknya hutan-hutan karena dijadikan lahan sawit, inilah yang terjadi selama ini di Indonesia. Kenyataan perih yang tidak disadari semua rakyatnya.
Itulah sebab-sebabnya, saya berpikir Indonesia sebaiknya segera menjadi seperti Eropa. Kawasan yang terdiri dari banyak negara yang berdasarkan suku. Aceh umpamanya sepeti Spanyol, Batak umpamanya Jerman, Minang umpamanya Portugal, Minahasa umpamanya Polandia, dan Gorontalo umpamanya Belarus. Setelah semua suku berjaya dengan negara barunya masing-masing, 30 tahun kemudian barulah semua suku itu nanti bersatu lagi dalam satu perkumpulan yang bernama perserikatan nusantara. Terilhami dari perserikatan Eropa. Tidak harus persis seperti perserikatan Eropa, tapi setidaknya mirip pengurusannya. Didasari keadilan. Walau sebanyak apapun perbedaan jumlah masing-masing sukunya.
Dengan begini … Madura untung, Bugis untung, Melayu untung, dan semua suku lain untung seuntung untungnya, alias untung besar. Bahkan, suku terbesar tetap untung karena sudah pasti berkuasa di wilayahnya sendiri. Setelah puas puluhan tahun menikmati kekuasaan di wilayah sebesar Indonesia, di semua daerah jajahannya. Inilah pikiran yang membuat semua musuh politik saya gencar menyerang saya selama ini, bertahun-tahun, bahkan sanggup “membunuh” saya dan keluarga saya. ***

Penulis adalah seorang kapitalis humanis.
*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.







