Kerja Sama Riset Kelautan Indonesia-China Torehkan Pencapaian Baru

Kerja Sama Riset Kelautan Indonesia-China Torehkan Pencapaian Baru
Foto yang diabadikan pada 8 September 2025 ini, menunjukkan Rafidha Dh Ahmad Opier, mahasiswa doktoral di Ocean University of China yang juga merupakan staf Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia (RI), mengunjungi Pameran Maritim Asia Timur (East Asia Marine Expo) yang digelar di Qingdao, Provinsi Shandong, China timur. (F. Xinhua)

JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) – Kerja sama riset kelautan antara Indonesia dan China, melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia (RI) dan Institut Oseanologi Akademi Ilmu Pengetahuan China (Institute of Oceanology Chinese Academy of Sciences/ IOCAS), berhasil mengangkat mooring laut dalam (deep sea) berfrekuensi tinggi dalam ekspedisi ilmiah, yang baru-baru ini dilakukan di wilayah timur Indonesia.

BRIN menyebut pencapaian itu sebagai tonggak sejarah baru, dalam riset kelautan Indonesia. Pengangkatan mooring ini, merupakan bagian dari ekspedisi ilmiah Indonesia Maritime and Pacific Ocean Longterm Scientific Expedition (IMPOLSE) 2025, yang berlangsung dari 25 November dan dijadwalkan berakhir pada 30 Desember 2025.

Ekspedisi tahun ini, merupakan edisi kedelapan dari kolaborasi antara BRIN dan IOCAS. Mooring berfrekuensi tinggi yang diangkat dalam ekspedisi tersebut, telah terpasang sejak November 2023 di tiga lokasi, yakni perairan utara Selat Lombok, Kanal Labani di Selat Makassar, serta bagian barat Laut Maluku.

Berbeda dengan mooring generasi sebelumnya yang masih menggunakan frekuensi rendah, mooring berfrekuensi tinggi ini, mampu merekam variabilitas laut dengan tingkat ketelitian yang jauh lebih tinggi.

BRIN menyatakan, pencapaian ini menandai babak baru dalam observasi oseanografi nasional dengan resolusi waktu tinggi, khususnya untuk mempelajari fenomena dinamika laut cepat, seperti gelombang internal soliter (internal solitary wave), yang selama ini sulit untuk diamati secara detail menggunakan instrumen konvensional.

“Berdasarkan data awal di Laut Maluku, amplitudo gelombang internal soliter yang sebelumnya diperkirakan berkisar antara 40 hingga 80 meter dari citra satelit, ternyata dapat mencapai lebih dari 100 Meter menurut data mooring. Nilai ini sebanding dengan amplitudo maksimum yang teramati di Selat Lombok,” ujar koordinator kerja sama IMPOLSE dari BRIN, Adi Purwandana, dalam keterangan resmi pada Senin (22/12/2025).

Ekspedisi ini terdiri atas dua etape. Etape pertama difokuskan pada pengangkatan mooring, sedangkan etape kedua melanjutkan pengambilan data di bagian timur Laut Maluku dan Celah Lifamatola. Kegiatan tersebut dilengkapi dengan pengukuran menggunakan Vertical Microstructure Profiler (VMP) dan Conductivity Temperature Depth (CTD).

Penggunaan VMP ini juga menjadi satu-satunya instrumen sejenis di Asia Tenggara. Kolaborasi riset ini turut mengintegrasikan kajian lintas disiplin, termasuk penelitian mikroplastik, biofouling, serta mikrobiologi degradasi mikroplastik.

Kerja sama riset ini diharapkan dapat menghasilkan data observasi laut dalam beresolusi tinggi yang menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan ilmu kelautan, pemodelan iklim, serta pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan di Indonesia dan kawasan Asia. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Jumat Curhat Polres Natuna dan PWI: Menyapa Nelayan Sepempang, Menjalin Keakraban di Tepi Laut

Mengintip Penampakan Dugong di Dekat Terumbu Karang Laut China Selatan

Ayo Majukan Maritim Indonesia! BP Batam Ajak Mahasiswa Jadi Bagian Transformasi Industri Laut

Bakamla Perkuat Benteng Maritim Natuna, Cen Sui Lan: Daerah Siap Berkolaborasi dengan Rakyat Jaga Kedaulatan Laut

Tahap Kedua Ladang Gas Lepas Pantai Terbesar di Laut China Selatan Mulai Beroperasi

Bupati Natuna Cen Sui Lan: Jaga Laut Kita Bersama Lanal Ranai

Anjungan Minyak Lepas Pantai Baru Sukses Dipasang di Laut China Selatan

Benchmark Pengelolaan Kawasan, BP Batam Terima Kunjungan Dirjen Kelautan dan Perikanan

Tahap Kedua Ladang Gas Lepas Pantai Terbesar di Laut China Selatan Mulai Beroperasi