WASHINGTON (Kepri.co.id – Xinhua) – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Jumat (3/10/2025) meminta Israel segera menghentikan pengeboman di Gaza, beberapa jam setelah Hamas, menyatakan, pada prinsipnya menyetujui pembebasan para sandera.
Sebelumnya pada Jumat (3/10/2025) yang sama, Trump menetapkan tenggat waktu Minggu (5/10/2025) pukul 18.00 EDT (Senin (6/10/2025) pukul 05.00 WIB), bagi Hamas untuk menerima “rencana 20 poin” yang dia usulkan, guna mengakhiri konflik di Gaza dan membangun kembali wilayah kantong tersebut, seraya memperingatkan, jika Hamas tidak menerima rencana ini, “segala neraka” akan melanda kelompok itu.
Hamas pun kemudian mengumumkan, pihaknya telah menyerahkan tanggapan kepada para mediator regional dan internasional, yang menyatakan, kelompok itu pada dasarnya setuju membebaskan semua sandera Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sesuai kerangka pertukaran yang dijabarkan dalam rencana tersebut. Kelompok itu menyatakan siap, untuk segera memulai negosiasi melalui mediator terkait rincian implementasinya.
Dalam sebuah pernyataan, Hamas juga menyatakan, akan menyerahkan pemerintahan Gaza kepada sebuah badan Palestina yang terdiri dari teknokrat independen dan didukung negara-negara Arab dan Islam.
Kelompok itu menyatakan menghargai upaya negara-negara Arab, Islam, internasional, dan juga AS untuk mengakhiri konflik, memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan, mencegah relokasi warga Palestina, dan menolak pendudukan kembali Gaza. Isu-isu lain yang diangkat dalam proposal AS terkait masa depan Gaza dan hak-hak rakyat Palestina secara lebih luas, akan dibahas dalam kerangka kolektif Palestina, sesuai hukum dan resolusi internasional yang berlaku, kata pernyataan Hamas itu.
Rencana yang diusulkan AS tersebut, mencakup kesepakatan gencatan senjata yang ditukar dengan pembebasan sandera, penarikan pasukan Israel secara bertahap, dan pengawasan internasional terhadap rekonstruksi serta pemerintahan Gaza pascakonflik.
Berdasarkan ketentuan gencatan senjata tersebut, Israel akan menghentikan operasi militer dan mundur ke garis yang disepakati. Dalam waktu 72 jam setelah Israel secara terbuka menerima perjanjian tersebut, Hamas harus memulangkan semua sandera, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Sebagai imbalannya, Israel berjanji akan membebaskan tawanan dan narapidana tertentu, sedangkan anggota Hamas yang telah dilucuti senjatanya dan berkomitmen hidup berdampingan secara damai akan diberi amnesti atau ke luar dari Gaza dengan aman. (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Kelaparan Landa Gaza Seiring Memburuknya Konflik Israel-Palestina
Israel Setujui Masuknya Barang Secara Terbatas ke Gaza di Tengah Krisis Kelaparan
Protes Kelaparan di Gaza, Ribuan Orang Berunjuk Rasa di Ibu Kota Yaman
Kelaparan di Gaza Semakin Parah saat Kelangkaan Pangan Memburuk dan Bantuan Menyusut
Warga Gaza yang Kelaparan Antre Panjang Dapatkan Bantuan Makanan yang Terbatas
FAO Peringatkan Gaza Berisiko Tinggi Alami Kelaparan Akut
Warga Gaza Protes Perintah Evakuasi di Tengah Krisis Kemanusiaan yang Kian Parah







