Kelaparan di Gaza Semakin Parah saat Kelangkaan Pangan Memburuk dan Bantuan Menyusut

Kelaparan di Gaza Semakin Parah saat Kelangkaan Pangan Memburuk dan Bantuan Menyusut
Orang-orang menunggu untuk menerima bantuan makanan di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara pada 21 Agustus 2024. (F. Xinhua/Abdul Rahman Salama)

GAZA (Kepri.co.id – Xinhua) – Menurut Biro Pusat Statistik Palestina, indeks harga konsumen di Gaza meningkat tajam sebesar 283 persen sejak Oktober 2023 hingga akhir September 2024 akibat perang.

Pada Kamis (24/10/2024), Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/ FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyampaikan dalam platform media sosial X, dibandingkan tahun lalu, harga kentang di Gaza selatan dapat mencapai 5,7 kali lebih tinggi, sementara di Gaza utara harganya dapat mencapai 66,7 kali lebih mahal.

Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Gaza, Palestina. (XHTV)

“Pertikaian di Gaza sangat merusak lahan dan infrastruktur pertanian. Sehingga, kian menyulitkan keluarga-keluarga mengakses makanan bergizi. Meningkatnya inflasi pangan, memberikan dampak kepada semua warga di sana,” urai organisasi PBB tersebut.

Baca Juga: Warga Gaza yang Kelaparan Antre Panjang Dapatkan Bantuan Makanan yang Terbatas

“Seperti yang Anda lihat, toko roti sudah tidak beroperasi. Warga biasanya mendapatkan roti setiap hari, tetapi seperti yang Anda lihat, tidak ada tepung atau bahan dasar membuat roti,” ujar pengungsi Palestina asal Khan Younis, Khalid Al-Satari.

Toko roti itu biasanya mempekerjakan tujuh karyawan, tetapi karena penutupan tersebut, tidak ada lagi (yang bekerja).

“Saya belum menerima tepung selama enam bulan, dan saya tidak memiliki tepung, dan tidak ada tepung di toko roti (lainnya). Saya tidak tahu lagi cara mengelola urusan harian saya, jadi saya harus mendapatkan makanan dari tetangga atau warga lainnya,” ujar pengungsi Palestina asal Khan Younis, Khalid Al-Satari.

Baca Juga: Kisah Petani Gaza Tanam Sayuran di Atap Bangunan untuk Bantu Tetangganya yang Kelaparan

Ada kelaparan di utara, tetapi kini kelaparan mengancam selatan. Sayangnya, bahkan harga barang pun menjadi mahal, seperti satu siung bawang putih seharga sekitar tiga Dolar AS (1 Dolar AS = Rp15.629) dan harga bayam mencapai lebih dari satu setengah Dolar AS.

“Jika situasi ini terus berlanjut, kami akan menderita kelaparan yang nyata, terutama mengingat langkanya makanan dan tidak tersedia makanan di pasar,” ujar pengungsi Palestina asal Khan Younis, Khalid Al-Satari.

Banyak pengungsi di daerah kantong itu bertahan hidup, berkat bantuan yang diberikan organisasi-organisasi internasional dan bantuan saat perang antara Israel dan Hamas memasuki tahun kedua.

Baca Juga: Kelaparan Paksa Perempuan Gaza Jual Perhiasan Demi Makanan di Tengah Konflik Berkepanjangan

Namun, pasokan bantuan kerap kali dicuri oleh sejumlah pria bersenjata tak dikenal di jalan, yang menghubungkan perlintasan Kerem Shalom di Rafah dengan area-area lainnya di Jalur Gaza.

Di Gaza, lebih dari 1 juta orang tidak menerima jatah makanan pada Agustus 2024, dan jumlah itu naik menjadi lebih dari 1,4 juta pada September 2024, ujar Komisaris Jenderal Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA), Philippe Lazzarini di platform media sosial X pada awal Oktober 2024.

“Lebih dari 100.000 metrik ton pasokan makanan tertahan di luar Gaza akibat pembatasan akses, rasa tidak aman, jalanan yang hancur, serta rusaknya hukum dan ketertiban,” urai pejabat PBB tersebut.

Baca Juga: FAO Peringatkan Gaza Berisiko Tinggi Alami Kelaparan Akut

“Lagi-lagi, kelaparan menyebar di Gaza. Ini sepenuhnya merupakan ulah manusia,” kata Lazzarini. “Memilih perdamaian sebagai jalan untuk melangkah maju merupakan pilihan bagi mereka yang berani, inilah saatnya,” imbuhnya. (amr/ xinhua-news.com)