Pejabat Peringatkan Memburuknya Situasi Kesehatan dan Kemanusiaan di Gaza jika Blokade Israel Berlanjut

Pejabat Peringatkan Memburuknya Situasi Kesehatan dan Kemanusiaan di Gaza jika Blokade Israel Berlanjut
Warga Palestina terlihat di sebuah lokasi pusat distribusi bantuan, setelah serangan udara Israel di Gaza City pada 10 Mei 2025. (F. Xinhua/Mahmoud Zaki)

GAZA (Kepri.co.id – Xinhua) – Pejabat Palestina dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Minggu (11/5/2025), memperingatkan, situasi kesehatan dan kemanusiaan di Gaza dapat semakin memburuk, jika Israel terus melanjutkan blokadenya terhadap daerah kantong tersebut.

Sekitar 64 persen pasokan medis di Gaza telah habis, akibat blokade yang terus dilakukan Israel terhadap titik-titik perlintasan, ungkap otoritas kesehatan di Gaza pada Minggu.

“Indikator-indikator kekurangan obat memburuk dengan cepat, dengan 43 persen stok obat-obatan penting dalam kondisi kosong, naik 6 persen dibandingkan bulan lalu,” kata otoritas setempat dalam sebuah pernyataan pers.

Unit gawat darurat, ruang operasi, dan unit perawatan intensif terpaksa beroperasi dengan persediaan obat yang menipis, sementara jumlah pasien yang sakit kritis terus meningkat, kata mereka.

Lebih lanjut, mereka mengatakan, pasien gagal ginjal, tumor, penyakit darah, penyakit jantung, serta penyakit tidak menular menjadi kelompok yang paling terdampak.

“Pendudukan Israel menghalangi anak-anak ke luar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan, di saat Jalur Gaza mengalami kekurangan alat bantu setelah amputasi, seperti kaki atau tangan palsu, dan tidak ada lingkungan yang mendukung bagi para penyandang disabilitas,” ujar Bassam Zaqout, direktur bantuan medis di Gaza selatan.

Warga Palestina mengantre, untuk mendapatkan bantuan makanan gratis dari pusat distribusi makanan di Gaza City pada 9 Mei 2025. (F. Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Seraya mengungkapkan bahwa ada lebih dari 4.000 anak yang terdaftar dalam daftar tunggu operasi darurat, termasuk banyak kasus amputasi, Zaqout dalam pernyataan persnya, menyebut, gejala kelaparan akut mulai terlihat di kalangan anak-anak, yang berujung pada masalah kesehatan serius, termasuk menurunnya kekebalan tubuh, penyakit usus, dan dehidrasi mematikan.

Sementara itu, Abdel Salam, Direktur Rumah Sakit Mata di Gaza, mengatakan, kekurangan parah bahan habis pakai dan peralatan medis untuk operasi mata akan menyebabkan layanan operasi hampir lumpuh total, terutama untuk penyakit retina, retinopati diabetik, dan pendarahan dalam (internal bleeding).

Rumah sakit tersebut berencana, mengumumkan ketidakmampuannya menyediakan layanan bedah, kecuali otoritas-otoritas terkait dan organisasi internasional segera turun tangan, kata sang direktur.

Pada Minggu yang sama, Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) memperingatkan di platform media sosial X bahwa “semakin lama blokade berlanjut, semakin besar pula bahaya permanen yang mengancam banyak nyawa.” UNRWA menambahkan, ribuan truk milik mereka hingga saat ini masih tertahan untuk memasuki Gaza.

Israel menghentikan masuknya barang dan pasokan ke Gaza pada 2 Maret 2025, menyusul berakhirnya tahap pertama perjanjian gencatan senjata dengan Hamas pada Januari 2025 lalu.

Israel kembali melancarkan serangan terhadap Gaza pada 18 Maret 2025, yang, menurut data otoritas kesehatan di Gaza pada Minggu (11/5/2025), telah menyebabkan 2.720 warga Palestina tewas dan 7.513 orang lainnya luka-luka.

PBB telah berulang kali memperingatkan bencana kemanusiaan yang akan terjadi di Gaza, dan melaporkan meningkatnya tanda-tanda kelaparan akut, terutama di kalangan anak-anak.

Situasi kian memburuk, ketika organisasi bantuan pangan asal Amerika Serikat, World Central Kitchen, pada Rabu (7/5/2025) mengumumkan, mereka akan menghentikan operasi dapur umumnya di Gaza, karena menipisnya pasokan bantuan kemanusiaan, memaksa sebagian besar dapur umum di daerah kantong tersebut terpaksa ditutup akibat kehabisan stok.

Sementara itu, Amjad Shawa, direktur Jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat Palestina di Gaza, pada Rabu (7/5/2025), memperingatkan, penutupan dapur umum dapat semakin memperburuk kelaparan di Gaza.

“Dampak dari bencana kemanusiaan parah ini, akan sangat memengaruhi kesehatan dan kehidupan warga, khususnya anak-anak, perempuan, lansia, dan orang yang sakit,” ujar Shawa kepada Xinhua. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Warga Gaza Tolak Rencana Distribusi Bantuan AS-Israel, Serukan Peningkatan Peran PBB

Gaza Hadapi Kelaparan Setelah Toko Roti Tutup dan Bantuan Menipis

Kelaparan di Gaza Semakin Parah saat Kelangkaan Pangan Memburuk dan Bantuan Menyusut

Warga Gaza yang Kelaparan Antre Panjang Dapatkan Bantuan Makanan yang Terbatas

Kisah Petani Gaza Tanam Sayuran di Atap Bangunan untuk Bantu Tetangganya yang Kelaparan

Kelaparan Paksa Perempuan Gaza Jual Perhiasan Demi Makanan di Tengah Konflik Berkepanjangan

FAO Peringatkan Gaza Berisiko Tinggi Alami Kelaparan Akut

Penduduk Lokal Alami Kelaparan Akibat Konflik Berbulan-bulan di Gaza

Sistem Penyediaan Air Minum Kolaps, Warga Gaza “Hampir Mati Kehausan”

Sistem Layanan Kesehatan yang Hancur Akibat Serangan Israel Perparah Derita Pasien Gaza

Potret Timur Tengah: Pengungsi Palestina di Jalur Gaza Hadapi Kesulitan Tanpa Henti untuk Bertahan Hidup