“Mengutamakan Laba Daripada Manusia”, Sebabkan Masalah Kekerasan Senjata Api Berkepanjangan di AS

"Mengutamakan Laba Daripada Manusia", Sebabkan Masalah Kekerasan Senjata Api Berkepanjangan di AS
F. Xinhua

BEIJING (Kepri.co.id – Xinhua) – Kekerasan senjata api di Amerika Serikat (AS) meninggalkan dampak yang sangat buruk bagi kehidupan manusia.

Menurut Gun Violence Archive (GVA), setidaknya 655 kasus penembakan massal terjadi di AS sepanjang 2023. Kekerasan senjata api juga telah merenggut lebih dari 43.000 nyawa.

Data menunjukkan, semua jenis kekerasan dengan senjata api di AS mengalami peningkatan.

Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Beijing. (XHTV)

Menurut laporan survei yang dirilis di situs web Pew Research Center pada 28 Juni 2023, kekerasan senjata api diakui secara luas sebagai masalah nasional yang utama dan terus meningkat, dengan 58 persen responden mendukung undang-undang pengendalian senjata api yang lebih ketat.

Lebih dari 60 persen orang dewasa di AS meyakini, kekerasan senjata api merupakan masalah utama nasional yang dihadapi AS saat ini.

Komite Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyerukan kepada pemerintah AS, mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna secara efektif melindungi hak hidup masyarakat dan mencegah serta mengurangi insiden kekerasan senjata api.

Baca Juga: Peneliti Palestina Sebut Peran Mediasi AS Dalam Gencatan Senjata Gaza Diragukan

Meski demikian, para politisi AS justru mengabaikan seruan masyarakat internasional dan publik di dalam negeri yang menyuarakan pengendalian senjata api yang lebih ketat, hanya demi uang dan kepentingan politik.

Raksasa manufaktur senjata AS, Smith & Wesson Brands, tahun 2021 meraup setidaknya 125 juta Dolar AS (1 Dolar AS = Rp15.579) dari hasil penjualan senapan serbu (assault-style rifle) saja. Ini adalah model senjata yang kerap digunakan dalam aksi penembakan massal.

sekalipun dihadapkan pada tingginya frekuensi penembakan massal, kecil kemungkinan akan ada konsensus baru memberlakukan langkah-langkah pengendalian senjata api yang spesifik di negara itu.

Seorang kolumnis Al Jazeera, Belen Fernandez, berpendapat dalam artikelnya yang bertajuk “Kekerasan senjata api di AS: Kapitalisme merupakan biang keladinya” (U.S. gun violence: Capitalism is the culprit) bahwa AS “sepenuhnya menitikberatkan prinsip mengutamakan laba daripada manusia.”

Masalah kekerasan senjata api yang berlarut-larut, pada akhirnya meninggalkan dampak yang sangat buruk pada kehidupan masyarakat biasa. (hen/ xinhua-news.com)