Calypte dan Terragama Bangun PLTS 1,2 Gigawatts Diekspor ke Singapura

CEO PT Calypte Energy Indonesia,Iskandar Ismail dan CEO PT Terragama Hariara Energi, Elisabeth Sitanggang menandatangani MoU membangun proyek Batam Solar Garden 1,3 Gigawatts di Best Western Premier Panbil Batam, Jumat (21/10/2022). (F. asa)

BATAM (Kepri.co.id) – PT Calypte Energy Indonesia bekerja sama dengan PT Terragama Hariara Energi, menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/ MoU) pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan teknologi compressed storage energy system di Best Western Premier Panbil, Jumat (21/10/2022).

Kolaborasi Calypte dan Terragama ini, membuat proyek dengan tema “Batam Solar Garden 1,2 Gigawatts”. Proyek PLTS teknologi compressed storage energy, ini untuk memasok kebutuhan energi listrik Batam, Kepri dan sisanya diekspor ke Singapura melalui jaringan kabel laut.

Baca Juga: Energi Terbarukan PLTS Dimatangkan, BP Batam dan Kementerian ESDM Tinjau Ketahanan Energi Listrik

BACA JUGA:   Kenaikan Tarif Angkutan Udara dan Emas, Picu Inflasi Batam 0,47 Persen

“Pembangunan PLTS ini di tiga titik dengan luasan 1.050 hektare di Batam dan luar Batam. Pembangunan dimulai Januari 2024 dengan total investasi 1,3 miliar dolar Amerika atau setara Rp20,124 triliun,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Calypte Holding, Iskandar Ismail kepada wartawan.

CEO PT Calypte Energy Indonesia, Iskandar Ismail (kiri) menunjukkan MoU dengan Annica Holdings Limited Singapura di Best Western Premier Panbil Batam, Jumat (21/10/2022). (F. asa)

Ditanya kenapa lama, kata Iskandar, karena lahannya ada yang berbukit sehingga perlu pematangan, ada yang diakuisisi, dan sebagian menunggu proses pembebasan kehutanan.

Total tenaga kerja teknisi untuk PLTS 1,3 Gigawatts ini, kata Iskandar, sebanyak 2.000 orang diprioritaskan tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Baca Juga: Gesa PLTS Terapung, BP Batam dan Komite Keselamatan Bendungan Tinjau Kesiapan Waduk

BACA JUGA:   Pemko Batam Berduka, Istri Mantan Wako Batam Meninggal

Iskandar mengungkapkan, PLTS yang dibangun Calypte dan Terragama, memakai teknologi Belanda.

“Tenaga surya yang ditangkap melalui radiasi sinar matahari ini, disimpan dan dikompres seperti power bank. Sehingga, mampu memasok energi 24 jam. PLTS yang lain umumnya mampu memasok listrik 3-4 jam,” ungkap Iskandar.

Preskom PT Calypte Energy Indonesia, Randy Bimantoro Moeldoko, mengungkapkan bahwa PLTS merupakan kebutuhan listrik masa depan ramah lingkungan.

Sambutan Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko atas proyek Batam Solar Garden 1,2 Gigawatts.

Menurut putra mantan Panglima TNI, Jenderal (Purnawiran) Moeldoko ini, energi baru terbarukan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis energi fosil ke depan.

Hal ini juga diakui CEO PT Terragama Hariara Energi, Elisabeth Sitanggang, bahwa pihaknya sudah mengembangkan PLTS di Kalimantan, Kabupaten Tanjungbalai Asahan, Sumut.

BACA JUGA:   Menparekraf Resmikan Penyengat 75 Desa Wisata Terbaik Indonesia

“Kami sangat bangga berkolaborasi dengan Calypte mengembangkan PLTS di Batam. Bumi harus kita rawat dengan energi yang ramah lingkungan. Jawabannya adalah PLTS ini,” ujar Elisabeth

Pembeli Listrik dari Annica Holdings Limited Singapura

Selain penandatanganan MoU kolaborasi antara Calypte dengan Terragama, juga dilakukan penandatanganan MoU antara Calypte dengan Annica Holdings Limited Singapura.

“Annica adalah stakeholder pembeli energi kami nanti, untuk Singapura. Sedangkan untuk kebutuhan lokal, pembeli energi kami dari PLN. Untuk harga, mengikuti regulasi yang ada,” ungkap Iskandar. (asa)