SMSI dan MA Kerja Sama Cetak Mediator Bersertifikat, Meniti Jalan Damai di Luar Sidang

SMSI dan MA Kerja Sama Cetak Mediator Bersertifikat, Meniti Jalan Damai di Luar Sidang
Ketua Umum SMSI, Firdaus (dua kiri) mendengarkan penjelasan deretan puncak pimpinan Mahkamah Agung (MA) dari masa ke masa di Gedung MA Jakarta, Selasa (17/6/2026). (Sumber: SMSI Kepri)

JAKARTA (Kepri.co.id) – Mahkamah Agung (MA) kedatangan tamu tak biasa. Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menyambangi Gedung MA pada Selasa (17/6/2026).

Di hadapan Ketua MA, Prof Dr Sunarto SH MH, para bos media digital ini tidak sedang memprotes sengketa pemberitaan. Mereka datang membawa proposal kerja sama yang ambisius: mencetak ribuan mediator bersertifikat dari kalangan pers di seluruh daerah.

Tujuannya mulia, yakni menyebarkan virus damai demi memangkas tumpukan perkara yang saban tahun menyelimuti meja para hakim agung.

Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) beraudiensi dengan Mahkamah Agung RI di Gedung MA Jakarta, Selasa 17/06/2026 dan diterima langsung oleh Ketua MA, Prof Dr Sunarto SH MH.

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari surat resmi Nomor 0180/SMSI-Pusat/VI/2026 tertanggal 15 Juni 2026 tentang pengajuan kerja sama kedua belah pihak melalui Program Pendidikan dan Pelatihan Mediator Bersertifikat, guna memperkuat budaya mediasi nasional dan mengurangi penumpukan perkara di pengadilan.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum SMSI, Firdaus, menyebut, media siber punya peran strategis menjembatani informasi hukum ke masyarakat.

“SMSI berinisiatif agar perwakilan-perwakilan SMSI di daerah, dapat menjadi bagian dari program mediator yang dicanangkan MA,” ujarnya.

SMSI melihat mediasi sebagai solusi strategis, untuk membangun budaya penyelesaian konflik yang lebih efektif, cepat, dan berorientasi pada perdamaian.

Untuk itu, Firdaus, menyatakan, pihaknya siap mendukung visi Mahkamah Agung dalam membangun budaya mediasi di Indonesia.

“Kami ingin menyambut visi Ketua MA, Prof Sunarto, untuk membumikan budaya mediasi ini di Indonesia. Melalui jaringan 3.181 perusahaan media siber di 35 provinsi, SMSI berkomitmen menjadi motor edukasi public, agar masyarakat memahami bahwa penyelesaian sengketa tidak harus berakhir dengan menang atau kalah, tetapi dapat ditempuh melalui jalan damai dan musyawarah,” tegasnya.

Firdaus menegaskan, pelatihan mediator yang diusulkan SMSI akan mengadopsi standar etika internasional, yang tertuang dalam Bangalore Principles of Judicial Conduct serta kode etik nasional Sapta Karsa Hutama.

Nilai-nilai seperti independensi, integritas, ketidakberpihakan, kesetaraan, kepatutan, serta kompetensi akan menjadi fondasi utama dalam pembentukan mediator profesional dan kredibel.

Pada kesempatan yang sama, Ketua MA Sunarto menekankan pentingnya peningkatan literasi hukum masyarakat, khususnya terkait pemahaman terhadap mediasi dan tujuan utama proses peradilan.

Menurutnya, masih banyak pihak yang datang ke pengadilan dengan tujuan mencari kemenangan semata, bukan mencari keadilan yang sesungguhnya. Kondisi tersebut, turut memicu meningkatnya jumlah perkara yang harus ditangani lembaga peradilan setiap tahun.

Sunarto mencontohkan keberhasilan sistem mediasi di New South Wales (NSW), Australia. Di wilayah tersebut, fasilitas pengadilan dirancang mendukung proses mediasi secara maksimal, mulai dari ruang negosiasi hingga ruang mediasi yang representatif.

Hasilnya, sekitar 80 persen sengketa hukum di NSW dapat diselesaikan melalui mediasi tanpa harus berlanjut ke persidangan. Mediasi pun menjadi budaya utama dalam penyelesaian konflik di masyarakat.

Turut mendampingi Ketua MA, Hakim Agung Heru Pramono; Dr Adi Julia Cakrawala SH MHum; Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Didik Trisulistia SH MH, Hakim Tinggi Asisten Koordinator Ketua MA RI; serta Edi Hudiata, SH MH, Hakim Yustisial MA RI.

Dari SMSI mendampingi Ketua Umum di antaranya, Taufiqurohman AK selaku Wakil Ketua Dewan Penasihat; Dr Hendri Yanto Attan, Wakil Sekjen; Iwan Jamaluddin, Bendahara SMSI Pusat; dr Nishal Dilon, Direktur Media Crisis Center; dan Eman Sulaiman Humas SMSI.

Fokus Kerja Sama

Dalam surat yang diajukan kepada Mahkamah Agung, SMSI menawarkan tiga fokus utama kerja sama, yakni:

  1. Menyusun kurikulum pelatihan mediator yang komprehensif dan relevan dengan tantangan sengketa di era digital.
  2. Mengembangkan sistem sertifikasi yang memenuhi standar Mahkamah Agung, sehingga lulusannya diakui sebagai mediator bersertifikat.
  3. Melaksanakan pelatihan secara berkala di berbagai daerah untuk menjangkau kalangan media, praktisi hukum, akademisi, hingga tokoh masyarakat.

Melalui kolaborasi ini, SMSI optimistis, budaya mediasi dapat semakin berkembang di Indonesia dan menjadi solusi efektif dalam mengurangi beban peradilan.

Selain mempercepat penyelesaian sengketa, gerakan ini, diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat dalam menyelesaikan konflik, dari pola menang-kalah di ruang sidang menjadi budaya dialog, musyawarah, dan perdamaian yang berkelanjutan. (asa)

BERITA TERKAIT:

SMSI dan ABPEDNAS Sepakat Kawal Program Jaga Desa dan Jaga MBG, Melalui Kolaborasi Informasi dan Pengawasan Digital

SMSI Rumuskan Sikap Kebangsaan, Teguhkan Peran Pers untuk Persatuan Bangsa

Harapan SMSI Tahun 2026: Podcast Menjadi Institusi PersĀ 

Kabar Baik untuk Hukum dan Pers: Kejaksaan RI dan Dewan Pers Sepakat Bersinergi Wujudkan Penegakan Hukum Sekaligus Jaga Kemerdekaan Pers

SMSI Sampaikan Apresiasi Atas Satyalancana Wira Karya untuk Kapolda Kepri dari Presiden RI

Batam Perkuat Citra Ramah Investasi, Kanwil Imigrasi Komitmen Benahi Layanan TPI, SMSI Kepri Siap Dukung

SMSI Gelar Seminar Provinsi, Pengusulan RM Margono Djojohadikoesoemo (Kakek Prabowo) Sebagai Pahlawan Nasional di Undip

SMSI dan Polri Perkuat Sinergi, Bangun Media Siber Profesional untuk Negeri

KPK Kunjungi Kantor Pusat SMSI, Jalin Kerja Sama Pencegahan Korupsi di Sektor Usaha Media Siber

Prabowo Subianto Terima Pin Emas dari SMSI atas Dedikasinya Jaga Demokrasi