JAKARTA (Kepri.co.id Xinhua) – Portland Trail Blazers memulai pramusim NBA 2025 dengan satu tujuan, yakni mencari arah baru, sekaligus mungkin menemukan bintang besar berikutnya.
Melalui empat pertandingan uji coba, rookie asal China berusia 20 tahun, Yang Hansen, menjadi pusat perhatian berkat performa yang penuh kejutan. Mulai dari momen spektakuler yang pantas masuk cuplikan highlight hingga kesalahan wajar seorang pemain muda yang masih beradaptasi dengan ritme NBA.
Bagi Portland, pramusim adalah ajang untuk bereksperimen. Bagi Yang, ini adalah perkenalannya dengan dunia basket tertinggi. Sejauh ini, kesan pertamanya cukup mencuri perhatian.
AWAL YANG GOYAH DI SAN FRANCISCO
Debut NBA Yang melawan Golden State Warriors pada 8 Oktober 2025 berjalan jauh dari sempurna. Dia tampak terburu-buru dan ragu-ragu, hanya mencetak empat poin dengan empat turnover sebelum harus ke luar karena enam pelanggaran alias foul out dalam 21 menit bermain.
Pelatih Chauncey Billups tak kehilangan keyakinan. “Proses belajar memang terjadi, dan akan terus terjadi. Dia akan bermain lebih baik di beberapa pertandingan lainnya. Namun, menurut saya itu sudah cukup,” katanya sebagaimana dikutip China Daily usai laga pramusim perdana itu.
Dan benar saja, hasilnya langsung terlihat.
BANGKIT DI SACRAMENTO
Dua malam kemudian pada 10 Oktober saat bertandang ke kandang Sacramento Kings, Yang tampil luar biasa. Terutama di kuarter ketiga ketika dalam tempo lima menit dia memukau penonton dengan permainan penuh percaya diri.
Yang melesakkan dua tembakan 3 poin beruntun, menggiring bola dari ujung ke ujung yang diakhiri dengan layup berputar, umpan pantul brilian untuk Shaedon Sharpe, dan dua blok berturut-turut.
Saat buzzer tanda akhir pertandingan berbunyi, Yang menutup laga dengan 16 poin, empat rebound, dan tiga blok hanya dalam 17 menit, sebuah transformasi total dari debutnya yang kikuk.
KEMBALI KE REALITA
Namun, dua pertandingan berikutnya, pada 14 Oktober 2025 versus Warriors dan 16 Oktober 2025 melawan Utah Jazz, mengingatkan semua orang bahwa perkembangan tidak selalu mulus. Masalah klasik sebagai rookie muncul lagi, diwarnai pelanggaran, turnover, dan kesalahan posisi bertahan.
Menghadapi Warriors untuk kedua kalinya, Yang menyumbang sembilan poin, satu assist, dan satu blok dalam 20 menit. Melawan Jazz, dia hanya dapat membuat tiga poin dan satu assist dalam 15 menit sebelum kembali dikeluarkan karena foul out. Rookie yang biasanya ceria itu pun terlihat menangis di bangku cadangan.
“Saya merasa emosional karena saya tidak bermain cukup baik,” katanya kepada China Daily usai pertandingan melawan Jazz, laga pramusim terakhir. “Bahkan saat itu, saya masih bisa mendengar para penggemar di sebelah kiri saya berteriak dengan keras untuk saya. Saya benar-benar bersyukur atas dukungan itu, tetapi di sisi lain saya merasa telah mengecewakan mereka.”

KEKUATAN DAN POTENSI
Naik turunnya performa Yang justru menegaskan alasan Portland jatuh hati padanya di malam Draft NBA.
Sentuhan tembakannya istimewa, seorang pemain setinggi 2 meter lebih yang mampu menembak dari luar garis 3 poin dengan percaya diri. Kemampuannya membuka ruang dan menjaga spacing memberi dimensi baru pada serangan Blazers, sesuatu yang jarang dimiliki center tradisional.
Selain itu, kemampuan passing dan pemahaman taktiknya juga mencolok. Terkadang, Yang tampak lebih seperti forward kreator dibanding center murni, dengan visi dan pengambilan keputusan cepat yang mengalir alami. Dan, yang paling mencolok, dia punya ketangguhan mental. Setelah debut yang sulit, dia bangkit dengan tenang, ciri khas pemain profesional sejati.
MASIH BANYAK “PR”
Seperti banyak rookie lainnya, Yang masih dalam tahap belajar. Tantangan terbesarnya saat ini adalah bertahan tanpa cepat terkena pelanggaran. Antusiasmenya untuk memblok setiap tembakan kerap berujung pada masalah pelanggaran dini, dua kali dirinya foul out hanya dalam empat pertandingan.
Dia rata-rata melakukan 5,3 pelanggaran per pertandingan saat berusaha menjaga pertahanan, sering kali kesulitan dengan rotasi yang lambat, posisi yang tidak stabil, dan insting pertahanan yang terbentuk dari pengalamannya di Chinese Basketball Association (CBA), sebuah kebiasaan yang tidak selalu cocok dengan aturan NBA.
Turnover juga menjadi pekerjaan rumah yang harus dibereskannya. Kreativitasnya terkadang berbalik arah, misalnya umpan berisiko atau dribble yang kehilangan kontrol di bawah tekanan. Yang disarankan untuk lebih menyederhanakan permainannya dan tidak mencoba terlalu banyak.
Semua ini adalah bagian alami dari proses adaptasi seorang big man muda di NBA.

BERSIAP UNTUK MUSIM REGULER
Bagi seorang Yang Hansen, pekerjaan sesungguhnya baru saja dimulai.
Saat Portland Trail Blazers bersiap untuk pertandingan pembuka musim reguler melawan Minnesota Timberwolves di Moda Center pada Rabu (22/10/2025) mendatang, rookie ini telah menetapkan prioritasnya, yakni latihan yang lebih intens di gym, insting pertahanan yang lebih tajam, dan, mungkin sama pentingnya, lebih banyak pelajaran bahasa Inggris.
“Masih banyak yang harus saya kejar, terutama dalam hal pertarungan fisik dan kesadaran pertahanan,” aku Yang kepada China Daily setelah penampilan terakhirnya di pramusim. “Beberapa kebiasaan pertahanan saya tidak efektif di NBA. Saya harus menyesuaikan diri, mengikuti ritme tim, dan benar-benar memahami sistem kami di kedua ujung lapangan.”
Center muda ini juga tahu bahwa kemajuan tidak hanya datang dari latihan. “Untuk bersiap menghadapi musim reguler, saya harus makan dengan benar, minum dengan benar, dan tidur dengan benar,” katanya sembari tersenyum.
“Dan, tentu saja, saya harus terus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya secepat mungkin.” (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Yang Hansen: Dari Pilihan Draft yang Mengejutkan Menjadi Eksperimen Terberani NBA
Kembalinya NBA ke China: Dua Malam, Satu Kota dan Sebuah Awal Baru di Makau
Dari Persaingan Sneaker hingga Kuil Shaolin: Bintang NBA Bangkitkan Lagi Hubungan dengan China







