Rahasia Harmoni Alam Dalam Tarian Bedhaya Ketawang

Setyasih Harini, Dosen Universitas Slamet Riyadi. (F. Dok Harini)

Penulis: Setyasih Harini
Dosen Universitas Slamet Riyadi

TARI Bedhaya Ketawang, pusaka sakral dari Keraton Kasunanan Surakarta, adalah warisan budaya yang mengandung nilai spiritual dan kosmis sangat dalam, mencerminkan falsafah Jawa tentang keseimbangan antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta).

Berawal dari pengalaman mistis Sultan Agung pada abad ke-17, saat ia mendengar senandung merdu dari langit selama laku semedi, tarian ini diciptakan sebagai lambang kesucian yang menjembatani dunia fisik dan gaib, di mana sembilan penari wanita melambangkan Nawasanga—sembilan dewa penjaga arah angin—yang menjaga harmoni alam.
Setiap pola lantai, seperti rakit lajur yang membagi tubuh manusia menjadi kepala, badan, dan anggota, mengajarkan bahwa kehidupan harus selaras dengan ritme alam, menghindari ketidakseimbangan yang mengakibatkan kekacauan batin dan eksternal.

Pentingnya keseimbangan ini semakin relevan di era modern, di mana eksploitasi alam dan pergolakan batin manusia mengancam kelestarian. Tari Bedhaya Ketawang mengingatkan manunggaling kawula Gusti—penyatuan hamba dengan Tuhan—serta sangkan paraning dumadi, urgensi memahami asal-usul dan tujuan hidup untuk mencapai harmoni dengan alam semesta yang penuh bintang, air, api, dan angin.

Melalui gerakan lembut yang simbolis, tarian ini menekankan prihatin (prihatin hidup) dan siklus kehidupan dari lahir hingga mati, mengajak kita merefleksikan bagaimana ketidakpatuhan terhadap norma alam berujung pada kehancuran, sehingga pelestariannya menjadi kewajiban untuk membangun masyarakat sadar kosmik.

Berawal dari pengalaman mistis Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram pada abad ke-17 (1613-1645), yang sedang menjalani laku semedi atau tapa di tengah keheningan alam, tiba-tiba mendengar alunan senandung merdu—disebut tetembangan—berasal dari arah tawang atau langit, membuatnya terpesona hingga memanggil empat pengawal setianya seperti Panembahan Purbaya, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-Alap untuk menyaksikan kesaksian batinnya.

Pengalaman gaib ini, yang diyakini sebagai wahyu spiritual dari alam ketuhanan, mengilhami Sultan Agung menciptakan Tari Bedhaya Ketawang sebagai bentuk penghormatan dan jembatan antara dunia manusia dengan yang Ilahi, sekaligus merefleksikan falsafah Jawa tentang harmoni kosmik yang menjaga keseimbangan alam semesta.

Kisah ini tidak hanya menjadi asal-usul tarian sakral Keraton Surakarta, tapi juga pengingat bahwa kontak mistis dengan alam, dapat melahirkan warisan budaya abadi yang relevan hingga kini.

Sembilan penari wanita dalam Tari Bedhaya Ketawang bukan sekadar simbol Nawasanga—sembilan dewa penjaga arah angin yang menjaga harmoni alam semesta—melainkan perwujudan kuat peran perempuan sebagai penjaga keseimbangan kosmik dalam falsafah Jawa.

Dari perspektif feminis, pemilihan penari perawan suci ini menegaskan bahwa perempuan, sebagai pengemban kehidupan dan intuisi alamiah, memiliki mandat spiritual untuk memediasi hubungan manusia dengan alam, melawan narasi patriarkal yang meremehkan mereka sebagai objek ritual semata, dan justru menjadikan mereka agen utama pelestarian ekosistem melalui kesucian batin yang mencerminkan siklus alam seperti lahir, tumbuh, dan kembali ke sumber.

Dalam tradisi sakralnya, penari Tari Bedhaya Ketawang mengenakan busana dodot bangun tulak berwarna hijau-biru tua dengan lapisan putih melati, di mana hijau melambangkan kemakmuran, ketentraman, dan kesuburan alam, biru tua sebagai simbol keluhuran budi, keimanan, serta keteguhan hati dalam pengabdian, sementara putih mewakili daya hidup abadi dari Tuhan Yang Maha Esa—keseluruhan menciptakan harmoni visual yang merefleksikan keseimbangan kosmik.

Kini, di tengah dinamika modern, durasi pertunjukan dipangkas drastis dari 2,5 jam menjadi hanya 30-60 menit untuk menyesuaikan acara publik, ketentuan penari melonggar dengan izinkan partisipasi dari luar keraton. Bahkan. saat haid setelah ritual meminta izin kepada Kanjeng Ratu Kidul, serta penonton awam boleh merekam untuk dokumentasi, menunjukkan adaptasi yang meski menjaga eksistensi namun berisiko mengikis kekhusukan ritual asli demi komoditas budaya.

Di tengah gempuran seni modern impor seperti K-Pop dan konten TikTok yang mendominasi layar generasi Z, eksistensi Tari Bedhaya Ketawang menuntut revitalisasi nilai filosofisnya, agar tetap relevan sebagai identitas budaya Jawa yang kokoh.

Nilai-nilai seperti sangkan paraning dumadi—pemahaman asal-usul dan tujuan hidup—serta manunggaling kawula Gusti yang tercermin dalam pola lantai iring-iringan dan rakit tiga-tiga, harus dikemas ulang melalui pendekatan digital untuk, menarik minat anak muda yang haus konten instan.

Tanpa revitalisasi ini, warisan sakral Keraton Surakarta berisiko tenggelam, hilang identitas nusantara di tengah globalisasi yang mengikis akar budaya lokal.

Edukasi terhadap generasi Z menjadi kunci utama, dengan mengintegrasikan Bedhaya Ketawang ke dalam kurikulum sekolah, workshop VR interaktif, dan konten media sosial yang menceritakan harmoni kosmiknya secara relatable. Sehingga, mereka (generasi Z) tak hanya hafal lirik lagu asing, tapi juga cinta mendalam pada seni leluhur.

Program seperti festival hybrid di kampus atau kolaborasi dengan influencer budaya, akan membangkitkan rasa bangga, membuktikan bahwa filosofi Jawa klasik relevan untuk mengatasi krisis identitas digital era mereka.

Hanya dengan cinta budaya nusantara yang ditanamkan sejak dini, generasi Z bisa menjadi penjaga eksistensi Bedhaya Ketawang, menjadikannya senjata diplomasi budaya Indonesia di panggung dunia. ***

***) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.