BATAM (Kepri.co.id) – Menjalani masa pidana bukan hanya tentang memenuhi hukuman, tetapi juga kesempatan memperbaiki diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik, setelah kembali ke tengah masyarakat.
Semangat itulah yang menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Batam, Selasa (8/9/2026).
Digelar di Masjid At-Taubah Lapas Perempuan Kelas IIB Batam, kegiatan tersebut diarahkan sebagai bagian dari pembinaan kepribadian warga binaan pemasyarakatan (WBP), khususnya dalam memperkuat nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak.
Peringatan Maulid Nabi diikuti Kalapas Perempuan Kelas IIB Batam Nurul Kiptiyah AMd IP SH, jajaran pejabat struktural, jabatan fungsional tertentu (JFT), jabatan fungsional umum (JFU), staf, serta para warga binaan.
Bagi warga binaan, momentum tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan peringatan semata. Nilai-nilai yang terkandung dalam keteladanan Nabi Muhammad SAW, diharapkan dapat menjadi pegangan dalam proses perubahan diri selama menjalani pembinaan.
Kalapas Perempuan Kelas IIB Batam, Nurul Kiptiyah AMd IP SH, mengatakan, keteladanan Rasulullah SAW penting untuk dikenalkan kepada warga binaan, sebagai bagian dari upaya membangun sikap dan perilaku yang lebih baik.
”Melalui kegiatan ini, WBP diajak mengenal dan meneladani akhlak serta perilaku Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan kepribadian memiliki peran penting membantu warga binaan, menemukan kembali nilai-nilai positif dalam dirinya.
”Masa pembinaan diharapkan menjadi ruang untuk melakukan refleksi, memperbaiki kesalahan, sekaligus membangun kesiapan menghadapi kehidupan setelah bebas,” ujar Kalapas.
Nilai kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan mengendalikan diri menjadi bagian dari keteladanan Rasulullah SAW, yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
”Nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW diharapkan dapat menjadi motivasi bagi WBP, dalam menjalani proses pembinaan dan mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah masyarakat,” kata Nurul.
Dengan demikian, pembinaan di Lapas tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kewajiban selama menjalani masa pidana, tetapi juga pada proses perubahan pribadi.
”Harapannya, warga binaan ke luar dari Lapas dengan bekal moral dan spiritual yang lebih kuat, serta memiliki kemauan untuk menjalani kehidupan secara lebih bertanggung jawab,” ujar Nurul.
Nurul menambahkan, penguatan spiritual menjadi salah satu bagian penting dalam menciptakan lingkungan pembinaan yang mendukung perubahan positif warga binaan.
Melalui pembinaan kepribadian yang dilakukan secara berkelanjutan, Lapas Perempuan Batam, ujar Nurul, berupaya menciptakan lingkungan yang religius, aman, tertib, dan kondusif, sekaligus mendorong warga binaan memiliki harapan baru, ketika nantinya kembali ke keluarga dan lingkungan masyarakat.
”Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan bukan hanya diukur dari selesai masa hukuman, tetapi juga sejauh mana WBP mampu mengambil pelajaran, memperbaiki diri, dan memilih kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat,” pungkas Kalapas. (asa)
BERITA TERKAIT:
Lapas Perempuan Batam Tempa Mental dan Fisik Warga Binaan, juga Dekat pada Pencipta
Nurul Kiptiyah Pimpin Lapas Perempuan Batam, Siap Lanjutkan Program Positif
80 Warga Binaan Lapas Perempuan Pembinaan Spritual Pengajian
Pengajian Rutin, Lapas Perempuan Batam Terima Kunjungan Kemenag







