TEHERAN (Kepri.co.id – Xinhua) – Seorang penasihat senior pemimpin tertinggi Iran pada Sabtu (27/6/2026) mengatakan, Amerika Serikat (AS) telah melanggar nota kesepahaman (memorandum of understanding/ MoU) perdamaian yang baru saja ditandatangani antara Teheran dan Washington dengan terus menciptakan ketegangan di Selat Hormuz.
Mohsen Rezaei, yang juga mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/ IRGC) Iran, menyampaikan, pernyataan tersebut melalui unggahan di platform media sosial X beberapa jam setelah AS melancarkan serangan udara terhadap wilayah pesisir selatan Iran.
Dia mengatakan, “AS, dengan mendukung tindakan pasukan proksinya (Israel) di kawasan dan terus memicu ketegangan di Selat Hormuz, telah melanggar paragraf pertama dan kelima MoU perdamaian.”
Berdasarkan paragraf pertama MoU yang ditandatangani pada 18 Juni 2026, Iran, AS, beserta sekutu masing-masing menyatakan, penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon, serta berkomitmen untuk tidak memulai perang maupun operasi militer terhadap satu sama lain.
Sementara itu, sesuai paragraf kelima, Iran bertanggung jawab mengatur jalur aman bagi kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz selama 60 hari tanpa biaya.
Rezaei memperingatkan, Iran akan memberikan respons “cepat dan menghancurkan” terhadap setiap pelanggaran atas ketentuan dalam MoU tersebut.
Dalam unggahan lain di platform X pada Sabtu (27/6/2026), Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan, AS kembali menyerang Iran di tengah berlangsungnya perundingan.
Komando Pusat (Central Command/ CENTCOM) AS menyatakan melalui platform X pada Sabtu (27/6/2026) dini hari, pasukannya melancarkan serangan terhadap Iran pada Jumat (26/6/2026) malam “sebagai respons keras atas serangan kemarin terhadap sebuah kapal dagang yang sedang melintasi Selat Hormuz”. Menurut pernyataan tersebut, tindakan Iran telah “melanggar gencatan senjata”.
IRGC dalam pernyataan yang dirilis kemudian mengatakan, pasukan angkatan lautnya telah menyerang sejumlah posisi militer AS di Asia Barat sebagai balasan atas serangan udara AS terhadap Iran selatan.
IRGC menambahkan, AS melancarkan serangan terhadap wilayah pesisir selatan Iran dengan dalih insiden yang melibatkan sebuah kapal dagang di Selat Hormuz, seraya memperingatkan, setiap serangan lanjutan dari AS akan memicu respons yang lebih keras dari Iran.
Iran mulai memperketat kendalinya atas Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026 dengan melarang kapal-kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel dan AS melintas secara aman, menyusul serangan gabungan kedua negara terhadap wilayah Iran. (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
IMO: Sekitar 2.500 Awak Kapal telah Dievakuasi dari Selat Hormuz sejak Selasa
Badan Keamanan Tertinggi Iran Perintahkan Penanganan Cepat Permohonan Melintasi Selat Hormuz
Sekutu Eropa Tolak Seruan Trump untuk Misi Militer di Selat Hormuz
AS dan Iran Teken MoU Secara Elektronik untuk Akhiri Perang
Data JODI: Ekspor Minyak Mentah Arab Saudi Turun ke Rekor Terendah pada April
Iran dan Rusia Gelar Latihan Militer Gabungan di Tengah Ancaman Tenggat Waktu 15 Hari Trump






