SINGAPURA (Kepri.co.id – Xinhua) – Kerryn Lee May Xin (27) siap menukar cuaca tropis Singapura dengan lanskap berselimut es di China timur laut. Dia berencana, merayakan Tahun Baru di pegunungan bersalju dan menikmati pemandian air panas tradisional.
Tinggal di Singapura bersama suaminya, seorang warga Malaysia bernama Lee sudah terbiasa melakukan perjalanan ke China.
Dalam setahun terakhir, dia telah melakukan perjalanan ke berbagai kota seperti Guangzhou dan Shenzhen di China selatan, Beijing dan Harbin di China utara, serta Chengdu dan Chongqing di China barat.
Dia pun memiliki semakin banyak teman dengan antusiasme yang sama untuk menjelajahi negara tersebut.
Baca Juga: Kunjungan Wisatawan China ke Indonesia Tembus 1 Juta Dalam 10 Bulan Pertama 2024
Lee mengaitkan meningkatnya minat pelancong Asia Tenggara untuk berkunjung ke China, dengan perjanjian bebas visa yang baru-baru ini diberlakukan oleh China dengan negara-negara seperti Singapura dan Malaysia.
Sejak Februari 2024, warga Singapura dapat tinggal di China tanpa visa hingga 30 hari, yang merupakan perpanjangan dari jatah sebelumnya, yakni 15 hari.
Malaysia dan Thailand juga telah menetapkan kebijakan bebas visa bersama dengan China, memungkinkan wisatawan melakukan perjalanan spontan. “Sekarang Anda benar-benar bisa berangkat kapan saja,” ujar Lee.

Sejumlah agen perjalanan melaporkan, jumlah pemesanan kelompok untuk penerbangan dari Singapura ke China pada paruh pertama tahun 2025, telah menyamai jumlah keseluruhan tahun 2024.
Jumlah warga China yang melakukan perjalanan ke Singapura juga mencatat rekor. Menurut Dewan Pariwisata Singapura (Singapore Tourism Board), 2,89 juta wisatawan China mengunjungi Singapura dalam 11 bulan pertama tahun 2024, naik 134,1 persen secara tahunan (year on year/ yoy).
Baca Juga: Gubernur Ansar dan Dubes RI untuk Singapura Perjuangkan Kebijakan VoA untuk Bintan
Berdasarkan data pencarian dari wisatawan yang berbasis di Singapura untuk periode liburan pada 21 Desember 2024 hingga 3 Januari 2025, raksasa perhotelan global Hilton menemukan lonjakan minat yang signifikan terhadap China, dengan 23 persen warga dari Generasi Alfa (warga kelahiran tahun 2010-an) dan Generasi Z di Singapura, menyatakan minat yang tinggi untuk melakukan perjalanan ke China.
“Kami juga mengamati ada peningkatan minat dari para pelancong muda yang ingin merasakan langsung warisan budaya China yang kaya, seperti di ibu kota kuno Xi’an,” ujar Jeremiah Wong dari Chan Brothers Travel, sebuah biro perjalanan terkemuka di Singapura, seraya menambahkan, daerah-daerah yang lebih unik seperti Xinjiang, Xizang, dan Yunnan juga masuk dalam daftar teratas destinasi favorit para pelancong.
Bagi Lee, perjalanan musim dingin ini bukanlah perjalanan pertamanya ke China timur laut. Pada musim panas tahun 2024, dia mengunjungi kota-kota seperti Dalian dan Harbin, yang masing-masing menawarkan secuil pengalaman wisata yang unik.
Baca Juga: KEK Pariwisata dan Kesehatan Perkuat Posisi Batam Sebagai Destinasi Pariwisata Kesehatan Regional
Dia berlayar di atas kapal di Dalian saat burung camar terbang di atas kepalanya, dan mencicipi hidangan lokal yang lezat, termasuk belut panggang, di area komunitas Korea di Shenyang.
Namun, pengalamannya dengan budaya pemandian China meninggalkan kesan paling mendalam.

Di China timur laut, tempat pemandian lebih dari sekadar tempat untuk bersantai. Tempat itu dianggap sebagai pusat sosialisasi.
Lee pernah mendengar cerita dari rekan-rekannya tentang tradisi “menggosok badan” di tempat pemandian, di mana para tamu dibersihkan dan dipijat dengan cermat.
Ketika dia mengunjungi tempat pemandian untuk pertama kalinya, awalnya dia ragu menanggalkan pakaiannya di ruang publik. Namun, setelah merasakan pelayanan yang detail dan suasana yang ramah, dia dengan cepat beradaptasi.
Platform media sosial seperti Xiaohongshu (platform media sosial gaya hidup yang populer), TikTok, dan YouTube, berperan penting dalam memamerkan daya tarik China.
Berbagai objek wisata yang ditampilkan dalam drama-drama China menjadi destinasi populer di kalangan warga Singapura keturunan Tionghoa, yang kemudian membagikan pengalaman mereka secara daring dalam bahasa Inggris, sehingga memperluas daya tariknya bagi masyarakat yang tidak berbahasa Mandarin.
Baca Juga: Aplikasi Alipay Tersedia dalam 16 Bahasa untuk Fasilitasi Wisatawan Asing di China
Infrastruktur China merupakan daya tarik utama lainnya bagi wisatawan asing. Opsi pembayaran seluler yang telah disempurnakan kini memungkinkan pengunjung menghubungkan kartu bank luar negeri ke platform seperti Alipay dan WeChat Pay, membuat transaksi menjadi lebih sederhana.
Aplikasi seperti 12306 untuk pemesanan tiket kereta dan Xiaohongshu, untuk tip perjalanan membuat perencanaan menjadi lebih mudah.

Lee mengenang pengalaman pertamanya berkunjung ke China saat dirinya masih remaja dan mengikuti perkemahan musim panas di Wenzhou, Provinsi Zhejiang, China timur.
Saat itu, informasi daring yang terbatas membuat China terkesan misterius dan menimbulkan perasaan terpisah dari teman-temannya.
Namun, setelah berkunjung, dia menemukan sebuah negara yang dipenuhi kota-kota modern, logistik yang efisien, serta semangat yang hangat dan ramah.
Baca Juga: Kereta Wisata Kian Diminati di Tengah Ledakan Pariwisata China
Sopir taksi, misalnya, sering mengobrol dengannya dan dengan penuh semangat merekomendasikan makanan serta atraksi lokal setelah mengetahui bahwa dia adalah pengunjung asing. “Mereka benar-benar senang berbagi!” tutur Lee. (hen/ xinhua-news.com)







