GUIYANG (Kepri.co.id – Xinhua) – Di usia 69 tahun, Zhu Guichu sangat senang bertamasya tetapi tidak menyukai perjalanan udara.
Oleh karena itu, saat merencanakan perjalanan selama delapan hari ke Laos baru-baru ini, pensiunan dari Provinsi Guizhou di China itu memilih menaiki kereta wisata.
Kereta China-Laos Bertema Panda Berangkat dari Guiyang
Pada 8 Maret 2024, Zhu bergabung dengan kelompok tur yang beranggotakan 200 orang untuk mengunjungi negara Asia Tenggara itu.
Sebuah “kereta panda” membawa mereka ke daerah perbatasan Provinsi Yunnan, di mana mereka pindah ke Jalur Kereta China-Laos, untuk melanjutkan tur menuju Laos.
“Saya senang bepergian dengan kereta, karena ini aman dan dapat diandalkan. Anda tidak akan merasa terlalu lelah karena semua destinasi berada di dekat stasiun kereta,” kata Zhu.
Kereta bertema panda yang dinaiki Zhu, merupakan hasil konversi dari “kereta hijau,” pendahulu kereta peluru cepat yang kecepatannya lebih lambat.
Selain memiliki gerbong bergambar panda, kereta itu memiliki kompartemen bergaya hotel, bar untuk minum, ruang karaoke, dan fasilitas hiburan lainnya untuk mengompensasi kecepatannya yang lebih lambat.
Pariwisata Genjot Pembangunan Sosial dan Ekonomi China
“Kereta tersebut telah disulap menjadi hotel berbintang yang bergerak,” ujar Chen Xuan, seorang manajer dari perusahaan yang mengoperasikan “kereta panda”. “Alih-alih hanya menjadi moda transportasi, kereta itu merupakan sorotan utama dari pengalaman berwisata yang dirasakan.”
Sejak diluncurkan tahun 2021, sebanyak 79 “kereta panda” telah mengangkut lebih dari 20.000 orang ke berbagai objek wisata di provinsi-provinsi dan daerah otonom di China, termasuk Xinjiang, Gansu, dan Sichuan.
China memiliki jaringan kereta yang besar, dengan jarak tempuh operasional mencapai 159.000 Kilometer (Km) pada akhir tahun 2023, membuka jalan bagi kebangkitan kereta wisata sebagai sarana baru yang modis untuk bepergian di seluruh China.
Kereta wisata berfungsi sebagai gerbong dan hotel, mengangkut wisatawan ke objek-objek wisata di sepanjang rute kereta sembari menawarkan akomodasi, katering, dan hiburan.
Ini merupakan salah satu moda perjalanan baru yang menjadi populer, seiring meningkatnya momentum pasar pariwisata negara itu.

Sebelumnya pada Mei 2024 ini, Xinjiang di China barat laut meluncurkan kembali kereta wisata populer yang disebut “Tianshan Express”, yang melintasi rute kereta yang indah dan dihiasi pegunungan bersalju, gurun, dan danau.
Kereta serupa juga telah diluncurkan untuk melintasi padang rumput di Daerah Otonom Mongolia Dalam, untuk melakukan perjalanan di sepanjang rute kereta bersejarah di Provinsi Shandong, China timur.
Mengingat kereta tersebut kerap dikonversi dari kereta hijau untuk merasakan nuansa nostalgia, kereta itu diapresiasi karena telah menghidupkan kembali kereta-kereta yang tidak lagi digunakan di era kereta cepat.
Para pakar juga memuji moda perjalanan ini, karena menyalurkan lebih banyak wisatawan ke daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki bandara.
“Kereta wisata juga mengubah daerah-daerah terpencil di sepanjang jalur kereta menjadi kota wisata yang berkembang pesat, sehingga mendorong revitalisasi pedesaan dengan caranya sendiri,” ujar Cheng Tonglin, Associate Professor di Fakultas Ekonomi Universitas Guizhou. (asa/ xinhua-news.com)







