Krisis Kemanusiaan di Gaza Memburuk

Krisis Kemanusiaan di Gaza Memburuk
Warga Gaza berebut makanan di antara sulitnya mendapatkan bantuan kemanusian. (F. Xinhua)

KAIRO (Kepri.co.id – Xinhua) – Krisis kemanusiaan dahsyat di Gaza semakin buruk, seiring krisis kelaparan yang mematikan semakin dalam di tengah operasi militer Israel. Sementara warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel, telah mencapai lebih dari 60.000 jiwa.

Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Kairo/ Yerusalem/ Ramallah. (XHTV)

“Krisis kemanusiaan di Gaza semakin buruk dalam beberapa pekan terakhir. Menurut otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza, sejak perang meletus pada Oktober 2023, lebih dari 60.000 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel di Gaza, dan lebih dari 100 orang meninggal karena kelaparan dan malanutrisi, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak,” ujar Reporter Xinhua, Ohood Jaghoub.

Semua toko roti yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tutup. Di pasar-pasar lokal, harga bahan makanan yang masih tersedia meroket. Banyak orang tidak makan selama berhari-hari.

Orang-orang bahkan mempertaruhkan nyawa, untuk mendapatkan makanan di titik-titik distribusi bantuan. Saat ini, distribusi bantuan dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/ GHF), yang didukung oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang semuanya berlokasi di dalam zona militer Israel yang dibatasi.

Sejak GHF mulai beroperasi di Gaza pada akhir Mei 2025, tercatat ratusan laporan pasukan Israel membunuh orang-orang yang mencari bantuan di titik-titik tersebut.”

“Suara dari seluruh Timur Tengah menyerukan Israel untuk segera menghentikan semua operasi militer di Gaza dan membuka kembali akses kemanusiaan sepenuhnya. Mereka juga mendesak AS untuk mengambil sikap yang lebih adil dan bertanggung jawab, sikap yang benar-benar dapat membantu menghentikan krisis yang memburuk ini,” ujar Koresponden Xinhua, Li Ruolin.

Menurut Program Pangan Dunia (WFP), hampir seperempat penduduk Gaza mengalami kondisi seperti kelaparan, sementara penduduk lainnya menghadapi tingkat kelaparan darurat.

Badan PBB tersebut mengatakan, meski Israel telah mengambil langkah-langkah mengizinkan lebih banyak bantuan masuk, itu masih belum memenuhi jumlah bantuan yang sangat dibutuhkan Gaza.

Menanggapi meningkatnya tekanan internasional, Israel mencabut sebagian blokade bantuannya di Gaza beberapa hari yang lalu.

“Militer Israel pada Minggu (27/7/2025) mengumumkan, jeda kemanusiaan selama 10 jam setiap hari dalam operasinya di seluruh wilayah Jalur Gaza, bersamaan dengan pembukaan koridor aman untuk pengiriman bantuan,” ujar Koresponden Xinhua, Wang Zhuolun.

Namun, banyak pengamat melihat jeda ini sebagai manuver politik lain, bukan titik balik. Pemerintahan Perdana Menteri, Netanyahu secara luas diyakini sengaja memperpanjang perang, tidak hanya untuk melemahkan Hamas, tetapi juga untuk menyatukan koalisi penguasa yang rapuh yang bergantung pada politisi sayap kanan ekstrem untuk tetap berkuasa.

Dukungan publik untuk perang tersebut semakin turun. Jajak pendapat terbaru menunjukkan, mayoritas warga Israel kini mendukung kesepakatan gencatan senjata, khawatir dengan semakin banyaknya korban akibat konflik yang berlarut-larut dan minimnya kemajuan nyata dalam upaya pemulangan para sandera. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Gaza Hadapi Kelaparan Setelah Toko Roti Tutup dan Bantuan Menipis

Kelaparan di Gaza Semakin Parah saat Kelangkaan Pangan Memburuk dan Bantuan Menyusut

Warga Gaza yang Kelaparan Antre Panjang Dapatkan Bantuan Makanan yang Terbatas

FAO Peringatkan Gaza Berisiko Tinggi Alami Kelaparan Akut