Asa Kapal 30 GT di Laut Natuna Utara dan Langkah Gesit Cen Sui Lan

F. Abed Simamora

BATAM, Kepri.co.id – Gugusan kepulauan di ujung utara Indonesia menyimpan kekayaan laut yang tak terkira. Namun, mengarungi ganasnya perairan Natuna bukanlah perkara mudah jika nelayan pesisir hanya mengandalkan perahu berkapasitas seadanya.

Kini, secercah harapan baru mengapung di atas ombak Laut Natuna Utara: sebuah program pengadaan kapal penangkap ikan berbahan besi dengan kapasitas 30 Gross Tonnage (GT) yang tengah digulirkan pemerintah pusat.

​Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna menangkap peluang itu dengan cepat. Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menyebut, wilayahnya telah masuk dalam radar pemerintah Republik Indonesia sebagai calon kuat penerima bantuan armada tersebut.

Baginya, kapal berlambung besi ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan jawaban atas tantangan maritim yang selama ini mengungkung daya jelajah warganya.

​”Ini kabar gembira bagi kita di Natuna, khususnya nelayan. Pemerintah pusat punya program bantuan kapal besi ukuran 30 GT bagi nelayan, dan kita sudah termasuk di sana,” ujar Cen Sui Lan saat ditemui di Kantor BMKG Natuna, beberapa waktu lalu.

​Di atas kertas, Natuna memiliki modal kuat memuluskan jalan program ini. Karakter sebagai wilayah kepulauan dengan potensi sumber daya kelautan raksasa, nilai tawar yang tak terbantahkan. Namun, lebih dari itu, kekuatan akar rumput menjadi kunci penentu.

Cen Sui Lan memastikan, infrastruktur sosial nelayan yang diisyaratkan oleh pusat telah hidup dan berdenyut di pesisir Natuna.
​
”Syarat paling utama yang kita punya adalah koperasi nelayan dan kampung nelayan. Jadi, kita sudah cukup syarat untuk itu,” tegasnya.

​Kehadiran dua instrumen tersebut dinilai krusial. Bukan semata agar lolos verifikasi administratif pemerintah pusat, melainkan sebagai ekosistem agar operasional kapal kelak terkelola secara produktif dan tepat sasaran.

Kapal berkapasitas 30 GT ini, dirancang untuk memberi ruang manuver yang lebih besar, memampukan nelayan merobek ombak menuju wilayah tangkapan yang lebih luas.

Meski sinyal positif telah dikantongi, Pemkab Natuna enggan sekadar melempar sauh dan menunggu. Komunikasi dan lobi-lobi dengan kementerian terkait di Jakarta terus digenjot. Langkah jemput bola ini menjadi wajib, agar peluang emas tersebut tidak kandas di tengah birokrasi.

”Kita besar kemungkinan dapat. Makanya kita upayakan terus melalui langkah-langkah koordinatif di pusat, supaya nelayan kita semakin tangguh di laut dan mampu bersaing,” tutur Cen.

Bagi Natuna, program kapal besi 30 GT ini mengemban misi yang jauh lebih besar dari sekadar tambahan aset. Ia adalah urat nadi untuk mendongkrak ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus menegaskan kedaulatan nelayan lokal di laut mereka sendiri.

Kini, para pelaut di ujung utara itu menanti kapan lambung kapal besi tersebut benar-benar memecah ombak perairan Natuna. (abed)

BERITA TERKAIT:

Temui Mendag, Bupati Natuna Tegaskan Pentingnya Stabilitas Pasokan Pangan di Wilayah Kepulauan

Bakamla Perkuat Benteng Maritim Natuna, Cen Sui Lan: Daerah Siap Berkolaborasi dengan Rakyat Jaga Kedaulatan Laut

Cen Sui Lan Sumbangsih Sertifikasi Pelaut Gratis Plus Uang Saku

Natuna Menuju Poros Maritim Asia: Cen Sui Lan Sinkronkan KAPET dan KEK untuk Lompatan Ekonomi