Akademisi Sebut Indonesia dan China Berbagi Komitmen Dalam Penguatan Multilateralisme Global

Akademisi Sebut Indonesia dan China Berbagi Komitmen dalam Penguatan Multilateralisme Global
Foto yang diabadikan pada 3 Juli 2025 ini, menunjukkan spanduk selamat datang untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di sebuah jalan di Rio de Janeiro, Brasil. (F. Xinhua/Claudia Martini)

JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) – Pengamat hubungan internasional menilai, Indonesia dan China memiliki komitmen bersama yang kuat dalam upaya penguatan multilateralisme, yang telah terjalin sejak Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung 70 tahun silam. Di tengah menurunnya semangat kerja sama global, kedua negara dinilai memiliki peran penting mendorong kembali kerja sama multilateral yang saling menguntungkan.

“KAA saat itu melahirkan Dasasila Bandung, yang hingga saat ini menjadi pijakan kebersamaan antara Indonesia dan China membangun tata kelola global yang lebih adil,” ungkap Asep Setiawan, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dalam Wanxinda Indonesia-China Youth Forum di Jakarta pada Selasa (25/11/2025).

Sejak saat itu, kedua negara dinilai terus aktif berbagai inisiatif mendorong kerja sama multilateral. Asep memberi contoh agenda seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-China (ASEAN-China Summit) yang digelar setiap tahun, keanggotaan dalam BRICS, serta partisipasi aktif dalam forum dialog negara-negara berkembang Global South.

Semangat multilateralisme ini dianggap semakin penting untuk diperkuat oleh kedua negara, terutama di tengah meningkatnya unilateralisme dan berbagai tantangan ekonomi global, akibat proteksionisme melalui kebijakan tarif perdagangan.

Akademisi Sebut Indonesia dan China Berbagi Komitmen dalam Penguatan Multilateralisme Global
Rangkaian kereta electrical multiple unit (EMU) memasuki Stasiun Padalarang di jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di Padalarang, Provinsi Jawa Barat, pada 17 Oktober 2024. (F. Xinhua/Xu Qin)

Menurut Asep, semangat multilateralisme ini, akan memberi manfaat dalam membentuk sistem tata kelola global yang lebih adil melalui munculnya berbagai alternatif. BRICS disebut telah menjadi salah satu alternatif bagi tata kelola dunia, yang saat ini masih sangat bergantung pada mekanisme yang dibentuk oleh negara-negara Barat.

“Salah satu aspek multilateralisme yang menurut saya harus ditunggu ke depan, bagaimana memberlakukan sistem moneter dunia yang tidak bergantung pada mata uang Barat, dan BRICS bisa menjembatani hal itu dengan Yuan China yang berpotensi menjadi mata uang alternatif global,” papar Asep.

Sementara itu, Harryanto Aryodiguno, akademisi hubungan internasional dari President University, menyebutkan, semangat multilateralisme untuk mengakhiri penjajahan yang digaungkan dalam KAA Bandung masih relevan sampai sekarang. Hal ini dibuktikan, dengan posisi Indonesia dan China yang terus aktif dalam mendorong pengakuan Palestina sebagai negara berdaulat melalui solusi dua negara.

Selain mendorong perdamaian, Harryanto mengatakan, komitmen multilateralisme antara Indonesia dan China juga berkembang dalam upaya kerja sama pembangunan ekonomi. Kerja sama ini dinilai sukses, dengan Indonesia menjadi salah satu contoh keberhasilan komitmen pembangunan luar negeri China. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Forum Media dan Wadah Pemikir BRICS Digelar untuk Dorong Momentum Global South

PM Malaysia: Kelompok BRICS Jadi Peluang untuk Ciptakan Tatanan Dunia yang Lebih Adil

Kemlu RI: Indonesia Perkuat Peran Global Melalui Keanggotaan di BRICS

Peluang Apa yang Menanti Indonesia dengan Bergabung Dalam BRICS?

Peneliti BRIN Sebut Prinsip Kebijakan Luar Negeri China Berkontribusi Jaga Perdamaian