HAIKOU (Kepri.co.id – Xinhua) – Angin laut sepoi-sepoi berhembus, bayangan pohon kelapa bergoyang tertiup angin. Menjelang senja di kota kecil Haigui, di Lingshui, Provinsi Hainan, China selatan, dua pengusaha gim, Huang Suiyi dan Lei Jun, duduk mengelilingi halaman sambil memanggang daging dan mendiskusikan rencana pengembangan gim mini terbaru mereka.
Setahun lalu, mereka bersama tim masing-masing pindah dari Shenzhen dan Xiamen ke kota kecil pesisir ini. Kini, Lingshui menjadi “titik koordinat baru” bagi gim mini asal China untuk menembus pasar global.
“Dahulu, untuk menyelesaikan satu konsep butuh bolak-balik diskusi setidaknya setengah bulan. Kini, di Lingshui, satu sesi barbeku sudah cukup untuk memfinalisasi ide,” kata Huang Suiyi, pimpinan Hainan Sanbaijin Technology Co Ltd.
Gim mini andalan perusahaannya, “Meitian Shudu” (Kongfu Nonogram), telah melayani lebih dari 50 juta pengguna di dalam negeri dan bertahan lama di jajaran teratas berbagai tangga permainan.
Dengan memanfaatkan ekosistem industri budaya digital Lingshui, Huang melakukan penyesuaian lokal terhadap gim ini dan meluncurkannya di Asia Tenggara. “Kami menggabungkan gaya fantasi China dengan karakter mini yang lebih disukai pengguna luar negeri. Hasilnya sangat baik, terutama di Indonesia, dengan total unduhan hampir 2 juta dan pengguna aktif harian lebih dari 300 ribu. Tahun ini, kami berencana merilis beberapa gim baru untuk pasar Asia Tenggara,” jelasnya.
Kolaborasi kampus dan industri menjadi ciri khas kuat industri gim Lingshui. Perusahaan Lei Jun fokus mengembangkan gim mini, dan bahkan menciptakan editor khusus yang menghapus proses pemrograman rumit, sehingga orang awam bisa belajar mendesain gim mini hanya dalam waktu sebulan.

Melalui pola kemitraan antara sekolah dan perusahaan, beberapa universitas menjalin kerja sama dengan Hainan Chenyao Company untuk mendirikan pusat pelatihan bersama. Mahasiswa yang lulus pelatihan dapat mengembangkan gim mini secara mandiri, sementara keuntungan dari karya populer akan dibagi sesuai kesepakatan.
“Gim mini bisa dimainkan secara instan tanpa perlu diunduh, jadi pembaruan harus dilakukan dengan frekuensi tinggi. Mahasiswa kami membawa banyak ide segar dan inovatif,” ujar Lei.
Berlokasi di Kawasan Pendidikan Internasional Lingshui, banyak perguruan tinggi dan sumber daya pendidikan global berkumpul di sini. Setelah September 2025, perusahaannya berencana memperluas basis magang dan merekrut lulusan berprestasi sebagai karyawan tetap.
Pada 2024, Lingshui meluncurkan kebijakan pertama di China mendukung pengembangan industri gim mini, bertujuan menjadikan kota ini destinasi utama para kreator gim global untuk bekerja dan hidup.
Bersamaan dengan itu, Lingshui bekerja sama dengan Tencent Cloud dan China Mobile Hainan untuk membangun Lingshui Digital Culture Industry Cloud, menyediakan layanan cloud berkecepatan tinggi dan jalur khusus langsung ke pasar internasional bagi perusahaan gim.

“Kota kecil Haigui telah membangun rantai industri lengkap, mulai dari produksi hingga distribusi gim mini. Di sini, setiap perusahaan bisa menemukan mitra satu visi untuk mewujudkan kreativitas mereka. Gim mini terbaru kami, ‘Juedi Qingdaofu’ (Deadly Scavenger), kini memasuki tahap optimalisasi akhir dan segera diluncurkan ke pasar luar negeri,” tambah Lei.
Saat malam tiba, Lei menutup laptopnya, menggandeng keluarganya berjalan di pasir putih tepi pantai. “Dahulu, perjalanan pulang pergi dua jam dan lembur hingga tengah malam sudah jadi rutinitas. Kini, di Lingshui, hanya butuh sepuluh menit untuk pulang. Angin laut menghapus penat, dan deburan ombak justru jadi irama inspirasi,” ujarnya sambil tersenyum.
Dari “pesona tropis” hingga “kreativitas pesisir”, Lingshui kini membuka jendela baru bagi pengembang gim mini China untuk menggapai pasar dunia. (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Berkenalan dengan Kru Motion Capture di Balik Gim Video China “Black Myth: Wukong”
Baru Dirilis, Gim Video “Black Myth: Wukong” Raih Popularitas yang Begitu Besar







