Komunitas Asia-Pasifik: Menkes RI Lihat Prospek Luas bagi Kerja Sama Kesehatan dengan China

Komunitas Asia-Pasifik: Menkes RI Lihat Prospek Luas bagi Kerja Sama Kesehatan dengan China
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin berbicara dalam wawancara dengan Xinhua di Jakarta pada 5 Mei 2026. (F. Xinhua/Cen Yunpeng)

JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia (RI), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, kerja sama bidang kesehatan antara Indonesia dan China telah mencakup berbagai bidang dan bergerak “ke arah yang tepat,” menunjukkan prospek yang luas bagi kerja sama di masa mendatang.

Dalam sebuah wawancara dengan Xinhua baru-baru ini, Budi menyebut, kedua negara telah menjalin kerja sama selama bertahun-tahun, dan kerja sama kesehatan sejauh ini telah mencakup hampir “semua aspek,” termasuk layanan klinis, manajemen klinis, kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), dan bioteknologi.

Budi mengunjungi China pada Maret 2026 lalu, dan dalam kesempatan itu, kedua belah pihak membahas pendalaman kerja sama di berbagai bidang di antaranya kesehatan digital dan pintar serta sumber daya manusia (SDM).

Menkes Budi mengungkapkan kerja sama ini tidak hanya mencakup peralatan dan teknologi medis, tetapi juga upaya untuk meningkatkan kapasitas layanan kesehatan, terutama pelatihan tenaga medis. Dia mencontohkan para dokter spesialis jantung Indonesia yang menjalani pelatihan kardiologi intervensi di sejumlah rumah sakit di China.

Budi menuturkan, Indonesia sedang memperluas layanan gawat darurat jantung ke lebih banyak kota dengan membangun laboratorium kateterisasi, namun perluasan ini juga membutuhkan dokter dengan keterampilan khusus, untuk mengoperasikan peralatan dan melakukan prosedur.

Beberapa dokter Indonesia yang mendapatkan pelatihan di China telah kembali ke Tanah Air, dan kini mampu melakukan prosedur yang dapat membantu menyelamatkan nyawa, ungkap Budi.

Menkes menyoroti teknologi medis canggih sebagai bidang kerja sama penting lainnya dengan China, termasuk bioteknologi, AI, dan robotika. Menurutnya, kerja sama di bidang-bidang ini, bersama dengan pelatihan talenta medis, dapat membawa manfaat yang lebih besar bagi sistem layanan kesehatan Indonesia.

Mengenai penggunaan AI dalam layanan kesehatan, Budi mengatakan, dirinya melihat China mengadopsi AI dalam sistem perawatan kesehatan nasionalnya, yang menunjukkan bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan di sektor ini.

Dia mengatakan penerapan AI dalam sistem layanan kesehatan sangat luas, mulai dari pengembangan obat dan prosedur klinis hingga efisiensi administratif, seraya menyebutkan beberapa contoh seperti deteksi tuberkulosis (TB) berbantuan AI melalui sinar-X digital dan sistem rekam medis otomatis.

Budi menuturkan, AI dapat membantu meningkatkan kapasitas dan pengetahuan dokter, seraya menambahkan, meskipun AI tidak akan menggantikan tenaga medis, “dokter yang menggunakan AI pasti akan menggantikan dokter yang tidak menggunakan AI.”

Budi juga mengungkapkan, kesehatan masyarakat sebagai bidang lainnya untuk kerja sama bilateral, khususnya dalam pengendalian TB. Dia menyebut, China telah membuat kemajuan signifikan dalam mengurangi angka kejadian TB meskipun populasinya sangat besar.

Menkes mengaitkan keberhasilan China dengan sistem pemantauan penyakit yang kuat dan strategi pengobatan yang efektif. Hal inilah, yang ingin dipelajari oleh Indonesia.

Ke depan, Budi mengatakan, kolaborasi berkelanjutan dengan China dalam berbagai bidang, di antaranya AI, bioteknologi, dan pelatihan medis, dapat mendukung pengembangan layanan kesehatan di masa depan yang tidak hanya fokus pada menyembuhkan penyakit, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Dokter Muda Asal Indonesia Ikuti Program Pelatihan di Lanzhou, Dorong Pertukaran RI-China

Indonesia-China Jajaki Peluang Kerja Sama di Bidang Farmasi dan Pengawasan Obat

Produsen Alkes China Investasikan Rp1,7 Triliun Bangun Pabrik Baru di Jawa Tengah

Indonesia-China Perkuat Kerja Sama Pengembangan Produk Halal