ANAMBAS (Kepri.co.id) – Badan Gizi Nasional (BGN) menurunkan tim investigasi ke Kabupaten Kepulauan Anambas, untuk mencari penyebab keracunan 155 orang akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (23/4/2026).
Tim investigasi yang dipimpin Arie Karimah Muhammad langsung menuju Dapur MBG Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah. Di lokasi, tim meninjau kondisi ruangan mulai dari dapur produksi, tempat pemorsian, hingga pengelolaan limbah.
Selain itu, BGN juga mengunjungi Puskesmas Siantan Tengah dan RSUD Palmatak, untuk berkoordinasi dengan dokter yang menangani pasien.
“Saya dikasih tahu sama Direktur RSUD tentang hasil rapid test. Kita tidak bisa kasih tahu karena rahasia medis. Yang jelas, belum percaya hanya omongan lisan tanpa bukti,” kata Arie Karimah Muhammad.
Arie menjelaskan, BGN hanya bisa menerima hasil observasi dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), karena lebih akurat untuk melihat langsung bakteri dan zat kimia pada bahan makanan. “Kalau rapid test yang dilakukan RSUD hanya bisa ketahui zat kimia saja,” ujarnya.
Jika hasil ke luar, pihaknya akan segera membandingkan dengan gejala yang dialami korban. Gejala dominan yang dialami pelajar telah diminta, untuk dicocokkan dengan hasil uji BPOM. “Kemudian, baru dibandingkan dengan hasil BPOM. Kita tahu sendiri menu waktu itu, telur kecap, sayur tumis, tempe goreng dan buah kelengkeng,” jelasnya.
SPPG Air Asuk Ditutup Sementara
Arie menyebutkan, jika penyebab keracunan karena zat kimia, kemungkinan berasal dari petani yang menggunakan pupuk berlebihan. “Kalau penyebabnya bakteri bisa dari mereka yang jorok, sumber air juga. Kalau air, harus ditanya lagi apa air PAM atau resapan. Itulah contoh ilmu yang bisa kita terapkan,” detil Arie.
Untuk Dapur MBG Air Asuk, BGN memutuskan menutup sementara operasionalnya, hingga hasil investigasi ke luar. “Sebelum hasil ke luar, ditutup sementara setelah investigasi ke luar. Nanti kita lihat. Kalau mereka salah, kita akan evaluasi. Kasih kesempatan sekali lagi,” terang Arie.
Ia menegaskan, BGN tidak akan menutup secara permanen dapur MBG yang bermasalah, karena mempertimbangkan kerugian mitra. “Kalau kita tutup permanen, rugi mereka. Mitra sudah investasi miliaran. Kalau bisa diperbaiki, jika mengulang kesalahan yang sama, baru kita tutup,” tegas Arie.
Diketahui, peristiwa keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar akibat MBG terjadi pada Rabu (15/4/2026) lalu. Hingga saat ini, hanya tinggal satu orang pelajar yang masih dirawat di RSUD Palmatak. (fen)
BERITA TERKAIT:
Sekda Anambas Pimpin Rapat Persiapan May Day 2026, Tekankan Apresiasi Nyata untuk Pekerja
Bupati Aneng Pimpin Apel Gabungan ASN di Halaman Kantor Bupati
Rakor SMSI Kepri, Aneng: Media Mitra Pemerintah Membangun Daerah
Aneng Ajak SMSI Kepri Ikut Bangun Kepulauan Anambas
Satpol PP Anambas Pindah Kantor ke Eks Puskesmas Lama di Batu Tambun







