JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) – Ori (44) sehari-hari bekerja sebagai pedagang bubur keliling di kampung halamannya di Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Namun, sejak pertengahan Desember 2024 lalu, dirinya memilih merantau ke Jakarta untuk sementara waktu dan bekerja sebagai pedagang barang kebutuhan Imlek.
Meski perayaannya masih sekitar satu pekan lagi, kawasan Pecinan Glodok di Jakarta, sudah makin ramai.
Baca Juga: Rayakan Imlek 2025 dengan “Year of The Snake” di HARRIS Resort Barelang Batam
Sejumlah tenda pedagang pernak-pernik Imlek mulai menghiasi bahu jalan, menawarkan berbagai kebutuhan, mulai dari angpao, lampion, tempelan dinding, hiasan bunga meihua, hingga pakaian.
Kebanyakan para pedagang tersebut, merupakan pekerja panggilan yang didatangkan dari luar kota, salah satunya Ori.
“Ini merupakan pertama kalinya saya bekerja menjual pernak-pernik Imlek, setelah diajak keponakan saya yang sudah memulai terlebih dulu,” ungkap Ori yang sudah mulai berjualan.
Baca Juga: Promo Menarik Bersama Orang Tercinta, Suasana Imlek Tahun Naga Kayu di HARRIS Resort Barelang
Keponakan Ori juga berasal dari Kuningan dan sehari-hari berperan sebagai ibu rumah tangga. Namun, sudah sekitar lima tahun terakhir, setiap kali Imlek, dia dan suaminya akan pindah sementara ke Glodok berjualan.
Penghasilan dari menjaga toko, cukup menjanjikan ketimbang berdiam diri di rumah, karena itu pada tahun 2025 ini, dia kembali ke Jakarta sembari mengajak sang paman.
Ori bukan satu-satunya perantau di sana. Hanya berjarak beberapa meter, berdiri warung yang dijaga Budi yang merantau dari Cirebon.
Berdagang memang sudah menjadi keahliannya, karena sehari-hari dia juga bekerja sebagai penjual mainan anak di tempat wisata.
Baca Juga: Hidupkan Wisata Heritage, PSMTI Tanjungpinang – Bintan Bazar Imlek
Ayah empat orang anak itu sudah belasan tahun berjualan di Glodok, yakni sejak anak pertamanya masih kecil, yang kini sudah berusia 18 tahun.
Karena itu, dia sudah sangat memahami, pembeli biasanya mulai datang sekitar satu bulan sebelum Imlek.
“Dibandingkan pendapatan saat berjualan mainan sehari-hari, pendapat dari berjualan selama Imlek tentu lebih besar,” ujarnya, sembari menata beberapa barang dagangan.

Meski harus jauh dari anak dan istri, Budi mengaku berhasil mengatasi rasa kesepian, setelah bertemu dengan rekan pekerja lain yang sudah berjualan bersama sejak lama.
Baca Juga: Regency Berbagi Bahagia dan Angpao Imlek Bersama Panti Jompo
Pada pedagang ini akan berjualan dari pagi hingga malam hari, dengan beberapa di antara mereka tidur di tempat yang sama, terutama laki-laki untuk menjaga keamanan barang dagangan.
Namun, ada juga yang tinggal di kontrakan yang telah disediakan oleh bos pemilik barang.
Glodok dapat disebut sebagai destinasi utama, untuk berburu barang-barang persiapan Imlek, termasuk pernak-pernik hingga makanan seperti camilan hingga sayur dan buah-buahan.
Bukan hanya bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya, daerah ini juga sejak lama menjadi tujuan favorit masyarakat keturunan Tionghoa dari luar kota, salah satunya Ros (66).
Wanita asal Balikpapan itu, sudah beberapa hari berada di Jakarta mengunjungi beberapa saudara sekaligus membeli persiapan Imlek untuk dibawa pulang ke rumahnya.
Setelah beberapa jam berkeliling Glodok, Ros membawa tiga kantong plastik besar yang berisi barang belanjaan.
Baca Juga: Rudi dan Jefridin Pukul Bedug Buka Chinatown Imlek Festival II
Dia membeli sejumlah camilan untuk jamuan saat Imlek nantinya, hiasan dinding, lampion, hingga beberapa helai baju cheongsam untuk cucunya.
“Sudah hampir puluhan tahun, biasanya menjelang Imlek saya akan pergi ke Jakarta, untuk membeli beberapa barang sekaligus mengunjungi keluarga di sini,” ujarnya.
Pada saat perayaan Imlek mendatang, diperkirakan sejumlah pertunjukan termasuk tari barongsai akan dipentaskan di daerah sekitarnya. (amr/ xinhua-news.com)







