NATUNA (Kepri.co.id) – Natuna kembali mencatat langkah besar, memperkuat kedaulatan dan sistem mitigasi cuaca nasional. Dalam waktu dekat, wilayah perbatasan strategis di utara Indonesia ini akan diperkuat dengan radar cuaca berteknologi tinggi MMS-2 (Meteorological Monitoring System generasi ke-2), hasil kerja sama BMKG, PT LEN Industri, dan Leonardo GmbH Germany.
Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menegaskan, kehadiran radar MMS-2 bukan sekadar peningkatan teknologi meteorologi, tetapi bagian penting dari sistem pertahanan udara Indonesia di kawasan perbatasan.
”Langkah ini bukan hanya soal teknologi, tapi tentang kedaulatan. Dengan radar ini, Indonesia mengelola langitnya sendiri—dari prakiraan cuaca hingga pemantauan wilayah udara,” ujar Cen di Ranai, Selasa (11/11/2025).
Kunci Pengelolaan FIR dan Ketahanan Nasional
Radar MMS-2 akan menjadi instrumen utama, dalam mendukung pengelolaan Flight Information Region (FIR) yang kini sepenuhnya dikuasai Pemerintah Indonesia, setelah sebelumnya berada di bawah kendali Singapura.
”Ada tiga radar MMS-2 yang disiapkan: dua di Natuna dan satu di Tanjungpinang. Semua menjadi bagian dari sistem kendali FIR, dan penguatan infrastruktur pertahanan udara di wilayah strategis,” jelas Cen.
Cen menyebut, perjuangan menghadirkan radar ini sudah dimulai lima tahun lalu, saat dirinya masih duduk di Komisi V DPR RI dan bermitra dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Kini, sebagai Bupati Natuna, ia memastikan proyek bernilai strategis tersebut terealisasi di lapangan.
Teknologi dan Manfaat Strategis
Radar MMS-2 merupakan sistem pemantauan cuaca generasi terbaru, dengan kemampuan deteksi curah hujan, badai, petir, dan awan konvektif secara real-time hingga radius 480 Kilometer.
Teknologi Doppler C-Band dual polarization yang digunakan, memungkinkan pengamatan cuaca ekstrem dengan presisi tinggi, sangat vital bagi keselamatan penerbangan, pelayaran, dan mitigasi bencana.
Namun, lebih dari itu, radar ini memperkuat fungsi pertahanan udara nasional, terutama di kawasan perbatasan utara Indonesia yang kerap menjadi jalur lintas penerbangan internasional.
”Sistem radar ini bekerja ganda: sebagai mata cuaca dan mata keamanan udara. Data meteorologi yang akurat, akan memperkuat sistem intelijen cuaca dan mendukung operasi militer maupun sipil di kawasan perbatasan,” ujar Cen.
Kolaborasi Internasional Bernilai Strategis
Cen Sui Lan, yang juga memimpin delegasi Indonesia ke Jerman, turut menyaksikan langsung penandatanganan perjanjian kerja sama dan uji pabrik (Factory Acceptance Test) di markas besar Leonardo GmbH Germany, produsen radar kelas dunia yang menjadi mitra PT LEN Industri (Persero) dan BMKG.
Dalam kunjungan tersebut, manajemen Leonardo GmbH Germany memaparkan Standar Operasional Prosedur (SOP) sistem radar canggih tersebut, memastikan setiap komponen memenuhi kriteria presisi tinggi sebelum dikirim ke Indonesia.
Proyek radar MMS-2 senilai Rp2 triliun ini, didanai melalui pinjaman luar negeri dari Pemerintah Prancis, dan dijadwalkan mulai dipasang di Natuna dan Tanjungpinang pada Januari 2026.
Menjaga Langit, Menjaga Masa Depan
Radar MMS-2 menjadi simbol kemajuan Indonesia, dalam bidang teknologi meteorologi dan pertahanan udara terpadu.
Dengan kehadiran sistem ini, Natuna bukan hanya menjadi titik pantau cuaca strategis, tetapi juga benteng udara NKRI yang berperan penting, menjaga kedaulatan dan keselamatan penerbangan di jalur perbatasan internasional.
”Infrastruktur ini investasi masa depan. Ketika teknologi cuaca dan pertahanan bersatu, Indonesia tidak hanya kuat di darat dan laut, tetapi juga di langitnya sendiri,” tutup Cen optimistis. (abed)
BERITA TERKAIT:
Radar S-Band Natuna: Penjaga Langit Perbatasan, Benteng Kedaulatan Cuaca Indonesia
Suara dari Perbatasan: Cen Sui Lan Perjuangkan Bandara Sipil Natuna Demi Bangkitnya Daerah Terdepan
Bandara Ranai Masih Nyatu Fungsi Komersil dan Pertahanan, Cen Sui Lan Desak Menhub Buat Pemisahan







