KUALA LUMPUR (Kepri.co.id – Xinhua) – Hubungan antara Malaysia dan China tetap kuat dan bermanfaat, saat kedua negara memperingati 50 tahun pembentukan hubungan diplomatik, kata Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, Kamis (6/6/2024).
Dalam pidato utamanya di Asia-Pacific Roundtable (APR) ke-37, Anwar menyoroti, China merupakan mitra dagang terbesar, investor utama, serta mitra bilateral dan multilateral yang erat bagi negara Asia Tenggara tersebut, sembari menyatakan keberhasilan yang telah dicapai China, terutama dalam pengentasan kemiskinan.

Kemajuan yang telah dicapai China di masa lalu, terutama peningkatan signifikan dalam kualitas hidup ratusan juta rakyatnya, sungguh spektakuler, ungkapnya.
Anwar juga menekankan, Malaysia memiliki kebijakan nonblok yang sudah lama dianut, akan terus berada di jalur ini, mengupayakan kerja sama dan manfaat bersama sembari menghindari konfrontasi dan keterikatan geopolitik.
“Dengan tetap setia pada prinsip nonblok, kami telah membuktikan, mengejar netralitas yang dinamis tidak hanya layak (dilakukan) tetapi juga sangat diinginkan,” tuturnya.
APR, yang berlangsung dari Selasa (4/6/2024) hingga Kamis (6/6/2024), merupakan konferensi internasional utama dari Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia.

Foto dari udara yang diabadikan pada 6 Oktober 2020 ini, memperlihatkan pemandangan Kawasan Industri Qinzhou China-Malaysia di Qinzhou, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan. (F. Xinhua/Zhou Hua)Duta Besar China untuk Malaysia, Ouyang Yujing pada Rabu (5/6/2024), mengatakan, mengingat tahun ini menandai Tahun Pertukaran Antarmasyarakat China-ASEAN, China bersedia menjalin kerja sama dengan mitra-mitranya di ASEAN, untuk lebih mempererat ikatan antarmasyarakat dengan meningkatkan pertukaran di bidang budaya, media, pendidikan, pariwisata, kepemudaan, wadah pemikir, dan bidang-bidang lainnya.
“China siap bekerja sama dengan negara-negara ASEAN, mengimplementasikan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/ RCEP) secara lebih efektif, memperdalam kolaborasi industri, menstabilkan rantai produksi dan pasokan, meningkatkan konektivitas regional, serta melepaskan lebih lanjut potensi industri-industri emerging. Seperti transformasi digital dan ekonomi hijau. China juga bersedia memperdalam kerja sama industri lintas perbatasan dengan negara-negara ASEAN,” imbuhnya. (asa/ xinhua-news.com)







