KAIRO (Kepri.co.id – Xinhua) – Liga Arab mengikuti situasi keamanan di Suriah dengan penuh keprihatinan, menurut organisasi pan-Arab tersebut dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (8/3/2025).
Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Kairo. (XHTV)
Liga Arab juga mengutuk kekerasan dan pembunuhan yang tidak terkendali, serta setiap intervensi eksternal yang bertujuan untuk memperkeruh situasi internal di Suriah.
Perkembangan yang terjadi di Suriah, membutuhkan fokus pada kebijakan dan langkah yang dapat meningkatkan stabilitas dan perdamaian sipil, guna menggagalkan upaya-upaya untuk merusak kestabilan Suriah dan menghambat pemulihannya, tambah pernyataan itu.
Baca Juga: Warga Suriah Korban Perang Buka Puasa Bersama di Tengah Reruntuhan di Damaskus
Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Irak, menyatakan keprihatinannya atas perkembangan situasi keamanan di Suriah dan menyerukan perlindungan terhadap warga sipil dan agar semua pihak menahan diri.
Dalam pernyataannya, kementerian itu mengatakan Irak dengan tegas menolak penargetan warga sipil dan memperingatkan, bahwa kekerasan yang terus berlanjut hanya akan memperburuk krisis dan memperdalam ketidakstabilan di kawasan tersebut.
Baca Juga: Delegasi Rusia Tiba di Damaskus, Tegaskan Komitmen terhadap Integritas Teritorial Suriah
Kementerian itu juga meminta semua pihak, menahan diri dan mengupayakan penyelesaian konflik melalui jalur dialog alih-alih eskalasi militer.
Menyusul bentrokan di Kegubernuran Latakia, wilayah pesisir di Suriah, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan korban luka, Kementerian Luar Negeri Mesir pada Jumat (7/3/2025), mengeluarkan pernyataan yang menegaskan kembali dukungan Mesir untuk negara Suriah, institusi nasionalnya, dan stabilitasnya dalam menghadapi tantangan keamanan.
Baca Juga: Surat dari Timur Tengah: Hidup dalam Realitas Baru dan Asing di Suriah
Kementerian tersebut juga menyatakan, Mesir menolak setiap tindakan yang merusak keamanan, keselamatan, dan stabilitas rakyat Suriah.
Sedikitnya 237 orang dilaporkan tewas di wilayah pesisir Suriah sejak eskalasi militer terbaru meletus pada Kamis (6/3/2025), menurut laporan jumlah korban yang dirilis oleh Observatorium Suriah, untuk Hak Asasi Manusia pada Jumat (7/3/2025).
Baca Juga: Sekjen PBB Desak Israel Hentikan Pelanggaran Kedaulatan dan Integritas Teritorial Suriah
Badan pemantau perang melaporkan sejumlah personel militer, pejuang perlawanan, dan warga sipil turut menjadi korban tewas ketika pasukan pemerintah, melanjutkan upaya pemberantasan sisa-sisa faksi militer rezim sebelumnya di kegubernuran Latakia, Tartous, dan Hama.
Hal ini menandai eskalasi paling mematikan di negara tersebut, sejak jatuhnya pemerintahan sebelumnya pada Desember 2024, kata observatorium tersebut. (amr/ xinhua-news.com)







