Akademisi China dan Indonesia Bahas Jalur Baru untuk Kerja Sama Modernisasi

Akademisi China dan Indonesia Bahas Jalur Baru untuk Kerja Sama Modernisasi
Foto yang diabadikan pada 5 Desember 2025 ini, menunjukkan upacara pembukaan seminar bertajuk "Kerja Sama Modernisasi China-Indonesia: Warisan Sejarah dan Prospek Masa Depan" (China-Indonesia Modernization Cooperation: Historical Legacy and Future Prospects) yang digelar di Universitas Ji'nan, Guangzhou, Provinsi Guangdong, China selatan. (F. Xinhua)

GUANGZHOU (Kepri.co.id – Xinhua) – Seminar bilateral bertajuk “Kerja Sama Modernisasi China-Indonesia: Warisan Sejarah dan Prospek Masa Depan” (China-Indonesia Modernization Cooperation: Historical Legacy and Future Prospects) digelar pada Jumat (5/12/2025) di Universitas Ji’nan di Guangzhou, Provinsi Guangdong, China selatan.

Puluhan pakar dan akademisi dari wadah pemikir (think tank), universitas, dan lembaga penelitian kedua negara berkumpul, untuk mendalami cara mempromosikan keselarasan yang mendalam bagi strategi modernisasi kedua negara, dan memetakan jalur baru kerja sama di tengah kebangkitan Global South.

Para peserta sepakat kerja sama China-Indonesia memiliki pondasi yang solid dan komplementaritas yang kuat. Kerja sama ini harus didukung oleh proyek-proyek praktis, berfokus pada bidang-bidang seperti industrialisasi, infrastruktur, ekonomi kelautan, dan kekuatan produktif berkualitas baru. Secara bersamaan, kedua belah pihak harus secara aktif mengatasi berbagai tantangan terkait kepercayaan timbal balik, serta lingkungan eksternal untuk memastikan kemajuan yang stabil dan berkelanjutan dalam hubungan bilateral.

Xu Liping, peneliti di Akademi Ilmu Sosial China, mengatakan, konteks penting dalam membahas modernisasi China-Indonesia adalah kebangkitan Global South. Mengutip data, dia menyebukan porsi output ekonomi total Global South kini melampaui 40 persen, menjadikannya kontributor utama bagi pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, peran Global South dalam tata kelola global dan identitas kolektifnya terus menguat.

Akademisi China dan Indonesia Bahas Jalur Baru untuk Kerja Sama Modernisasi
Foto yang diabadikan pada 5 Desember 2025 ini, menunjukkan suasana diskusi dalam seminar bertajuk “Kerja Sama Modernisasi China-Indonesia: Warisan Sejarah dan Prospek Masa Depan” (China-Indonesia Modernization Cooperation: Historical Legacy and Future Prospects) yang digelar di Universitas Ji’nan, Guangzhou, Provinsi Guangdong, China selatan. (F. Xinhua)

Bersamaan dengan itu, model-model modernisasi non-Barat sedang bergerak menjadi pusat perhatian. Xu meyakini jalur modernisasi China, filosofi Ubuntu Afrika, eksplorasi modernisasi di dunia Islam, dan sebagainya, semuanya merupakan jalur pembangunan yang mengintegrasikan kondisi nasional sekaligus menggabungkan pengalaman Barat.

Dengan latar belakang ini, China dan Indonesia memiliki visi yang serupa: China sedang berupaya mencapai Tujuan Seratus Tahun Kedua, sementara Indonesia memiliki “Visi Indonesia Emas 2045”, yang bertujuan menjadi negara maju pada peringatan seratus tahun kemerdekaannya. “Tujuan kedua belah pihak ini masih cukup mirip,” ujar Xu.

Veronika S Saraswati, Direktur Global Development Research Center (GDRC) Indonesia, mengungkapkan volume perdagangan bilateral melonjak dari hanya 1,8 miliar Dolar AS (1 Dolar AS = Rp16.646) pada 1999 menjadi 133,9 miliar Dolar AS pada 2023, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Dan selama 10 tahun terakhir, China menjadi mitra dagang terbesar dan investor asing utama Indonesia.

“Investasi China memainkan peranan krusial dalam mempercepat transisi Indonesia, dari model pertumbuhan berbasis sumber daya alam menuju sistem produksi yang lebih terintegrasi dan berorientasi teknologi,” kata Saraswati.

Bagaimana visi bersama ini dapat diwujudkan menjadi kenyataan? Para akademisi menguraikan beberapa jalur potensial bagi kerja sama.

Pertama, industrialisasi menjadi inti dari modernisasi. Xu menyarankan kedua belah pihakĀ  fokus pada kerja sama industri hilir, bersama-sama membangun rantai industri regional untuk “bijih nikel-baterai-kendaraan listrik,” dan membangun ekosistem baru untuk kerja sama industri pangan lintas perbatasan melalui model “Dua Negara, Taman Kembar” (Two Countries, Twin Parks).

Pandangan ini selaras dengan pengamatan para akademisi Indonesia. Ali Muhammad, associate professor dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mengambil contoh Kawasan Industri Morowali di Sulawesi, dengan mengungkapkan kawasan tersebut telah menjadi “pusat inti bagi strategi hilir Indonesia,” yang telah menyediakan sejumlah besar pekerjaan dan pendapatan pajak, dan juga memainkan peran kunci dalam sektor kendaraan listrik dan material baterai.

Akademisi China dan Indonesia Bahas Jalur Baru Kerja Sama Modernisasi
Kendaraan listrik (electric vehicle/EV) Wuling Cloud dipamerkan dalam sebuah acara di Cikarang, Provinsi Jawa Barat, pada 27 November 2024. (F. Xinhua/Zulkarnain)

Kedua, konektivitas infrastruktur merupakan pilar krusial. Saraswati, mengambil contoh Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), dengan mengatakan proyek tersebut “dapat membawa manfaat yang sangat signifikan.” Dia menepis narasi negatif beberapa media, dengan menyatakan teknologi kereta cepat China memperkenalkan moda transportasi yang benar-benar baru bagi Indonesia, yang secara drastis memangkas waktu tempuh antara Jakarta dan Bandung, serta akan mendukung produktivitas dan pertumbuhan ekonomi di sepanjang rute tersebut dalam jangka panjang.

Xu menambahkan, kerja sama infrastruktur di masa depan memerlukan perencanaan yang lebih kuat untuk memastikan proyek-proyek berkembang sejalan dengan fasilitas pendukung seperti kawasan industri, menghindari skenario “dibangun tetapi tidak ada yang mengikuti”.

Ketiga, kerja sama maritim memiliki potensi yang sangat besar. Siswanto Rusdi, Direktur National Maritime Institute (Namarin) di Indonesia, menuturkan, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, pembangunan infrastruktur maritim Indonesia sangat tidak merata, dengan hampir semua fasilitas yang dibangun dengan baik terpusat di Pulau Jawa. Dia meminta para investor China, fokus pada pembangunan pelabuhan dan sistem pendukungnya di Indonesia bagian timur.

Foto dokumentasi ini menunjukkan kapal “HYSY720” milik China Oilfield Services Limited (COSL) sedang berlayar. (F. Xinhua)

Siswanto juga mengusulkan sejumlah bidang kerja sama spesifik seperti digitalisasi perikanan, pembuatan kapal, dan pariwisata maritim.

Terlepas dari pencapaian-pencapaian yang signifikan, tantangan masih ada. Beberapa akademisi menyampaikan hubungan historis yang kompleks antara kedua negara dan penggambaran negatif China di media dan medsos memengaruhi persepsi publik Indonesia.

“Sejak pengaruh ekonomi dan geopolitik China yang semakin besar di Asia, media Indonesia, khususnya media arus utama, sering mengadopsi perspektif dan referensi dari media Barat; dan sebagian besar media arus utama didanai pendonor Barat. Ketergantungan ini mengakibatkan pemberitaan yang tidak proporsional dan tidak konsisten dengan fakta di lapangan, terutama mengenai isu-isu strategis yang melibatkan China,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pertukaran antarmasyarakat harus ditingkatkan untuk meningkatkan rasa saling percaya.

Guna memperkuat pondasi publik dan sosial bagi kerja sama, para akademisi menyerukan untuk memperdalam pertukaran antarmasyarakat dan budaya.

Akademisi China dan Indonesia Bahas Jalur Baru untuk Kerja Sama Modernisasi
Foto yang diabadikan pada 17 November 2025 ini, menunjukkan delegasi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengunjungi Jiangxi Science and Technology Normal University di Provinsi Jiangxi, China timur. (F. Xinhua)

Xu menyebut minimnya interaksi dua arah yang sangat buruk pada tingkat produksi pengetahuan dalam pertukaran budaya saat ini. “Ketika orang Indonesia mempelajari China, banyak yang mengandalkan karya-karya akademisi Barat tentang China. Sejauh mana karya-karya ini sesuai dengan situasi sebenarnya? Itu adalah pertanyaan besar,” Dia mengusulkan untuk membangun mekanisme yang mendorong akademisi dari kedua negara, terutama di bidang-bidang seperti antropologi, untuk melakukan penelitian lapangan mendalam di negara masing-masing.

Data menunjukkan bahwa pada 2024, investasi langsung China di Indonesia mencapai 8,1 miliar Dolar AS. Sekitar 5.000 perusahaan yang didanai China di Indonesia mencakup sejumlah sektor seperti energi dan mineral, menjadikan Indoneisa sebagai salah satu tujuan utama investasi asing bagi perusahaan-perusahaan China.

Namun, lingkungan bisnis masih memerlukan optimasi, dengan ruang untuk perbaikan dalam efisiensi layanan di sejumlah departemen seperti bea cukai dan imigrasi.

Ke depan, konsensus di antara para akademisi yang berpartisipasi adalah bahwa memprioritaskan pembangunan secara konsisten, fokus pada kerja sama dalam kekuatan produktif berkualitas baru, sembari memperkuat manajemen krisis dan perbedaan, merupakan kunci untuk memastikan kerja sama modernisasi yang stabil dan mendalam antara China dan Indonesia.

Mereka menyatakan kedua belah pihak seharusnya, dengan memajukan proyek-proyek praktis dan memperdalam pertukaran antarmasyarakat, melangkah menuju tahap baru yang lebih matang dan stabil. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Indonesia Investment Business Forum 2025 Perkuat Kerja Sama Investasi China dan Indonesia

Akademisi Sebut Indonesia dan China Berbagi Komitmen Dalam Penguatan Multilateralisme Global

Indonesia-China Jajaki Peluang Kerja Sama di Bidang Farmasi dan Pengawasan Obat

Indonesia-China Business Forum 2025 Hasilkan Transaksi Signifikan, Dorong Kerja Sama Kedua Negara

Akademisi Indonesia Sebut Peran China Kian Besar dalam Wujudkan Perdamaian di Timur Tengah

Dominasi Smartphone China di Indonesia Saat Ekonomi Lesu dan Persaingan Ketat