KUALA LUMPUR (Kepri.co.id – Xinhua) – Anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) perlu menyatukan kekuatan ekonomi kolektif mereka, agar dapat secara efektif menanggapi “gangguan” perdagangan yang diinisiasi Amerika Serikat (AS), menyusul penerapan sejumlah tarif terhadap sebagian besar perekonomian di seluruh dunia. Demikian menurut presiden sebuah kelompok bisnis Malaysia.
Tarif-tarif ini kemungkinan besar akan secara signifikan memengaruhi ekspor Malaysia, terutama di bidang produk listrik dan elektronik, turunan minyak kelapa sawit, produk berbasis karet, serta tekstil dan garmen, mengingat produk-produk tersebut merupakan kontributor utama bagi perdagangan Malaysia-AS, ungkap Presiden Asosiasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Malaysia, William Ng baru-baru ini kepada Xinhua.
“Tarif yang makin tinggi akan menyebabkan peningkatan biaya bagi pengimpor maupun pengekspor, mengurangi daya saing kita, tidak hanya di pasar AS tetapi juga di pasar-pasar negara lain, serta berpotensi memengaruhi lapangan kerja dan investasi di kalangan UKM,” kata William Ng.
“Kita dapat memperkirakan periode ketidakpastian yang singkat, karena perekonomian di seluruh kawasan dan perekonomian lain yang terdampak telah menyesuaikan kembali strategi mereka, guna melawan atau mengurangi imbas rangkaian tarif AS tersebut. Di dalam negeri, dampaknya akan berkisar dari minimal hingga moderat, dengan barang-barang yang diimpor dari AS kemungkinan akan menjadi lebih mahal dalam jangka menengah,” jelas William Ng.
Menyebut tarif AS sebagai “peringatan” bagi negara-negara anggota ASEAN, William Ng memaparkan, Malaysia sebagai Ketua ASEAN saat ini, harus mendorong dimulainya kembali perundingan mengenai pembentukan pasar tunggal ASEAN, yang memungkinkan didirikan suatu bentuk serikat pabean, yang secara lebih lanjut akan mengurangi hambatan nontarif.
“Kohesi intrakawasan ini sangat penting, mengingat ukuran masing-masing pasar yang relatif kecil. Secara kolektif, ASEAN berada di jalur yang tepat untuk menjadi perekonomian terbesar keempat di dunia pada 2030,” ujarnya.
William Ng juga mendorong UKM untuk beradaptasi dalam menghadapi tantangan baru dan memanfaatkan peluang, yang pasti akan muncul dari disrupsi ini. Dia juga menyampaikan bahwa dengan strategi yang tepat, kalangan bisnis dapat beradaptasi dan bahkan mendapatkan keuntungan dari pergeseran dinamika perdagangan global tersebut.
“Kami mendorong pemerintah dan UKM untuk mengambil tindakan guna mengurangi risiko dan memanfaatkan peluang baru. Para pelaku usaha harus belajar mendiversifikasikan sumber bahan baku dan pelanggan mereka, yaitu memastikan risiko rantai pasokan mereka dimitigasi. Ini merupakan praktik yang baik terlepas dari dampak penerapan rentetan tarif ini,” tutur William Ng.
“Di tingkat ASEAN, urgensi untuk menurunkan hambatan nontarif menjadi lebih mendesak dari sebelumnya. Diskusi mengenai pembentukan pasar tunggal ASEAN harus segera dibuka kembali, dengan tujuan menciptakan semacam serikat pabean yang dapat menguntungkan kita sebagai blok pengekspor dan pasar regional yang besar,” lanjutnya.
Presiden AS, Donald Trump pada Rabu (2/4/2025) mengumumkan tarif dasar sebesar 10 persen untuk impor dari semua mitra dagangnya, dan tarif tambahan yang lebih tinggi untuk beberapa mitra tertentu.
Keputusan Trump itu, memicu kritik tajam dari kalangan ekonom, pakar perdagangan, dan pemerintah asing yang melihatnya sebagai upaya keliru untuk menggunakan tarif sebagai instrumen dalam mengatasi ketidakseimbangan perdagangan yang kompleks. (amr/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Persatuan ASEAN-China Jadi Pertahanan Terbaik Asia dalam Hadapi Perang Dagang
BP Siapkan Jurus Hadapi Kenaikan Tarif AS, Kadin Siapkan Helpdesk bagi Pengusaha
Trump Tanda Tangani Rencana Berlakukan Tarif “Resiprokal” pada Mitra Dagang
BP Ambil Langkah-langkah Penyesuaian Hadapi Kebijakan Resiprokal AS
Dewan Keamanan Rusia: Tarif Baru AS Ancam Sistem Perdagangan Global
Eropa Hadapi Ancaman Tarif dari AS, PM Polandia Serukan UE Tetap Bersatu
Kebijakan Tarif Washington Picu Kekhawatiran dan Penolakan Luas
Biden Sebut Pendekatan Tarif Trump Sebagai “Kesalahan Besar”
Kolom: Dari Neokolonialisme Tarif AS hingga Rusaknya Stabilitas Ekonomi Global







