Kebijakan Tarif Washington Picu Kekhawatiran dan Penolakan Luas

Kebijakan Tarif Washington Picu Kekhawatiran dan Penolakan Luas
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan tarif timbal balik kepada mitra dagang di Taman Gedung Putih, pada Rabu (2/4/2025). (F. Xinhua)

BEIJING (Kepri.co.id – Xinhua) – Di tengah penolakan yang meluas, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Rabu (2/4/2025) menandatangani perintah eksekutif tentang apa yang disebut sebagai “tarif timbal balik” atau “reciprocal tariff“.

Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Beijing. (XHTV)

Menurut perintah eksekutif itu, “tarif dasar minimum” sebesar 10 persen dan tarif yang lebih tinggi akan diberlakukan terhadap mitra-mitra dagang tertentu.

Pemerintah Brasil mengatakan, langkah tersebut melanggar komitmen Washington terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Perdana Menteri (PM) Italia, Giorgia Meloni menyebutkan kebijakan tersebut sebagai “sebuah kesalahan yang tidak menguntungkan siapa pun.”

PM Australia, Anthony Albanese, mengatakan, pemberlakuan tarif tersebut “bukanlah sikap dari seorang teman.”

“Bagi Australia, tarif ini bukan hal yang mengejutkan. Namun, biar saya perjelas, tarif ini sama sekali tidak beralasan. Tarif yang diterapkan pemerintahan (AS) tidak memiliki dasar logika, dan bertentangan dengan dasar kemitraan antara kedua negara. Ini bukan sikap dari seorang teman. Keputusan ini akan menambah ketidakpastian dalam perekonomian global, dan akan meningkatkan biaya bagi rumah tangga AS. Rakyat AS akan terdampak paling besar dari tarif yang tidak dapat dibenarkan ini,” ujar PM Australia, Anthony Albanese.

Meskipun Trump mengeklaim bahwa tarif yang lebih tinggi akan membantu menghasilkan pendapatan bagi pemerintah dan merevitalisasi manufaktur AS, para ekonom memperingatkan bahwa langkah-langkah tersebut akan menaikkan harga bagi para konsumen dan bisnis AS, mengganggu perdagangan global, serta merugikan perekonomian global.

“Tarif-tarif ini sebagian besar dan terutama merugikan perekonomian AS. Artinya, impor-impor ini menjadi lebih mahal bagi perusahaan-perusahaan AS. Mereka harus membayar harga yang lebih tinggi. Itu berarti produk mereka akan menjadi lebih mahal, sehingga mereka kehilangan daya saing di pasar internasional, kemungkinan akan terjadi inflasi yang lebih tinggi di AS, dan perusahaan-perusahaan mereka menjadi kurang kompetitif. Jadi, AS benar-benar merugikan dirinya sendiri,” ujar Profesor Ekonomi Internasional di Universitas Kiel Jerman, Holger Goerg.

“Sangat disayangkan, pemerintahan Trump memilih menerapkan tarif dan pajak yang lebih tinggi. Apa yang dia lakukan, pada dasarnya telah menurunkan semangat terhadap prospek pemulihan ekonomi global. Sebenarnya, sudah ada prediksi bahwa perekonomian utama dunia sedang merevisi proyeksi pertumbuhannya,” ujar Akademisi hubungan internasional yang berbasis di Kenya, Cavince Adhere. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Tarif Timbal Balik Trump Picu Aksi Jual Global di Tengah Kekhawatiran Resesi

Ekonom Sebut Indonesia Akan Hadapi Perlambatan Ekonomi Akibat Tarif AS Ancam Ekspor, Mata Uang, dan Pekerjaan

Trump Tanda Tangani Rencana Berlakukan Tarif “Resiprokal” pada Mitra Dagang

Eropa Hadapi Ancaman Tarif dari AS, PM Polandia Serukan UE Tetap Bersatu

Akademisi Singapura Kritik Rencana Tarif Trump, Ada Harga yang Harus Dibayar

Biden Sebut Pendekatan Tarif Trump Sebagai “Kesalahan Besar”

UE Bersiap Lawan Potensi Tarif Perdagangan Trump

Tesla dan BMW Bergabung dengan Produsen Kendaraan Listrik China Gugat Tarif UE

Rapat dengan Operator Ferry, Ansar Ingin Tarif Tiket Batam – Singapura Turun

Trump Umumkan akan Berlakukan Tarif Otomotif 25 Persen pada 2 April 2025