Ekonomi Kepri Tumbuh 7,48%, Tertinggi di Sumatera: Industri, Investasi, dan Digitalisasi jadi Motor Penggerak

Ekonomi Kepri Tumbuh 7,48%, Tertinggi di Sumatera: Industri, Investasi, dan Digitalisasi jadi Motor Penggerak
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Rony Widijarto P. (Sumber: BI Kepri)

BATAM (Kepri.co.id) — Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan III tahun 2025 mencapai 7,48% (yoy) — meningkat dari 7,14% pada triwulan sebelumnya.

Secara kumulatif, ekonomi Kepri tumbuh 6,60% (ctc) dan masih menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera, dengan kontribusi 7,07% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera, jauh di atas rata-rata pertumbuhan regional yang hanya 4,90%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Rony Widijarto P, mengatakan, kinerja kuat ini didorong oleh sektor-sektor unggulan seperti industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan.

”Pertumbuhan ekonomi Kepri tetap solid karena dukungan industri, proyek strategis, dan pariwisata yang semakin menggeliat,” ujar Rony di Batam, Jumat (7/11/2025).

Industri dan Investasi Jadi Penopang Utama

Sektor industri pengolahan tumbuh 6,82% (yoy), didorong oleh meningkatnya produksi manufaktur pasca kepastian tarif resiprokal AS.

Sementara sektor pertambangan dan penggalian melonjak hingga 19,83% (yoy), berkat beroperasinya dua sumur migas baru di Natuna.

Kinerja sektor konstruksi juga menguat 5,71% (yoy) karena berlanjutnya pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI) di sejumlah wilayah Kepri.
Sektor perdagangan tumbuh 5,54% (yoy), ditopang aktivitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) serta pariwisata yang terus pulih.

Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan intermediasi perbankan juga menunjukkan tren positif. Kredit tumbuh 20,61% (yoy), dana pihak ketiga (DPK) naik 14,06%, dan aset perbankan meningkat 13,14%.

Pembiayaan korporasi dan UMKM pun turut tumbuh pesat, masing-masing sebesar 26,37% dan 12,96% (yoy). ”Ini menandakan aktivitas bisnis dan konsumsi masyarakat di Kepri makin bergairah,” kata Rony.

Digitalisasi Jadi Katalis Ekonomi

Bank Indonesia mencatat, peran digitalisasi transaksi melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) terus meningkat tajam. Hingga September 2025, terdapat 64,94 juta transaksi QRIS di Kepri, atau tumbuh 181,93% (yoy) dengan nilai mencapai Rp7,71 triliun — naik 140,62% (yoy).

Transaksi lintas negara juga mulai berkembang pesat, terutama dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura. ”Digitalisasi menjadi katalis penting bagi perputaran ekonomi daerah, khususnya UMKM dan sektor jasa,” terang Rony.

Konsumsi dan Investasi Menjadi Penopang Domestik

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 9,05% (yoy), mencerminkan iklim investasi yang sehat baik dari penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Peningkatan ini juga dipicu oleh kemudahan perizinan yang diatur dalam PP Nomor 25 Tahun 2025 dan PP Nomor 28 Tahun 2025, yang memperkuat status Kepri sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas.

Sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 4,12% (yoy), didukung oleh meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Dari sisi perdagangan luar negeri, net ekspor tumbuh 16,45% (yoy), menunjukkan permintaan global terhadap produk Kepri yang terus meningkat.

Inflasi Terkendali dan Stabilitas Terjaga

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi Kepri masih terjaga. Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2025 mencatat inflasi 0,36% (mtm) — lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi berada di 3,01% (yoy), sedikit meningkat namun masih dalam batas aman.

Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas perawatan pribadi dan jasa lainnya, seperti emas perhiasan, akibat ketidakpastian geopolitik global. Namun, deflasi di kelompok makanan dan minuman menahan lonjakan harga.

BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus mengawal stabilitas harga, terutama untuk komoditas pangan strategis seperti cabai merah dan cabai rawit, melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan strategi 4K: Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.

Optimisme Akhir Tahun

Menutup 2025, BI optimistis ekonomi Kepri akan tetap tumbuh kuat, ditopang pengembangan KEK, KI, Proyek Strategis Nasional (PSN), serta meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang akhir tahun.

”Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan pelaku usaha akan terus memperkuat sinergi melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED) agar momentum positif ini berlanjut,” tutup Rony Widijarto. (asa)

BERITA TERKAIT:

Deflasi Juni Beri Ruang Nafas Ekonomi Kepri, Stabilitas Harga Tetap Jadi Fokus

Tumbuh 5,02% (YoY) di 2024, BI Optimis Ekonomi Kepri Tetap Kuat di 2025

Ekonomi Kepri Melonjak: Tumbuh 6,94% di Triwulan IV-2024, Peringkat Tiga Nasional Q to Q