JAKARTA (Kepri.co.id) – Indonesia dilaporkan telah memasuki musim kemarau, yang menjadikan beberapa wilayah rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (2/8/2024) melaporkan, terdapat lebih dari 13 provinsi yang paling rentan terhadap karhutla, dengan lebih dari 1.000 titik panas.
Baca Juga: Satbrimob Padamkan Api Karhutla Kawasan Bandara Hang Nadim
Enam dari provinsi-provinsi itu terletak di Pulau Sumatera, yaitu Riau, Jambi, Kepulauan Riau (Kepri), Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung mencatatkan status berisiko tinggi. BMKG telah memperingatkan warga, tidak membakar sampah atau melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan kebakaran.
BMKG menyatakan di situs webnya, karhutla sebagian besar disebabkan kondisi cuaca kering, curah hujan rendah, dan angin kencang. “Faktor-faktor ini telah meningkatkan risiko karhutla di daerah-daerah tersebut,” kata BMKG.

Karhutla juga dipengaruhi gelombang Rossby Ekuator (Rossby Equatorial) dan gelombang Kelvin, yang diprediksi aktif di kawasan ini.
Selain itu, faktor pemanasan skala lokal juga secara signifikan memengaruhi proses pengangkatan massa udara dari permukaan Bumi ke atmosfer, menurut BMKG.
Media lokal telah melaporkan sejumlah kasus karhutla dalam beberapa hari terakhir. Di Kecamatan Bintan Utara, Provinsi Kepri, api berkobar di area seluas 8 hektare pada Rabu (31/7/2024).
Pada Kamis (1/8/2024), Pemerintah Kabupaten Kampar di Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat karhutla, serta meminta semua otoritas terkait mempersiapkan langkah-langkah konkret menghadapi peningkatan suhu di musim kemarau.
Namun, Penjabat Bupati Kampar, Hambali mengatakan, selain dipicu suhu udara yang meningkat, kelalaian manusia dalam bentuk aktivitas membersihkan lahan dengan cara pembakaran, dapat memperburuk potensi karhutla.
“Kami akan menindak tegas, kepada mereka yang sengaja membakar lahan. Saya telah memerintahkan seluruh instansi terkait di daerah, mengimbau masyarakat tidak membersihkan lahan dengan cara membakar,” ujar Hambali, seperti dikutip media setempat.
Di Provinsi Jambi, sebuah insiden kebakaran menghanguskan 6,5 hektare lahan di dua daerah berbeda pada Jumat (2/8/2024) lalu. Sebagian besar kobaran api ditemukan di semak belukar.

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 15 Juli 2024 ini, menunjukkan pemandangan hutan bakau di daerah pesisir dekat proyek Jawa 7 di Serang, Provinsi Banten. (F. Xinhua/Xu Qin)
Indonesia dikenal sebagai negara yang rentan terhadap karhutla gambut, merupakan penyumbang emisi terbesar, seiring Indonesia menghadapi musim kemarau lebih panjang dan lebih kering setiap tahun akibat fenomena iklim El Nino.
Dari Januari hingga Oktober 2023, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia (RI) melaporkan bahwa karhutla telah menghanguskan 994.313 hektare lahan, melepaskan 40,6 juta ton emisi karbon dioksida.
Tahun 2019, kebakaran melahap 3,1 juta hektare hutan hujan dan lahan gambut, yang melebihi total luas wilayah Belgia. Beberapa negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia, juga terdampak kabut asap dari kebakaran tersebut.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Siti Nurbaya Bakar, menyatakan, komitmennya mengatasi karhutla dengan lebih waspada.
“Kita harus meningkatkan kontrol dan memperkuat pengawasan. Jangan sampai kobaran api menyebar melintasi perbatasan,” sebut Siti Nurbaya. (hen/ xinhua-news.com)







