Penulis: Silvi Aris Arlinda S.I.Kom MIKom
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi
KITA hidup di zaman di mana hening terasa asing. Suara notifikasi, trending topic, dan pembaruan media sosial seolah menjadi musik latar kehidupan sehari-hari. Di tengah hiruk pikuk itu, muncul tren baru yang menarik: JOMO atau Joy of Missing Out– kebahagiaan karena memilih untuk ”tidak selalu tahu”.
Jika dulu kita hidup dalam bayang-bayang FOMO (Fear of Missing Out), takut ketinggalan berita, gosip, atau tren terbaru, kini banyak orang justru merayakan kebalikannya. Mereka dengan sadar menonaktifkan notifikasi, membatasi waktu layar, bahkan memilih offline demi menjaga ketenangan batin.
Dari FOMO ke JOMO: Pergeseran Pola Komunikasi Digital
Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena JOMO menunjukkan perubahan cara kita berinteraksi dengan teknologi dan orang lain. FOMO merepresentasikan perilaku komunikasi yang berorientasi eksternal, di mana individu merasa harus terus hadir di ruang digital agar diakui keberadaannya. Sementara JOMO adalah bentuk komunikasi yang berorientasi internal: kesadaran diri untuk mengatur ritme komunikasi sesuai kebutuhan pribadi, bukan tekanan sosial.
Teori Uses and Gratifications yang dikembangkan oleh Elihu Katz dan Jay G. Blumler (1974), menjelaskan, khalayak bukan penerima pasif pesan media, melainkan pengguna aktif yang menggunakan media sesuai dengan kebutuhan dan kepuasan yang ingin dicapai. Mereka yang mengadopsi JOMO sejatinya sedang melakukan self-regulation dalam berkomunikasi memilih untuk tidak selalu hadir, justru demi menjaga kualitas keterhubungan dengan diri dan lingkungan nyata.
Dalam konteks ini, keputusan seseorang untuk ”menikmati ketinggalan”, dapat dipahami sebagai upaya sadar dalam memilih media dan menentukan kapan harus terhubung, serta kapan harus menarik diri demi kepentingan psikologis dan sosial yang lebih seimbang.
Komunikasi Diam sebagai Literasi Digital Emosional
JOMO juga dapat dipahami sebagai praktik literasi digital emosional. Ia mengajarkan bagaimana individu mengelola batas emosinya dalam komunikasi daring. Tidak semua pesan harus dijawab segera, tidak semua unggahan harus dikomentari. Kadang, diam adalah bentuk komunikasi yang paling bijak.
Dalam konteks komunikasi interpersonal, kemampuan menahan diri dari arus pesan yang tiada henti, menunjukkan bentuk assertive communication, kemampuan untuk menyatakan ”tidak” terhadap tekanan sosial media tanpa merasa bersalah. Komunikasi semacam ini tidak memutus hubungan, tetapi justru memperkuat kualitas interaksi yang lebih autentik dan reflektif.
Paradoks Konektivitas: Semakin Offline, Semakin Nyata
Menariknya, mereka yang hidup dalam semangat JOMO, sering kali memiliki relasi sosial yang lebih bermakna. Mereka hadir dalam percakapan tatap muka tanpa tergoda untuk mengecek ponsel, mendengarkan tanpa multitasking, dan menikmati waktu tanpa dorongan untuk mendokumentasikan segalanya.
Paradoks ini memperlihatkan bahwa dalam dunia komunikasi modern, semakin seseorang mampu mengatur jarak dengan teknologi, semakin ia mampu membangun koneksi yang sejati. JOMO tidak anti-media, tetapi mengajak kita untuk memulihkan kembali kendali atas teknologi yang semula mengendalikan kita.
Penutup: Merayakan Keheningan Sebagai Pilihan Komunikasi
Di tengah dunia yang sibuk mencari perhatian, memilih diam bisa menjadi bentuk keberanian. JOMO mengajarkan bahwa tidak hadir pun bisa bermakna, bahwa ketidaktahuan terhadap tren terkini bukan tanda ketinggalan, melainkan pilihan sadar untuk hadir bagi diri sendiri.
Dalam kacamata ilmu komunikasi, JOMO adalah refleksi dari komunikasi yang berkesadaran komunikasi yang tidak hanya terjadi antarindividu, tetapi juga antara manusia dengan dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, menikmati diam bukan berarti kehilangan koneksi, melainkan menemukan kembali keseimbangan di tengah bisingnya dunia digital. ***
Sumber Referensi;
Katz, E., Blumler, J. G., & Gurevitch, M. (1974). Uses and gratifications research. Public Opinion Quarterly, 37(4), 509–523. https://doi.org/10.1086/268109
***) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.
BACA JUGA:
Dari Kontroversi ke Refleksi: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kasus Trans7?
Membangun Citra dan Kepercayaan: Tantangan Komunikasi UMKM di Dunia Digital
Makin Banyak Sekolah di AS Larang Penggunaan Ponsel di Tengah Maraknya Masalah Kesehatan Mental
Badan Pendidikan Finlandia Desak Pembatasan Penggunaan Ponsel di Sekolah
Studi Ungkap Penggunaan Media Sosial Dapat Bantu Cegah Depresi







