Oleh: Silvi Aris Arlinda SIKom MIKomĀ

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi
PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pola komunikasi bisnis, termasuk bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Jika dulu interaksi dengan pelanggan dilakukan secara langsung, kini komunikasi banyak terjadi melalui layar baik lewat media sosial, marketplace, maupun platform pesan instan.
Transformasi ini, membuka peluang besar bagi UMKM untuk memperluas pasar, namun sekaligus menghadirkan tantangan dalam membangun citra dan kepercayaan di ruang digital.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, citra (image) tidak hanya terbentuk dari kualitas produk, tetapi juga dari cara UMKM menyampaikan pesan kepada khalayak.
Setiap unggahan, balasan komentar, hingga cara menanggapi keluhan pelanggan, menjadi bagian dari proses komunikasi yang membentuk persepsi publik.
Di era digital yang serba cepat, konsistensi dan kejujuran dalam komunikasi, menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan pelanggan.
Sayangnya, tidak sedikit pelaku UMKM yang masih memandang digitalisasi sebatas kehadiran di media sosial, tanpa strategi komunikasi yang matang.
Banyak akun usaha yang aktif mempromosikan produk, tetapi kurang memperhatikan aspek komunikasi dua arah.
Padahal, pelanggan digital tidak hanya ingin melihat produk, tetapi juga merasakan kedekatan, empati, dan profesionalisme dari pelaku usaha.
Selain itu, etika komunikasi digital sering kali menjadi tantangan tersendiri. Misalnya, penggunaan foto produk yang tidak sesuai kenyataan, testimoni palsu, atau pengabaian terhadap keluhan konsumen.
Praktik-praktik ini, justru dapat menurunkan kredibilitas merek dan menimbulkan krisis kepercayaan di tengah publik.
Dalam konteks ini, literasi komunikasi digital menjadi bekal penting agar pelaku UMKM mampu menyampaikan pesan secara etis, efektif, dan persuasif.
UMKM juga perlu memahami pentingnya storytelling digital, sebagai strategi membangun citra.
Menceritakan proses di balik produk, nilai lokal yang diusung, hingga kisah perjuangan usaha dapat menciptakan koneksi emosional dengan konsumen.
Narasi yang autentik akan lebih mudah dipercaya dan diingat oleh publik, dibandingkan sekadar promosi harga atau diskon.
Dari sisi kelembagaan, pemerintah dan akademisi memiliki peran strategis, untuk memperkuat kapasitas komunikasi digital UMKM.
Program pelatihan, pendampingan, dan literasi digital perlu diarahkan tidak hanya pada kemampuan teknis menggunakan platform, tetapi juga pada kemampuan menyusun pesan, mengelola reputasi, dan membangun relasi komunikasi dengan pelanggan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, digitalisasi bukan sekadar soal adaptasi teknologi, melainkan transformasi budaya komunikasi. UMKM yang mampu membangun citra positif dan menumbuhkan kepercayaan publik di dunia digital, akan lebih siap menghadapi tantangan persaingan global.
Dengan komunikasi yang etis, kreatif, dan strategis, UMKM Indonesia dapat naik kelas menjadi pelaku ekonomi yang tangguh, sekaligus komunikatif di era digital. ***
BERITA TERKAIT:
Saatnya UMKM Tanjungpinang Naik Kelas Lewat Digital Marketing
Semangat Baru untuk Kepri: Kepala BI Kepri Berganti, Sinergi Ekonomi dan Digitalisasi Siap Diperkuat
BI Luncurkan Inovasi QRIS TAP, Pembayaran Cepat dan Aman Secara Digital
Kolaborasi Digital Jadi Sorotan Utama di China-ASEAN Expo







