Mesin Caterpillar 800 kW Menuju Tarempa, Nusa Daya Ungkap Penyebab Gangguan Listrik Berulang

F. Latif Sabrian

ANAMBAS,Kepri.co.id – Mesin pembangkit Caterpillar berkapasitas 800 kW sedang dalam perjalanan menuju Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas. Kedatangan mesin tersebut, diharapkan membantu mengatasi keterbatasan daya sekaligus membuka kesempatan bagi PT PLN Nusa Daya, melakukan pemeliharaan mesin pembangkit yang selama ini terus beroperasi menghadapi peningkatan beban listrik.

Manajer PT PLN Nusa Daya yang menangani wilayah kerja Kabupaten Kepulauan Anambas dan Natuna, Albert Sitorus, menjelaskan, persoalan kelistrikan di Tarempa berkaitan dengan peningkatan beban puncak yang tidak diimbangi kondisi mesin pembangkit yang siap menjalani pemeliharaan.

Dalam wawancara pada Minggu malam, 18 Oktober 2026, Albert menyebut, beban puncak listrik Tarempa pada 2025 mencapai 3 MW. Namun, pada 2026, angka tersebut meningkat menjadi 3,8 MW atau bertambah sekitar 800 kW.

Menurutnya, peningkatan kebutuhan listrik tersebut, membuat pihaknya harus terus menaikkan kemampuan mesin yang tersedia. Kondisi ini, diperberat oleh belum dilakukannya pemeliharaan terhadap mesin unit 3 dan unit 4.

Beban Listrik Meningkat, Mesin Terus Dipaksakan Beroperasi

Albert menjelaskan, persoalan mulai memuncak pada Agustus 2026. Saat itu, beban listrik Tarempa melampaui daya mampu mesin pembangkit sehingga pihaknya harus meningkatkan kemampuan mesin yang belum menjalani pemeliharaan.

“Kenaikan beban itulah yang memaksa kita menaikkan kemampuan mesin yang belum dilakukan pemeliharaan. Kondisi tersebut, mengakibatkan terjadi gangguan pada mesin karena mesin terlalu dipaksakan beroperasi demi menghindari pemadaman,” jelas Albert.

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat mesin pembangkit harus terus beroperasi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Sementara itu, peningkatan kemampuan mesin tanpa pemeliharaan turut menimbulkan gangguan berulang.

Sebelumnya, pihaknya telah berkoordinasi untuk melakukan pemeliharaan terhadap mesin MTU 3 yang berkapasitas 400 kW. Namun, menurut Albert, rencana tersebut tidak disetujui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Anambas dan Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Tanjungpinang karena mesin pengganti belum tiba.

“Kalau kita melakukan pemeliharaan MTU 3, dampaknya terhadap pemadaman mencapai 400 kW. Makanya, dikirimkan mesin Caterpillar berkapasitas 800 kW ini,” kata Albert.

Mesin Caterpillar tersebut, lanjutnya, telah direncanakan sejak Agustus 2026. Kehadiran mesin Caterpillar ini, diharapkan dapat menambah kemampuan pasokan daya. Sehingga, pemeliharaan mesin lainnya bisa dilakukan tanpa mengurangi pasokan listrik secara berlebihan.

Mesin dari Jakarta Telah Tiba di Pelabuhan Tanjung Buton

Albert menyebut, mesin Caterpillar tersebut berasal dari Jakarta. Berdasarkan informasi yang disampaikan, mesin itu telah tiba di Pelabuhan Tanjung Buton, Riau, dan sedang melanjutkan perjalanan menuju Tarempa.

Ia memperkirakan, mesin tersebut dapat tiba dalam tujuh hingga delapan hari lagi, apabila perjalanan berjalan lancar. “Semoga, dalam minggu-minggu ini, sekitar tujuh sampai delapan hari ke depan. Mudah-mudahan, tidak ada halangan karena mesin tersebut sudah berangkat dari Buton menuju Tarempa,” ujarnya.

Setelah mesin tiba, Albert berharap, pihaknya dapat melakukan pemeliharaan terhadap mesin pembangkit yang selama ini terus beroperasi. Ia menjelaskan, tambahan kemampuan daya memungkinkan satu unit mesin dimatikan sementara selama satu hingga dua hari untuk pemeriksaan dan perawatan.

“Secara bersamaan, kita bisa mematikan satu unit mesin selama satu sampai dua hari untuk meningkatkan daya mampu dan melakukan investigasi terhadap mesin-mesin yang selama ini kita paksakan beroperasi,” jelasnya.

Menurut Albert, mesin Caterpillar tersebut, nantinya akan tetap berada di Tarempa. Kedatangan mesin Caterpillar ini, salah satu langkah yang diharapkan dapat membantu mengatasi keterbatasan daya sekaligus memberikan ruang bagi pemeliharaan pembangkit.

Jadwal Pemadaman di Luar Kewenangan Penanganan Mesin

Di tengah persoalan tersebut, masyarakat Pulau Siantan juga mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi di luar jadwal. Pemadaman terkadang berlangsung lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang telah diumumkan, bahkan terjadi ketika tidak ada jadwal pemadaman.

Menanggapi keluhan tersebut, Albert menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Namun, ia mengaku tidak dapat memastikan penyebab ketidaksesuaian jadwal pemadaman karena tanggung jawabnya berfokus pada kemampuan mesin pembangkit.

“Saya juga tidak bisa memastikan penyebab ketidaksesuaian waktu pemadaman karena posisi saya hanya menangani daya mampu mesin. Jadi, kalau terkait mengapa pemadaman terjadi lebih lambat atau lebih cepat dari jadwal, saya tidak bisa menjawabnya,” kata Albert.

Ia menjelaskan, gangguan mesin yang terjadi berulang berkaitan dengan peningkatan beban listrik dan kondisi mesin yang belum menjalani pemeliharaan. Kondisi tersebut membuat mesin harus terus dipaksakan beroperasi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat dan menghindari pemadaman.

Posisi Team Leader di Tarempa Masih Kosong

Selain persoalan teknis, Albert mengungkapkan keterbatasan tenaga kerja dalam pengawasan operasional kelistrikan di Anambas.

Albert menjelaskan, sebelumnya Ia bertugas sebagai Team Leader Operasi Anambas sejak 2023 hingga Desember 2025. Setelah itu, ia ditugaskan di Natuna untuk menangani kelistrikan di wilayah Natuna dan Anambas.

Menurut Albert, seharusnya terdapat petugas Team Leader di Tarempa yang memantau kondisi kelistrikan secara langsung. Namun, posisi tersebut hingga wawancara berlangsung masih kosong.

“Memang belum ada orangnya. Posisi Team Leader di sini (Tarempa) masih kosong,” ungkap Albert.

Ia menyebut keterbatasan tenaga kerja membuat dirinya turut menangani dua wilayah tersebut. Adapun alasan belum terisinya posisi Team Leader di Tarempa, Albert mengaku, tidak mengetahui secara pasti karena persoalan tersebut berada di luar kewenangannya.

Albert Minta Maaf kepada Masyarakat Anambas

Albert mengakui, peningkatan beban listrik hingga 3,8 MW menjadi kondisi yang mengejutkan bagi pihaknya. Ia mengatakan seluruh mesin yang tersedia saat ini harus dioperasikan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan daya.

Ia juga menegaskan bahwa keputusan mengenai pengadaan dan pengiriman mesin tidak dapat diambil sendiri karena harus melalui persetujuan pihak terkait.

“Kalau secara pribadi, seandainya saya bisa mengirim mesin, pasti akan saya kirim. Namun, semuanya harus mendapatkan persetujuan. Saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena saya hanya sebagai pelaksana,” kata Albert.

Ia memastikan tetap berkoordinasi dengan Manajer Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Anambas, M Fachry Refi, terutama terkait kondisi mesin pembangkit. Namun, ia mengaku belum memahami secara pasti penyebab peningkatan beban listrik hingga 800 kW dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam kesempatan tersebut, Albert menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan kelistrikan yang terjadi. Ia berharap, kondisi listrik di Anambas segera membaik dan berjanji akan terus mengupayakan penyelesaian persoalan mesin pembangkit.

“Saya, Albert Eliazar Sitorus, sebelumnya memohon maaf atas terjadinya pemadaman listrik di Tarempa. Saya berharap bisa membuat kampung halaman keluarga saya juga tidak mengalami pemadaman,” tuturnya.

Albert menjelaskan, keluarganya juga ada Anambas lebih tepatnya di Desa Keramut. Ia menegaskan, persoalan kelistrikan tersebut bukan berarti wilayah Anambas tidak diperhatikan.

“Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mudah-mudahan seluruh masyarakat Anambas bisa memaafkan saya. Semoga kelistrikan kita segera pulih. Kita sama-sama berdoa, dan saya pribadi akan berusaha menyelesaikan persoalan ini serta mengupayakan agar mesin yang akan datang bisa segera dioperasikan,” tutup Albert.

Sebagai informasi, PT PLN Nusa Daya merupakan anak usaha PT PLN, bergerak dalam pengelolaan operasional dan pemeliharaan pembangkit. Dalam penjelasannya, Albert menegaskan, penanganan mesin menjadi bagian dari tanggung jawabnya sebagai Manajer Unit Natuna dan Anambas.

Kedatangan mesin Caterpillar 800 kW, kini menjadi salah satu hal yang dinantikan dalam upaya penanganan persoalan kelistrikan Tarempa. Namun, realisasi pemeliharaan dan dampaknya terhadap kestabilan pasokan listrik, masih menunggu kedatangan mesin serta pelaksanaan langkah teknis berikutnya. (latep)

BERITA TERKAIT:

Listrik Padam Berjam-jam, Inilah 6 Dampak saat Listrik Anambas Padam

Sekda Anambas Dorong PLN Perkuat Koordinasi Soal Pemadaman Listrik di Tiga Kecamatan

PLN Anambas Ungkap Penyebab Gangguan Listrik, Usulkan Tambahan Mesin 1 Mega

Listrik Padam Mendadak di Tarempa, PLN Anambas Minta Maaf dan Bantah Blokir Kontak Pelanggan

Warga Mengamuk soal Listrik, Manajer PLN Dijemput Anggota Polsek Siantan