TANJUNGPINANG (Kepri.co.id) – Batin Kepri menegaskan pentingnya pembangunan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berbasis kekuatan maritim, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai daerah yang didominasi wilayah laut, Kepri dinilai memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Ketua Batin Kepri, Said Zaldy Al Qudsy, mengatakan, Provinsi Kepri memiliki komposisi wilayah sekitar 96 persen laut dan hanya 4 persen daratan. Kondisi geografis tersebut, menjadikan sektor kemaritiman sebagai kekuatan utama yang seharusnya menjadi fokus pembangunan daerah maupun pemerintah pusat.
”Kepri memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran internasional. Potensi ini, seharusnya mampu memberikan dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Said Zaldy Al Qudsy kepada Kepri.co.id, Sabtu (17/5/2026).
Menurutnya, Batin Kepri hadir sebagai bagian dari civil society masyarakat lokal yang memiliki peran memberi masukan, pengawasan, serta kritik konstruktif dalam pembangunan daerah.
Ia menjelaskan, dari sisi historis, geografis, hingga strategis, identitas maritim tidak bisa dipisahkan dari Kepulauan Riau, terutama Pulau Penyengat yang memiliki sejarah panjang dalam kejayaan Kesultanan Riau-Lingga.
Said Zaldy mengungkapkan, pada masa lalu wilayah perairan Kepri dikenal sebagai jalur perdagangan penting di Selat Riau. Kapal-kapal yang melintas kala itu, memberikan kontribusi ekonomi melalui aktivitas perdagangan dan cukai pelayaran.
”Sejak dulu wilayah ini dikenal kuat di sektor maritim dan perdagangan. Jalur laut Kepri menjadi salah satu pusat aktivitas pelayaran yang ramai,” katanya.
Namun, ia menilai hingga saat ini potensi tersebut belum dikelola secara optimal. Padahal, perairan Selat Singapura, Kepri, dan Malaysia merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Menurutnya, keterbatasan sarana dan layanan maritim, membuat Kepri belum mampu memperoleh manfaat ekonomi secara maksimal dari lalu lintas kapal internasional yang melintasi wilayahnya.
”Banyak kapal melintas di perairan kita, tetapi manfaat ekonominya belum dirasakan optimal oleh masyarakat Kepri. Karena itu, penguatan fasilitas dan layanan maritim menjadi hal penting,” ujarnya.
Selain sektor pelayaran, Said Zaldy juga menyoroti kondisi masyarakat pesisir dan nelayan, yang dinilai masih membutuhkan perhatian serius, agar mampu berkembang secara ekonomi.
Ia pun mendorong agar Pulau Penyengat dikembangkan lebih serius sebagai kawasan ekonomi khusus berbasis sejarah, budaya, dan religi yang terintegrasi dengan konsep poros maritim nasional.
”Saya mendukung langkah pemerintah dalam membangun Pulau Penyengat. Namun pengembangannya harus dilakukan secara serius dan terarah, karena pulau ini memiliki nilai sejarah dan posisi strategis yang besar,” katanya.
Batin Kepri, lanjut Said Zaldy, siap mendukung dan mengawal penguatan konsep maritim di Kepri, melalui berbagai kegiatan seperti seminar nasional, forum diskusi, hingga kerja sama lintas negara serumpun di kawasan Selat Malaka dan Selat Singapura.
Ia berharap, pemerintah pusat dan daerah dapat memperkuat regulasi, infrastruktur, fasilitas pelabuhan, serta kerja sama antarpemerintah guna mempercepat pembangunan sektor maritim di Kepri.
”Kepri memiliki karakter yang berbeda dibanding provinsi kepulauan lainnya. Karena itu, konsep pembangunan maritim harus benar-benar diperkuat, agar masyarakat bisa menikmati kesejahteraan yang lebih baik,” tutup Said Zaldy. (devi)
BERITA TERKAIT:
Ansar dan Menteri Besar Johor Jelajahi Kejayaan Melayu di Pulau Penyengat
Ansar Bawa Gubernur Jabar Kang Emil Keliling Penyengat
Ansar Temui Dirjen Cipta Karya Bahas Penataan Pulau Penyengat
Menteri Bappenas Sanggupi Penataan Pulau Penyengat Sebesar Rp93 Miliar
Wakapolri Komjen Agus Jumat Curhat di Pulau Penyengat
Penyengat Wisata Green Energi, 11 Betor Listrik Pilot Project







