Menelusuri Asal-usul Kayu di Kota Terlarang Beijing

Menelusuri Asal-usul Kayu di Kota Terlarang Beijing
Foto yang diabadikan pada 16 Juli 2024 ini, menunjukkan pemandangan Kota Terlarang dari Taman Jingshan di Beijing, ibu kota China. (F. Xinhua/Chen Yehua)

BEIJING (Kepri.co.id – Xinhua) – Saat berkeliling di Kota Terlarang di Beijing, pengunjung dapat menghayati sejarah dan mengapresiasi berbagai bangunan yang didirikan sesuai dengan hierarki arsitektur tradisional China.

Untuk mempelajari sejarah pembangunan dan renovasi kompleks ini, tim peneliti China berhasil menentukan tahun-tahun pertumbuhan tiga jenis kayu kuno di Kota Terlarang dan melacak asal-usul geografis kayu-kayu tersebut, melalui analisis isotop oksigen.

Xu Chenxi, seorang peneliti di Institut Geologi dan Geofisika, di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/ CAS), mengabdikan dirinya mempelajari perubahan paleoklimat, khususnya menggunakan isotop stabil di lingkar-lingkar pohon, untuk menyelidiki variasi monsun Asia selama satu milenium terakhir.

Xu memang sudah lama ingin menerapkan “keahlian khas” ini dalam praktik, misalnya dalam studi arkeologi. Secara tradisional, penentuan usia bangunan bersejarah atau penggambaran kembali sejarah konstruksinya hampir sepenuhnya bergantung pada catatan tertulis dan analisis gaya bentuk arsitektur bangunan. Metode-metode tersebut, tidak memiliki presisi dari ilmu pengetahuan alam.

“Sebuah struktur bersejarah dari kayu merupakan arsip penanggalan yang sangat baik, yang juga menyimpan catatan variabilitas iklim di masa lalu,” ujar Xu seperti dikutip China Science Daily.

Dendrokronologi, yang berfokus pada lingkar-lingkar pertumbuhan pada kayu dan batang pohon, telah diterapkan dalam bidang arkeologi selama satu abad penuh, ungkap laporan China Science Daily. Sebagai salah satu kompleks arsitektur kayu kuno terbesar dan paling terpelihara dengan baik di dunia, Kota Terlarang memiliki koleksi komponen kayu yang melimpah.

“Isotop oksigen berperan sebagai ‘sidik jari curah hujan’ dari sebuah pohon,” jelas Xu. “Komposisi isotopik dari presipitasi secara khas berbeda di kedua wilayah dan periode, dan pohon ‘mencatatnya’ secara mendetail.”

Prinsipnya sederhana, yakni dengan membandingkan tanda isotop oksigen pada kayu terhadap basis data isotop oksigen lingkar pohon nasional milik tim, sehingga akan diketahui wilayah dengan kecocokan terdekat yang diidentifikasi sebagai daerah asal kayu.

Ketika profil isotop oksigen dari ketiga kayu tersebut diekstraksi dan diperiksa terhadap basis data, hasilnya menunjukkan, ketiga kurva tersebut tumpang tindih hampir sempurna, dengan kecocokan statistik terdekat menunjuk ke China timur laut.

Temuan ini dikonfirmasi oleh dokumen-dokumen sejarah. “Kegembiraan atas penemuan ilmiah sungguh tak terlukiskan, ketika sinyal isotop secara sempurna cocok dengan catatan sejarah,” kenang Xu.

Dibandingkan dengan analisis lebar cincin tradisional, metode isotop oksigen jauh kurang sensitif terhadap variabilitas pertumbuhan individual, ujar Xu. Bahkan, beberapa lingkar pohon dapat menghasilkan tanggal dan asal yang pasti, jika memperlihatkan kecocokan yang sangat dekat dengan urutan referensi regional.

Penemuan ini tidak hanya menunjukkan daerah asal kayu, tetapi juga mengungkap perubahan penting dalam strategi material untuk Kota Terlarang selama Dinasti Ming dan Dinasti Qing, yaitu peralihan dari kayu nanmu yang berharga ke kayu pinus. Penelitian tim ini telah dipublikasikan di dalam jurnal npj Heritage Science.

Tim kini sedang menerapkan metode yang sama untuk melacak asal-usul tiang balok nanmu di Aula Kultivasi Mental (Yangxin dian) di dalam Kota Terlarang.

Landasan studi asal-usul tiang-tiang nanmu itu adalah basis data referensi yang telah disusun tim ini selama bertahun-tahun. Hingga saat ini, mereka telah berhasil membangun basis data isotop oksigen lingkar pohon untuk China dan Asia Timur.

Dalam jangka panjang, aplikasi ini juga akan bermanfaat bagi penelitian paleoklimat, ujar Xu. “Setiap kayu kuno adalah catatan harian iklim yang dapat kita manfaatkan, untuk merekonstruksi urutan historis dari kekeringan ekstrem atau hujan deras di suatu wilayah dan mengungkap pola yang mengatur perubahan iklim.” (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Menikmati Istana Kekaisaran Shenyang di China dari Ketinggian dengan Efek Bird-Eye View

Xi Jinping dan Budaya Prancis: “Kebesaran Hati yang Lebih Luas dari Langit”

Menelusuri Jejak Panjang Budaya dan Tradisi Komunitas Tionghoa di Kampung Kapitan Palembang

Perselen Kuno Ditemukan Dalam Bangkai Kapal Tenggelam di Laut China Selatan