ADA sesuatu yang sederhana dari Jumat siang: secangkir kopi, udara yang mulai hangat, tubuh yang sedikit lelah, dan pikiran yang ingin berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan.
Kopi kita teguk perlahan. Pahitnya akrab, aromanya menenangkan. Seolah ia mengingatkan bahwa hidup pun tidak selalu harus manis untuk tetap bisa dinikmati.
Tetapi Jumat bukan sekadar tentang kopi dan waktu istirahat. Ada kesempatan yang jauh lebih berharga, yaitu mengistirahatkan hati dari segala kegaduhan dunia.
Setelah sepanjang pekan kita sibuk mengejar pekerjaan, memenuhi kebutuhan, menyelesaikan urusan, bahkan terkadang lupa kepada diri sendiri, Jumat datang seperti sebuah pesan lembut: berhentilah sebentar, lihat kembali ke dalam hati.
Sudahkah kita bersyukur?
Sudahkah kita memohon ampun?
Sudahkah kita mendoakan orang-orang yang kita cintai?
Dan sudahkah kita benar-benar meminta kepada Allah apa yang selama ini hanya kita simpan dalam hati?
Ada satu waktu yang sangat istimewa pada hari Jumat. Dalam hadis disebutkan adanya satu waktu ketika seorang Muslim memohon sesuatu kepada Allah, maka doanya akan dikabulkan. Para ulama memiliki beberapa pendapat mengenai waktunya. Salah satu pendapat yang masyhur adalah sesudah Ashar hingga sebelum Magrib.
Maka, jangan buru-buru menganggap sore Jumat sebagai penghujung kesibukan. Bisa jadi, justru di sanalah kita sedang berdiri di depan sebuah pintu yang tidak terlihat.
Tidak perlu menunggu menjadi orang paling baik untuk berdoa. Tidak perlu menunggu hidup sempurna untuk mengangkat tangan. Datanglah kepada Allah dengan segala kekurangan kita.
Mintalah kesehatan ketika tubuh mulai lelah. Mintalah ketenangan ketika pikiran terasa penuh. Mintalah rezeki yang cukup, keluarga yang selalu dalam lindungan-Nya, anak-anak yang menjadi kebanggaan, dan hati yang tidak mudah kehilangan arah.
Kalau ada seseorang yang sedang kita rindukan, sebut namanya dalam doa.
Kalau ada masalah yang belum menemukan jalan ke luar, ceritakan kepada-Nya.
Kalau ada impian yang belum terwujud, titipkan kepada-Nya.
Sebab manusia hanya bisa berusaha, sementara Allah yang menentukan ke mana akhirnya perjalanan itu bermuara.
Jadi, Jumat ini jangan hanya ditemani kopi.
Temani juga dengan doa.
Biarkan kopi menghangatkan tubuh, sementara doa menenangkan jiwa. Dan ketika matahari mulai condong ke barat, mungkin kita tidak tahu doa mana yang akan menjadi jalan datangnya pertolongan.
Barangkali bukan doa yang panjang.
Barangkali hanya sebuah kalimat sederhana yang keluar dari hati yang benar-benar pasrah.
“Ya Allah, mudahkanlah hidup kami dan jangan biarkan hati kami jauh dari-Mu.”
Siapa tahu, dari doa sederhana pada Jumat sore itulah, perlahan-lahan jalan hidup kita mulai berubah.
Karena terkadang Allah tidak langsung mengubah keadaan kita.
Dia terlebih dahulu mengubah hati kita agar mampu menghadapi keadaan itu.
Selamat menikmati Jumat. Secangkir kopi boleh menemani diri, tetapi biarlah doa menemani hati. ***






