Harga Proses, Buang Gengsi, Beri Apresiasi

HIDUP di dunia ini sesungguhnya terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kesombongan. Apa yang hari ini membuat kita merasa tinggi—harta, jabatan, kepandaian, kedudukan, bahkan pujian manusia—semuanya hanyalah titipan yang suatu saat akan kita tinggalkan. Tidak ada yang benar-benar kekal dalam genggaman. Hari ini kita berada di atas, esok mungkin keadaan meminta kita belajar merasakan bagaimana berada di bawah.

Kesombongan sering membuat seseorang tampak besar di hadapan dirinya sendiri, tetapi justru mengecil di mata orang lain. Gengsi pun demikian. Ia seperti dinding yang perlahan dibangun di antara hati dengan hati. Makin tinggi dinding itu, makin jauh kita dari kehangatan sesama. Pada akhirnya, seseorang mungkin dikelilingi banyak manusia, tetapi merasa begitu sunyi karena terlalu sibuk mempertahankan harga diri untuk sekadar mengucapkan, ”Saya menghargai perjuanganmu.”

Padahal, setiap pencapaian besar hampir selalu lahir dari langkah-langkah kecil yang tidak banyak diketahui orang. Ada keringat yang tidak terlihat, air mata yang disembunyikan, kegagalan yang ditelan sendirian, doa yang dipanjatkan dalam diam, dan keberanian untuk bangkit setiap kali kehidupan menjatuhkan. Kita sering hanya melihat hasil, lalu buru-buru menilai. Kita menikmati buahnya, tetapi lupa bahwa ada seseorang yang mungkin bertahun-tahun menanam pohonnya.

Ironisnya, ketika seseorang berhasil, kita kadang terlalu gengsi mengakuinya. Ketika ia jatuh, kita justru cepat menunjuk kesalahannya. Ketika ia berhasil melewati kesulitan, kita sibuk mencari kekurangannya. Seolah-olah memuji akan membuat kita menjadi lebih rendah, padahal sesungguhnya, apresiasi tidak pernah mengurangi kemuliaan seseorang. Justru, kemampuan menghargai orang lain menunjukkan hati kita cukup luas untuk mengakui kebaikan di luar diri sendiri.

Satu kalimat sederhana seperti, ”Kamu sudah berusaha dengan baik,” mungkin terdengar kecil bagi yang mengucapkannya. Tetapi, bagi seseorang yang sedang lelah, kalimat itu bisa menjadi cahaya kecil di ujung lorong yang gelap. Satu tepukan di pundak, satu ucapan terima kasih, satu penghargaan yang tulus, kadang lebih berarti daripada nasihat panjang yang disampaikan dengan nada menggurui.

Manusia tidak hanya membutuhkan kritik. Kita juga membutuhkan pengakuan bahwa perjuangan kita pernah dilihat, bahwa usaha kita tidak sepenuhnya sia-sia. Karena itu, jangan hanya hadir ketika seseorang melakukan kesalahan. Hadirlah pula ketika ia berusaha memperbaiki diri. Jangan hanya pandai menunjukkan kekurangan. Belajarlah menjadi orang yang mampu menemukan setitik cahaya di tengah banyak kekurangan.

Nasihat yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib mengingatkan bahwa manusia yang paling lemah adalah mereka yang tidak mampu mencari sahabat, sedangkan yang lebih lemah lagi adalah mereka yang menyia-nyiakan sahabat yang telah dimilikinya. Ada hubungan yang rusak bukan karena persoalan besar, melainkan karena gengsi yang terlalu tinggi untuk meminta maaf, ego yang terlalu keras untuk mengakui kebaikan, dan hati yang terlalu sempit untuk memberikan apresiasi.

Di zaman media sosial, persoalan itu menjadi semakin nyata. Kesalahan seseorang dapat berlari lebih cepat daripada prestasinya. Kekurangan mudah dijadikan bahan tontonan, sementara keberhasilan sering berlalu tanpa tepuk tangan. Kita begitu mudah menekan tombol untuk menyebarkan celaan, tetapi begitu berat mengetik beberapa kata untuk memberikan penghargaan.

Padahal, di balik setiap akun media sosial ada manusia yang memiliki hati. Ada orang yang mungkin sedang berjuang melawan rasa tidak percaya diri. Ada yang sedang mencoba bangkit dari kegagalan. Ada yang mungkin terlihat kuat di layar, tetapi diam-diam sedang berperang dengan kesedihan. Maka sebelum menulis sesuatu yang melukai, barangkali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: jika kata-kata itu ditujukan kepada kita, sanggupkah hati menerimanya?

Memuji memang tidak perlu berlebihan. Apresiasi pun tidak berarti membenarkan segala sesuatu. Kritik tetap diperlukan, tetapi kritik yang lahir dari kepedulian akan berbeda dengan celaan yang lahir dari kebencian. Saran dan masukan yang disampaikan dengan niat baik bukanlah tanda permusuhan. Justru di sanalah bentuk kepedulian: agar kita sama-sama belajar menjadi lebih baik, bukan saling menjatuhkan untuk merasa lebih tinggi.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 agar suatu kaum tidak merendahkan kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang direndahkan itu justru lebih baik daripada yang merendahkan. Ayat ini seperti cermin yang diletakkan di hadapan kita: sebelum menunjuk wajah orang lain, barangkali kita perlu melihat wajah sendiri.

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perjalanan seseorang. Bisa jadi orang yang hari ini kita anggap biasa saja sedang menapaki jalan menuju keberhasilan yang luar biasa. Bisa jadi mereka yang hari ini kita remehkan kelak justru menjadi orang yang memberi manfaat kepada banyak manusia. Dan bisa jadi, suatu hari nanti kita akan menyesal karena pernah menertawakan seseorang yang sebenarnya sedang berjuang keras untuk mengubah hidupnya.

Sejarah pun berkali-kali memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari jalan yang mulus. Thomas Alva Edison dikenal melalui kegigihannya menghadapi kegagalan dalam perjalanan eksperimennya. JK Rowling juga mengalami penolakan sebelum Harry Potter diterima dunia. Namun kisah mereka bukan sekadar tentang keberhasilan. Ia mengajarkan manusia tidak boleh dinilai hanya dari satu kegagalan, satu kesalahan, atau satu titik terendah dalam hidupnya.

Rasulullah SAW juga mengajarkan agar kita tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Bahkan, menyambut saudara dengan wajah yang berseri pun memiliki nilai kebaikan. Betapa indahnya ajaran ini. Seakan-akan kita diingatkan bahwa kebaikan tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Kadang ia hanya berupa senyum, sapaan, ucapan terima kasih, dukungan, atau kesediaan mendengarkan seseorang yang sedang membutuhkan tempat untuk bercerita.

Maka barangkali sudah waktunya kita berhenti terlalu sibuk menjadi hakim bagi kehidupan orang lain. Kita semua sedang berjalan dengan beban masing-masing. Tidak ada manusia yang hidup tanpa kekurangan. Tidak ada pula manusia yang setiap langkahnya benar. Jika hari ini seseorang masih belajar, biarkan ia belajar. Jika ia sedang berusaha, dukunglah. Jika ia jatuh, ulurkan tangan. Jika ia berhasil, berikan apresiasi. Dan jika ia salah, ingatkan dengan cara yang tidak membuatnya kehilangan harga diri.

Jangan biarkan ego membuat hati menjadi keras. Jangan biarkan gengsi mengalahkan persaudaraan. Jangan biarkan iri membuat kita sulit bahagia melihat keberhasilan orang lain. Sebab, hidup terlalu singkat untuk memelihara kebencian, sementara kematian tidak pernah bertanya apakah kita sudah selesai berdamai dengan sesama.

Pada akhirnya, yang akan kita bawa bukanlah banyaknya orang yang pernah kita kalahkan dalam perdebatan, bukan pula berapa banyak manusia yang pernah kita buat merasa kecil. Yang tinggal adalah jejak kebaikan: berapa banyak hati yang pernah kita kuatkan, berapa banyak orang yang pernah kita bantu bangkit, berapa banyak kesedihan yang pernah kita ringankan.

Barangkali itulah arti menjadi manusia yang sebenarnya: mampu tetap rendah hati ketika dipuji, tetap lembut ketika memiliki kekuasaan, tetap ramah ketika berada di atas, dan tetap lapang ketika melihat orang lain lebih berhasil.

Hargailah proses. Buanglah gengsi. Berilah apresiasi.

Sebab bisa jadi, seseorang yang hari ini hanya membutuhkan satu kalimat penyemangat sedang berdiri di ambang sebuah perubahan besar dalam hidupnya. Jangan menjadi alasan ia berhenti. Jadilah salah satu alasan ia terus berjalan.

Dan sebelum tidur nanti, ketika dunia mulai sunyi dan kita kembali berhadapan dengan diri sendiri, cobalah bertanya dengan jujur: sudahkah hari ini kita membuat seseorang merasa lebih berarti, atau justru membuatnya merasa kecil?

Jika jawabannya belum, masih ada hari esok untuk memperbaikinya.

Karena hati yang lembut bukan hati yang tidak pernah terluka. Hati yang lembut adalah hati yang, meskipun pernah terluka, memilih untuk tidak melukai orang lain.

Di sanalah kesombongan perlahan luruh, ego menemukan batasnya, kebencian kehilangan tempatnya, dan manusia kembali belajar menjadi manusia. ***