SETIAP pertandingan itu selalu ada kalah dan ada menang, pertandingan apa saja. Kalau pun ada hasil imbang, itu hanya bagian dari proses untuk pada akhirnya tetap akan ada yang kalah dan ada yang menang.
Yang menang tentunya akan bersukacita. Ada yang merayakannya dengan biasa saja karena memang sudah sering menang, dan ada juga yang ketika kalah pun biasa saja karena menganggap kalah dan menang adalah bagian dari aturan permainan.
Tetapi, ada juga yang menang lalu bereuforia secara berlebihan karena memang sudah sekian lama menanti kemenangan itu datang, itu pun sah-sah saja. Sebaliknya, ada yang ketika kalah lalu berdukacita begitu dalam, sedihnya seperti ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
Tim atau perorangan yang kalah dalam sebuah pertandingan seharusnya berjiwa besar untuk mengakui, bahwa lawan memang lebih bagus pada hari itu. Bukan malah membuat drama seolah-olah dicurangi oleh pengadil, dicurangi panitia, atau dicurangi keadaan. Biasanya, sikap seperti ini muncul dari tim atau personal yang terbiasa menang terus, sehingga tidak siap untuk kalah. Ada saja kesalahan yang dicari-cari, rasanya tidak mungkin dia bisa kalah. Padahal, yang paling terhormat adalah sikap gentleman, mengakui kekalahan dan mengakui kehebatan lawan. Karena hidup ini memang berputar, kadang di atas, kadang di bawah, kadang menang, kadang kalah.
Biasanya, tim yang merasa paling hebat dan terbiasa menang terus itulah yang akan paling merasakan pahitnya kekalahan. Jika mereka mau mengakui kekalahan dengan lapang dada, maka di mata penonton mereka akan jauh lebih dihormati. Penonton atau fans juga harus diedukasi bahwa jika kalah ya kalah, terimalah dengan ikhlas. Besok main lagi dan usahakan untuk menang.
Memang ada satu dua pertandingan yang dirasa kurang adil, karena yang memimpin pertandingan adalah manusia, dan teknologi yang membantu pun buatan manusia juga, yang punya kelemahan dan bisa saja diutak-atik oleh tangan manusia.
Namun, mengakui kehebatan lawan itu jauh lebih disegani. Sportivitas dan sikap gentleman itu lebih utama daripada meratap kekalahan hingga lupa makan dan tidak enak tidur. Biasanya, rasa sakit karena kalah itu hanya sebentar, besok jiwa akan kembali normal. Biasanya, yang suka memanaskan suasana justru bukan pemainnya, melainkan fans atau netizen pendukung yang tidak ikut berkeringat di lapangan.
Hidup ini bukan hanya tentang apa yang kita mau, tapi takdir sudah menentukan garisnya, kita hanya disuruh untuk berusaha dan berikhtiar sebaik-baiknya.
Lihat saja final Piala Dunia 2026 yang sedang ramai dibicarakan ini, Spanyol melawan Argentina di MetLife Stadium, New Jersey. Spanyol melaju ke final setelah membungkam Prancis dua gol tanpa balas, sementara Argentina lolos secara dramatis setelah melakukan comeback mengalahkan Inggris dua satu di Atlanta. Dua mazhab besar bertemu, juara Eropa melawan juara bertahan. Nanti setelah peluit akhir dibunyikan, pasti satu kubu akan bercerita dengan kisah yang fantastis tentang gol indah, tentang taktik yang sempurna, tentang generasi baru dan tentang legenda.
Sedangkan kubu yang kalah, akan bercerita dengan kisah yang dramatis tentang wasit, tentang Video Assistant Referee (VAR), dan tentang nasib yang tidak berpihak. Padahal, keduanya sudah memberikan yang terbaik di lapangan. Siapa pun yang mengangkat piala nanti, dialah yang pada hari itu memang lebih siap.
Hal ini sama persis dengan kehidupan kita sehari-hari. Di kantor ada yang dapat promosi jabatan dan ada yang belum. Di sekolah ada yang mendapat ranking dan ada yang tidak. Di pasar ada yang dagangannya laris dan ada yang sepi pembeli. Di rumah tangga pun ada kalanya kita merasa benar dan ada kalanya kita salah. Kalau kita menang tender, jangan seolah-olah dunia milik kita selamanya. Kalau kita gagal dalam usaha, jangan seolah-olah dunia sudah kiamat. Hari ini toko sebelah yang ramai, besok bisa jadi giliran toko kita yang ramai.
Kemudian dalam mencintai dan menyukai sesuatu, cukuplah disimpan di hati. Karena kalau sakit, yang sakit itu adalah hati. Jangan sampai rasa suka itu merasuk terlalu dalam hingga ke jiwa, karena bisa membuat kita sakit jiwa.
Sebagai fans sebuah tim juga harus sadar, jangan membela tim kesayangan secara berlebihan sampai lebay dan hilang akal sehat. Jika Anda sampai sakit karena terlalu fanatik, tim kesayangan atau idola Anda itu tidak akan datang membantu biaya pengobatan Anda.
Maka, menanglah tanpa berlebihan bereuforia seolah itu adalah sesuatu yang fantastis dan segalanya, karena hidup ini terus berubah. Jika kalah, jangan meratap seolah dunia ini kiamat.
Para atlet top dunia justru mengajarkan kita tentang hal itu dengan kata-kata yang menenangkan hati.
Jim Courier adalah seorang atlet tenis top dunia asal Amerika Serikat, mantan petenis nomor satu dunia dan juara Grand Slam empat kali. Ia pernah berkata dengan sangat elegan, sportivitas sejati adalah ketika seseorang berjalan ke luar dari lapangan dan kamu tidak bisa menebak apakah dia menang atau kalah, karena dia tetap membawa dirinya dengan kebanggaan yang sama.
Vince Lombardi adalah seorang pelatih legendaris American Football di Amerika, sosok yang namanya bahkan diabadikan menjadi nama piala Super Bowl. Ia pernah mengingatkan kita semua dengan kalimat yang sangat dalam, jika kamu tidak bisa menerima kekalahan, maka kamu tidak akan pernah bisa memenangkan apapun.
Sedangkan Roger Federer adalah seorang atlet tenis legendaris asal Swiss, peraih dua puluh gelar Grand Slam yang dikenal di seluruh dunia karena kelembutan hatinya di dalam dan di luar lapangan. Ia pernah berkata dengan jujur, saya justru selalu belajar lebih banyak dari kekalahan saya daripada kemenangan saya.
Itulah mental juara yang sesungguhnya. Bukan hanya tentang siapa yang paling sering menang, tetapi tentang siapa yang paling ikhlas menerima kalah, paling tulus mengakui kehebatan lawan, dan paling siap untuk bangkit lagi keesokan harinya dengan hati yang lebih tenang. ***
BACA JUGA:
La Furia Roja: Perjalanan Sempurna Spanyol Menuju Mahkota Piala Dunia 2026
Kuasai 58 Persen Bola, Spanyol Sah Menjadi Juara Dunia
Porro Wujudkan Impian Sang Kakek Kala Spanyol Raih Piala Dunia
Menikmati Beragam Aksi saat Spanyol Kalahkan Prancis 2-0 di Semifinal Piala Dunia 2026







