Lomba Bahasa Mandarin Soroti Warisan Budaya Tiongkok-Indonesia

Peserta "Menjelajahi Indonesia melalui Bahasa Mandarin: Lomba Pemandu Budaya Tionghoa Lokal dalam Bahasa Mandarin" yang digelar di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Jumat (11/9/2026) dan Sabtu (12/9/2026). (F. Xinhua)

JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) – Babak final kontes “Menjelajahi Indonesia melalui Bahasa Mandarin: Lomba Pemandu Budaya Tionghoa Lokal dalam Bahasa Mandarin” perdana digelar pada Jumat (11/9/2026) dan Sabtu (12/9/2026) di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dengan 64 finalis dari berbagai daerah di Indonesia bersaing memperebutkan penghargaan.

Lomba tersebut dimulai pada Mei 2026 dan menerima 197 video dari seluruh Indonesia. Setelah melalui penilaian babak penyisihan, 34 siswa sekolah dasar dan menengah maju ke babak final secara langsung, sementara 30 mahasiswa dari program studi terkait bahasa Mandarin mengikuti final secara daring.

Para peserta dari kategori sekolah dasar dan menengah, menyampaikan pidato dalam bahasa Mandarin dengan tema “Budaya Tionghoa di Mata Saya”, sementara peserta kategori mahasiswa berkompetisi melalui presentasi video dan pemungutan suara secara daring.

Berangkat dari kehidupan dan pengamatan mereka sendiri, para peserta memperkenalkan beragam aspek budaya Tionghoa-Indonesia lokal, mulai dari kuliner, arsitektur, festival, adat istiadat hingga kepercayaan.

Bagi Irovi dari Selat Panjang, Provinsi Riau, lomba ini memberikan kesempatan bagi generasi muda Tionghoa-Indonesia, lebih memahami dan meneruskan warisan budaya mereka. Dalam presentasinya, dia memperkenalkan tradisi khas Tahun Baru Imlek di kampung halamannya, yakni arak-arakan dewa.

“Budaya dapat terus hidup dalam kehidupan kita sehari-hari,” ujarnya.

Zheng Xujun, siswa kelas 11 Xin Zhong School di Surabaya, mengatakan, dirinya mengikuti lomba tersebut agar lebih banyak orang mengenal budaya Tionghoa-Indonesia. Dalam proses mempersiapkan lomba, dia akhirnya memilih mengangkat tema sekolah Tionghoa, yang menurutnya merupakan salah satu wadah penting mengajarkan budaya dan tradisi Tionghoa di Indonesia.

Teman sekolahnya, Eileen Wiratama, yang leluhurnya berasal dari China selatan, mengatakan, dirinya mengikuti lomba tersebut untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai akar budaya keluarganya.

Dalam video babak penyisihan, Wiratama memperkenalkan Kelenteng Konghucu di Surabaya, yang menurutnya merupakan bagian khas dari budaya Tionghoa setempat. Pada babak final, dia mengangkat tema kuliner dengan memperkenalkan dua jenis kue tradisional yang biasa digunakan masyarakat Tionghoa-Indonesia dalam persembahan ritual, yakni kue mangkok dan wajik yang terbuat dari beras ketan dan gula aren.

Menurut Wiratama, proses mempersiapkan lomba membantunya memahami budaya leluhurnya dengan lebih baik, sekaligus menumbuhkan rasa syukur yang lebih mendalam terhadap warisan tersebut.

Ashley Renata, siswa kelas 11 lainnya dari Xin Zhong School, mengatakan, lomba tersebut memberinya kesempatan mempelajari lebih banyak tentang budaya Tionghoa-Indonesia, mengenal teman-teman baru, serta menguji kemampuan bahasa Mandarinnya.

Pada babak penyisihan, sejumlah peserta juga mengangkat kisah tentang Zheng He, masjid-masjid Zheng He, serta sejarah pertukaran antara China dan Indonesia.

 

Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya, Ye Su, menggambarkan, kontes tersebut sebagai pengalaman pembelajaran bahasa Mandarin yang bersifat praktis sekaligus inisiatif kebudayaan yang memiliki signifikansi jangka panjang. Dia berharap, para peserta dapat menemukan budaya Tiongkok di tengah komunitas mereka melalui sudut pandang masing-masing, serta menjadi peserta aktif dan duta persahabatan sipil Tiongkok-Indonesia. (hen/ xinhua-news.com)