Mahasiswa Indonesia Apresiasi Upaya Pelestarian Warisan Budaya China

Foto yang diabadikan pada 16 Juli 2026 ini, menunjukkan Veldesen Yaputra, mahasiswa asal Indonesia, sedang mengunjungi sebuah menara kuno yang terletak di Yuci, Provinsi Shanxi, China utara. (F. Xinhua)

TAIYUAN (Kepri.co.id – Xinhua) – Alih-alih memegang kamera, Veldesen Yaputra, mahasiswa arsitektur sekaligus kreator konten asal Indonesia, berdiri tenang di depan sebuah bangunan kuno China. Dengan buku sketsa di tangannya, dia secara cermat menggambar kerumitan struktur kayu dan lekukan atap bangunan megah tersebut.

“Menurut saya, menggambar tidak semata-mata untuk merekam rupa suatu bangunan,” tuturnya. “Lebih dari itu, menggambar adalah upaya untuk menjalin keterikatan emosional dengannya.”

Veldesen merupakan salah satu tamu mancanegara yang menghadiri ajang Pekan Perlindungan Warisan Budaya Internasional (International Cultural Heritage Protection Week) 2026 bertema “Persatuan demi Kemakmuran, Warisan untuk Selamanya” (Unity for Prosperity, Heritage for Eternity). Acara tersebut dibuka pada Rabu (15/7/2026) pekan lalu di kota tua Yuci di Jinzhong, Provinsi Shanxi, China utara.

Acara itu mempertemukan para diplomat, pakar warisan budaya, akademisi asing, dan kreator media internasional untuk membahas perlindungan warisan budaya dan pembelajaran bersama antarperadaban.

Bagi Veldesen, perjalanan tersebut bernilai akademis sekaligus personal.

Lahir pada 2001 di Pontianak, kota multibudaya di Provinsi Kalimantan Barat, dia tumbuh besar di tengah keberagaman kelompok etnis dan budaya. Rasa ingin tahu Veldesen terhadap akar budaya Tionghoanya, telah mendorong dirinya untuk mulai mempelajari bahasa Mandarin sejak dini.

Pada 2017, dia bertolak ke China untuk mempelajari bahasa Mandarin sekaligus memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai budaya negara tersebut. Terpukau oleh kekayaan sejarah dan pesatnya pembangunan di China, Veldesen lantas melanjutkan pendidikan di Universitas Tsinghua, tempat dirinya mempelajari desain lingkungan sebelum melanjutkan program magister di bidang arsitektur.

Foto yang diabadikan pada 16 Juli 2026 ini, menunjukkan Veldesen Yaputra, mahasiswa asal Indonesia, sedang mengunjungi sebuah menara kuno yang terletak di Yuci, Provinsi Shanxi, China utara. (F. Xinhua)

Studinya tersebut mengarahkannya untuk fokus pada arsitektur tradisional, revitalisasi pedesaan, dan pelestarian warisan budaya.

“China telah mengajarkan saya, konservasi warisan budaya tidak sekadar tentang melestarikan bangunan tua,” ungkapnya. “Melainkan juga tentang merawat budaya, sejarah, dan vitalitas masyarakat.”

Selama kunjungannya ke Shanxi, yang kerap dijuluki sebagai “gudang harta karun arsitektur kuno China,” Veldesen mengaku sangat terkesan dengan kekayaan situs bersejarah di provinsi itu dan berbagai upaya untuk melindunginya.

Shanxi merupakan rumah bagi lebih dari 500 situs warisan budaya utama di bawah perlindungan negara, jumlah terbanyak di antara seluruh daerah setingkat provinsi di China. Di provinsi itu juga terdapat tiga Situs Warisan Dunia UNESCO, yaitu Kota Kuno Pingyao, Gua Yungang, dan Gunung Wutai.

Foto yang diabadikan pada 15 Juli 2026 ini, menunjukkan para wisatawan mancanegara sedang mengunjungi Kuil Jinci di Taiyuan, ibu kota Provinsi Shanxi, China utara. (F. Xinhua)

Dalam beberapa tahun terakhir, Shanxi telah mengintegrasikan teknologi digital seperti pemindaian tiga dimensi (3D), pengarsipan digital, dan pameran imersif ke dalam bidang konservasi warisan budaya. Langkah itu membantu peninggalan budaya kuno menjangkau khalayak yang lebih luas, sekaligus memastikan kelestariannya.

Veldesen yakin pengalaman China menawarkan pelajaran yang berharga bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Kesamaan terbesar antara China dan Indonesia adalah arsitektur tradisionalnya berhubungan erat dengan alam, budaya, dan masyarakat setempat,” tuturnya. “Bangunan bukanlah monumen yang berdiri sendiri. Bangunan berkembang seiring dengan kehidupan masyarakat.”

Foto yang diabadikan pada 3 Mei 2026 ini, menunjukkan para wisatawan berjalan di objek wisata Gua Yungang di Kota Datong, Provinsi Shanxi, China utara. (F. Xinhua)

Di saat yang sama, dia menyatakan, banyak desa tradisional di Indonesia yang menghadapi tantangan modernisasi, pengembangan pariwisata, dan memudarnya teknik bangunan tradisional.

Menurut Veldesen, kedua negara memiliki potensi yang signifikan untuk menjalin kerja sama dalam bidang perlindungan warisan budaya.

Dia berharap semakin banyak arsitek muda, peneliti, dan mahasiswa dari kedua negara akan memiliki kesempatan untuk bertukar gagasan dan saling belajar dari pengalaman satu sama lain. Dia juga melihat potensi kerja sama yang besar di bidang teknologi digital, termasuk pemindaian 3D, kecerdasan buatan (AI), serta dokumentasi digital warisan budaya.

Hal yang tak kalah penting, ujarnya, adalah partisipasi masyarakat.

“Melindungi bangunan kuno saja tidak cukup. Masyarakat setempat harus tetap menjadi bagian dalam proses tersebut, agar warisan budaya terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujar Veldesen.

Foto menunjukkan Pagoda Kayu Yingxian di wilayah Yingxian, Kota Shuozhou, Provinsi Shanxi, China utara, pada 12 Mei 2026. (F. Xinhua/Chen Zhihao)

Selama kunjungannya, Veldesen terus mendokumentasikan arsitektur kuno Shanxi melalui sketsa. Dia berharap gambar-gambarnya dapat membantu lebih banyak anak muda mengapresiasi keindahan dan makna budaya dari bangunan-bangunan tradisional.

“Ketika Anda menggambar setiap detailnya dengan cermat, Anda mulai memahami kearifan para perajin kuno beserta kisah di balik arsitektur tersebut,” paparnya.

Ke depannya, Veldesen berharap dapat menjadi jembatan antara China dan Indonesia, untuk mendorong pertukaran di bidang pelestarian warisan budaya, arsitektur, dan pengembangan budaya.

“Saya meyakini bahwa warisan budaya dapat semakin mendekatkan masyarakat. Melalui kerja sama yang lebih erat dan pembelajaran bersama, China dan Indonesia dapat bahu-membahu melindungi masa lalu sekaligus menginspirasi generasi mendatang,” ujar Veldesen. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Teknologi Digital Singkap Dunia Tersembunyi di Dalam Pagoda Kayu Berusia 970 Tahun di China

Menelusuri Jejak Panjang Budaya dan Tradisi Komunitas Tionghoa di Kampung Kapitan Palembang

“Pemandu Wisata Mayantara” Merevolusi Pengalaman Wisata