3.000 Pedagang Pisang dan Gorengan Butuh Dukungan Bapak Angkat Pulihkan Ekonomi

BATAM (Kepri.co.id) – Sebanyak 3.000 pedagang pisang dan pelaku usaha gorengan pisang, membutuhkan bapak angkat untuk memulihkan ekonomi mereka, yang terimbas dua tahun lebih pandemi Covid-19 ini.

“Saya perkirakan jumlah pedagang pisang dan pelaku usaha gorengan 3.000 orang. Artinya, dengan istri dan dua anak maka ada 12 ribu jiwa yang terimbas pandemi Covid-19 ini,” ujar Yusril Koto, pedagang pisang kepada wartawan di tempat usahanya Ruko Grand BSI Batam Centre, Rabu (25/5/2022).

Itu sebabnya, kata Yusril, dia bersama sejumlah pedagang pisang dan pelaku usaha gorengan, mengajukan klausul kepada “bapak angkat”, untuk mendukung memulihkan ekonomi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), khususnya para pedagang pisang dan pelaku usaha gorengan pisang yang disingkat Pegang Pisgor.

Menurut Yusril, produk jajanan berbahan pisang seperti gorengan dan kripik, tidak saja menjadi menu jajanan kuliner yang membudaya di Batam, juga menjadi produk andalan pelaku usaha keripik pisang khususnya, masuk pasar luar Singapura dan Malaysia.

Selain itu, Yusril memaparkan, sebanyak 3.000 Pegang Pisgor ini, keberadaannya merata dapat dijumpai di mana tempat di Kota Batam.

“Baik maindland (wilayah perkotaan) maupun hinterland (pulau-pulau). Inilah perlu diberdayakan,” ujar Yusril.

Yusril berpendapat, untuk mengatasi penurunan ekonomi dan kualitas hidup pelaku usaha pisang dan gorengan, ada strategi nyata harus dilakukan dan itu sangat dibutuhkan kepada peran bapak angkat.

Hal ini menjadi pilot project pelaku usaha UMKM lainnya. Terkait program yang diajukan itu, antara lain: Pertama, merangkul para pelaku usaha pisang dan pelaku usaha gorengan dengan membentuk satu perkumpulan di bawah wadah Pegang Pisgor.

Pegang Pisgor perlu dibentuk, kata Yusril, karena objek usaha itu harus ada payung hukum untuk mendapatkan program-program penguatan ekonomi dan kesejahteraan hidup.

“Melalui wadah inilah, ditawarkan kepada bapak angkat dengan kerja sama sinergi sistim,” jelas Yusril.

Kedua, memberikan subsidi harga bagi Pegang Pisgor, sehingga bahan baku murah dan anggota Pegang Pisgor bisa menjual lebih murah.

“Dulu sebelum pandemi Covid-19, harga pisang goreng Rp1.000 per biji. Sekarang, sudah di atas Rp1.000. Harga bisa kembali Rp1.000 per biji, jika harga bahan baku disubsidi,” jelas Yusril.

Ketiga, pengadaan gerobak gratis bagi pelaku usaha goreng pisang. “Gerobak dibuat seragam, sekaligus meningkatkan atau menggali potensi wisata dari sektor kuliner pisang goreng,” pungkas Yusril.

Dalam waktu dekat, kata Yusril, pihaknya akan mendeklarasikan Pegang Pisgor. “Nanti kami undang kawan-kawan wartawan, saat deklarasi,” ujar Yusril. (rep2)