Menentang Usia dan Messi Telah Menunjukkan Kualitas Pencapaiannya

PERDEBATAN mengenai siapa pesepak bola terhebat sepanjang masa mungkin tidak akan pernah benar-benar berakhir. Namun, jika tolok ukurnya adalah perpaduan antara bakat alami, konsistensi, pengaruh terhadap permainan, prestasi individu dan kolektif, serta kemampuan bertahan di level tertinggi lintas generasi, maka Lionel Messi memiliki argumentasi paling kuat untuk menyandang predikat Greatest of All Time (GOAT).

Status itu tidak lagi sekadar diukur dari deretan trofi atau penghargaan individu yang memenuhi lemari prestasinya. Yang membuat Messi berbeda adalah kemampuannya menaklukkan hukum usia. Pada usia 39 tahun, ketika sebagian besar pemain elite dunia telah pensiun atau memilih berkompetisi di liga dengan intensitas lebih rendah, Messi justru masih menjadi pusat permainan Argentina dan mengantarkan Albiceleste melaju ke final Piala Dunia 2026. Bukan sekadar hadir sebagai legenda, tetapi tetap menjadi aktor utama yang menentukan jalannya pertandingan.

Inilah pembeda terbesar Messi. Ketika kemampuan fisiknya perlahan menurun, kualitas permainannya justru semakin matang. Ia berevolusi dari seorang penyerang eksplosif menjadi arsitek permainan yang mengendalikan tempo, membaca ruang, mengatur ritme, dan mengambil keputusan dengan presisi luar biasa. Kecepatan larinya mungkin tidak lagi seperti satu dekade lalu, tetapi kecepatan berpikirnya tetap berada beberapa langkah di depan pemain lain.

Pada titik ini, dengan segala kerendahan hati, mohon maaf kepada para pencinta Cristiano Ronaldo, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengecilkan pencapaian Ronaldo dan para pemain top lainnya. Kita semua harus mengakui bahwa Ronaldo adalah fenomena yang luar biasa, simbol dedikasi, disiplin, kekuatan fisik, dan naluri mencetak gol yang belum pernah ada duanya, dengan 5 Ballon d’Or, 5 gelar Liga Champions, pencetak gol terbanyak sepanjang masa Real Madrid dan Liga Champions.

Begitu juga dengan kehebatan Pele, Diego Maradona, Johan Cruyff, dan legenda lainnya yang masing-masing telah memberikan warna dan warisan yang tak tergantikan bagi sepak bola. Perbandingan ini, hanya untuk melihat perbedaan karakter evolusi permainan di usia senja, bukan untuk merendahkan siapa pun.

Ronaldo membangun kejayaannya di atas fondasi atletisme yang luar biasa, sehingga ketika aspek fisik mulai mengalami penurunan, efektivitasnya pun ikut terpengaruh. Sebaliknya, Messi sejak awal membangun permainannya di atas fondasi kecerdasan sepak bola, teknik, visi, kreativitas, dan kemampuan membaca situasi, sehingga, ketika usia mengurangi kecepatan tubuhnya, kecerdasan permainannya justru menjadi semakin dominan.

Kehebatan tersebut terlihat jelas sepanjang Piala Dunia 2026. Messi bermain dengan efisiensi yang nyaris sempurna. Ia tidak lagi mengejar bola tanpa henti, tetapi memilih menghemat energi, mengamati celah pertahanan lawan, lalu melancarkan serangan yang mematikan pada momen paling menentukan.

Semifinal melawan Inggris menjadi bukti paling nyata. Saat Argentina tertinggal, Messi mengambil alih kendali permainan dan menghadirkan dua assist krusial untuk gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez yang membalikkan keadaan menjadi kemenangan 2-1. Sepanjang turnamen, ia juga mencatatkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan koleksi 21 gol, termasuk hattrick ke gawang Aljazair dan dua gol penting saat menyingkirkan Austria.

Dan untuk menjawab tudingan yang sering menyebut Messi sebagai anak kesayangan FIFA, fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya. Jika FIFA bisa mengatur segalanya, mengapa Messi harus merasakan pahitnya kekalahan di final Piala Dunia 2014, kekalahan di tiga final Copa America pada tahun 2007, 2015, dan 2016, serta tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2018.

Anak kesayangan tidak akan dibiarkan menangis selama hampir satu dekade tanpa gelar bersama tim nasional senior. Messi meraih segalanya bukan karena hadiah, tetapi karena ia memenangkan segalanya di setiap level, di setiap kompetisi yang berbeda, dengan sistem penilaian yang berbeda pula.

Gelar-gelar tersebut meliputi hampir semua yang bisa dimenangkan seorang pesepakbola. Di level internasional bersama Argentina, ia juara Piala Dunia 2022 di Qatar, juara Copa America 2021 di Brasil dan 2024 di Amerika Serikat, juara Finalissima 2022, medali emas Olimpiade 2008 di Beijing, dan juara Piala Dunia U20 2005.

Di level klub bersama Barcelona, Paris Saint Germain dan Inter Miami, ia meraih 4 gelar Liga Champions UEFA pada tahun 2006, 2009, 2011 dan 2015, 10 gelar La Liga, 7 gelar Copa del Rey, 8 gelar Supercopa de Espana, 3 gelar Piala Dunia Antarklub FIFA, 3 gelar Piala Super UEFA, 2 gelar Ligue 1 Prancis, 1 Trophee des Champions, serta Leagues Cup 2023 dan MLS Cup 2025. Total 46 hingga 48 trofi resmi yang menjadikannya pemain paling berprestasi dalam sejarah sepak bola.

Delapan Ballon d’Or yang diraihnya pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012, 2015, 2019, 2021 dan 2023 juga menjadi bukti paling kuat. Sejak tahun 2016, Ballon d’Or sepenuhnya diselenggarakan oleh majalah France Football dan dipilih oleh 100 jurnalis sepak bola terbaik dari seluruh dunia, bukan oleh FIFA.

FIFA memiliki penghargaan terpisah bernama FIFA The Best yang dipilih melalui voting kapten tim nasional, pelatih, jurnalis dan fans. Artinya, Messi diakui sebagai yang terbaik bukan oleh satu lembaga saja, melainkan oleh para jurnalis, rekan sesama pemain, pelatih lawan, dan publik di seluruh dunia secara konsisten selama hampir dua dekade.

Karena itu, status Lionel Messi sebagai GOAT sesungguhnya tidak lagi bergantung pada hasil pertandingan final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol. Jika ia kembali mengangkat trofi, sejarahnya akan semakin sempurna. Namun, apabila Argentina gagal menjadi juara, warisan kebesarannya tidak akan berkurang sedikit pun. Gelar GOAT tidak ditentukan oleh satu pertandingan, satu trofi, atau satu musim.

Gelar itu dibangun oleh konsistensi selama lebih dari dua dekade, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman, serta pengaruh yang mengubah cara sepak bola dimainkan dan dinikmati. Pada akhirnya, yang menjadikan Messi berada di puncak adalah kemampuannya menghadirkan keajaiban secara konsisten, bahkan ketika waktu yang biasanya menjadi musuh terbesar setiap atlet tidak mampu menghentikannya. ***

BERITA TERKAIT:

Duel Penebus Luka: Prancis dan Inggris Berebut Medali Perunggu Piala Dunia 2026

Analisis Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina: Duel Warisan Messi dan Pembuktian Sang Penerus Yamal

Pesta Gila Seabad Sekali, Piala Dunia 2030 Digelar di Tiga Benua Enam Negara dan Indonesia Ingin Ngintip Peluang Emas

Road to Final Piala Dunia: Menakar Peluang Duel Klasik Prancis vs Spanyol dan Inggris vs Argentia