ANKARA (Kepri.co.id – Xinhua) – Di kota-kota besar Turki, semakin banyak konsumen memilih menyewa barang-barang yang tahan lama ketimbang membeli.
Hal ini disebabkan kenaikan harga yang terus mengikis daya beli mereka, kendati ada tanda-tanda penurunan pada tingkat inflasi Turki yang belakangan melonjak.
Baca Juga: Lira Turki Sentuh Rekor Terendah Terhadap Dolar AS
Konsumen kebanyakan menyewa barang-barang seperti peralatan rumah tangga, elektronik, ponsel pintar, komputer, furnitur, mobil, hingga pakaian disewa secara harian maupun bulanan.
Adapun prosedur penyewaan barang dibuat cukup sederhana. Pelanggan dapat berlangganan suatu barang selama sebulan atau tiga bulan, hingga setengah tahun atau satu tahun penuh, dengan opsi terus memperbarui masa langganan atau mengembalikan produk, yang biayanya lebih murah dan memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar ketimbang membeli.
Biaya sewa laptop, misalnya, 2.000 Lira Turki (1 lira = Rp453) atau sekitar 59 Dolar AS (1 Dolar AS = Rp15.421) per bulan, sementara biaya sewa ponsel pintar 500 Lira per bulan.
Sedangkan untuk barang-barang elektronik besar dan furnitur, konsumen harus membayar sewa harian masing-masing sekitar 100 Lira dan 200 Lira.
Baca Juga: Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi di Turki
“Menyewa barang kini menjadi semakin populer di negara-negara yang dilanda inflasi tinggi,” kata Sinan Ventura, mitra pendiri Kiralabunu, sebuah platform daring untuk penyewaan barang, kepada Xinhua.
Dia mengatakan, pengguna platform ini terutama konsumen yang memiliki anggaran terbatas.
Di antara barang sewaan yang paling banyak dicari adalah ponsel pintar, komputer, tablet, dan perangkat elektronik lainnya, kata Ventura, seraya menambahkan, konsumen yang melek teknologi kini lebih suka menyewa, ketimbang membeli produk-produk yang sudah ditingkatkan (upgraded).

Meskipun tingkat inflasi tahunan Turki telah menurun dari level tertinggi yang mencapai 75 persen pada Mei 2024, tingkat inflasi masih tetap tinggi yaitu 52 persen pada Agustus 2024, dengan harga-harga naik rata-rata 2,5 persen per bulan.
Baca Juga: Turkish Free Zones Jajaki Kerja Sama Industri Halal dengan KPBPB Batam, Bintan, dan Tanjungpinang
Kenaikan inflasi yang terus terjadi, disertai pelemahan nilai mata uang Lira dalam beberapa tahun terakhir, telah menyebabkan lonjakan harga barang, terutama harga perangkat elektronik, dan penurunan daya beli masyarakat yang signifikan. Hal ini turut mendorong peningkatan pasar penyewaan barang.
“Sangat menjengkelkan melihat harga-harga barang tahan lama semakin hari semakin naik. Oleh karena itu, saya lebih memilih menyewa laptop, mesin kopi, beberapa perabotan, dan terkadang pakaian,” kata Derya Uluc, seorang konsumen dari Ankara, kepada Xinhua.
Uluc merupakan salah satu dari sekian banyak konsumen urban berusia 20-45 tahun, yang menganggap opsi menyewa merupakan pilihan yang lebih baik karena berbagai alasan, termasuk keterjangkauan harga, atau sekadar gaya hidup.
“Saya percaya, menyewa daripada membeli merupakan pilihan yang fleksibel, hemat biaya, dan lebih berkelanjutan untuk memiliki produk yang saya butuhkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar wanita muda itu. (amr/ xinhua-news.com)








