WUHAN (Kepri.co.id – Xinhua) – Proyek Tiga Ngarai, yang dikenal sebagai salah satu proyek bendungan pengendalian banjir dan pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia, baru-baru ini menerima kunjungan delegasi pejabat Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Transmigrasi Republik Indonesia (RI), M Iftitah Sulaiman Suryanagara. Kunjungan tersebut, bertujuan mempelajari praktik China dalam transmigrasi dan relokasi warga sebelum memulai pembangunan Proyek Tiga Ngarai, serta pembangunan ekonomi daerah pascaproyek.
Pada Minggu (12/10/2025), delegasi Indonesia tiba di Yichang, Provinsi Hubei, China tengah, yang merupakan lokasi Proyek Tiga Ngarai. Berdiri di platform pengamatan di atas Bendungan Tiga Ngarai, Menteri Iftitah mempelajari fungsi signifikan proyek tersebut dalam pencegahan banjir, pembangkit listrik, serta mendukung navigasi pelayaran dan sebagainya.
Hal yang paling menjadi perhatian sang menteri adalah proses transmigrasi warga lokal, yang melibatkan lebih dari 1,3 juta orang dan berlangsung selama sekitar 17 tahun. Dalam kesempatan tersebut, Xie Rong, pejabat lokal Desa Xujiachong yang terletak di sekitar lokasi proyek, menjelaskan berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah China selama proses relokasi penduduk yang berlangsung sejak awal 1990-an hingga sekitar 2010.
Dalam proses transmigrasi Proyek Tiga Ngarai, pemerintah China menerapkan serangkaian kebijakan yang mengutamakan kesejahteraan yang disesuaikan dengan kondisi lokal, bantuan bagi warga yang mengalami kesulitan, pelestarian budaya, serta pembangunan berkelanjutan, yang dirancang dengan perspektif jangka panjang strategis dan disusul dengan implementasi yang cermat.

Desa Xujiachong merupakan salah satu desa yang kebanyakan dihuni warganya relokasi. Di desa tersebut, Xie Rong dan Iftitah mengunjungi kantin publik, pusat kesehatan, dan pabrik pengolahan air limbah, yang seluruhnya dilengkapi dengan fasilitas canggih. Mereka berjalan-jalan di desa itu sambil berinteraksi dengan warga lokal yang tengah mencuci pakaian di dekat keran air bersih.
Xie mengatakan, “Pada awal transmigrasi, banyak warga yang merasa cemas dengan masa depan kehidupan mereka, khawatir tempat tinggal yang baru akan kekurangan fasilitas yang andal.”
Namun, fakta telah membuktikan, China berhasil menepati janjinya kepada warga dengan menyediakan layanan berkualitas tinggi serta fasilitas modern di desa relokasi, yang dirasa memuaskan oleh penduduk.

Sambil menulis di buku catatannya, Iftitah menyampaikan, di China “melayani rakyat” bukan sekadar semboyan, melainkan tindakan nyata. Peningkatan signifikan taraf hidup warga Desa Xujiachong dibandingkan dengan sebelum proyek tersebut menjadi contoh nyata keberhasilan China.
“Di Indonesia, kami juga menghadapi penuaan penduduk. Saya melihat banyak kantin dan fasilitas lain yang ramah bagi warga lanjut usia (lansia), termasuk layanan pesan antar bagi warga lansia yang kesulitan berjalan, ini patut diteladani Indonesia dalam transmigrasi warga di Indonesia dalam berbagai proyek nasional, seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN),” papar Iftitah.

Delegasi Indonesia kemudian melanjutkan kunjungan ke perkebunan jeruk di Kota Yichang. Di Desa Guanzhuang, buah-buah jeruk bergelantungan di ranting pohon di lereng pegunungan seakan mewarnai perbukitan, pemandangan yang membuat beberapa anggota delegasi tertarik untuk memotretnya. Sambil mengundang para tamu dari Indonesia untuk mencicipi jeruknya, seorang staf dengan bangga menjelaskan bahwa jeruk dari daerah tersebut terkenal memiliki rasa manis dan kandungan air yang tinggi, sehingga berhasil menembus pasar Eropa.
Selain itu, Iftitah juga mengunjungi beberapa perusahaan lokal, salah satunya adalah Angel Yeast Co Ltd. Pabrik milik perusahaan tersebut terus mengembangkan teknologinya dalam pengembangan pupuk berbasis produk sampingan ragi, yang telah mendapatkan pengakuan internasional. Berkat penelitian dan pengembangan (litbang) yang ekstensif, perusahaan itu berhasil mencatat peningkatan output maupun pembangunan berkelanjutan.

Sang menteri mengatakan dirinya mengetahui tindakan China dalam mendukung litbang dan terus melakukan inovasi sehingga produk-produknya menjangkau pasar global yang luas. “Perusahaan kami siap merangkul kapasitas penelitian China yang kuat dan rantai industrinya yang lengkap, serta memanfaatkan sumber daya yang melimpah di Indonesia demi mewujudkan industri yang berdaya saing global,” ujar Iftitah.
Di sela-sela kunjungannya ke Bendungan Tiga Ngarai, Iftitah melakukan wawancara dengan Xinhua, yang dalam kesempatan itu, dirinya mengatakan program transmigrasi China menyoroti pentingnya peningkatan kesejahteraan warga yang terdampak, “Inilah yang patut diteladani Indonesia,” pungkasnya. (hen/ xinhua-news.com)







