Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South

(Presiden Tiongkok, Xi Jinping mengikuti sesi foto bersama menjelang pertemuan "Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/ SCO) Plus" di Bishkek, Kirgizstan, pada 1 September 2026. (F. Xinhua/Wang Ye)

BEIJING (Kepri.co,id – Xinhua) – Presiden Tiongkok, Xi Jinping akan bertolak menuju New Delhi untuk menghadiri pertemuan BRICS tahun ini, hanya berselang lebih dari sepekan setelah dia berpartisipasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/ SCO) di Bishkek, ibu kota Kirgizstan.

Dua agenda multilateral yang berlangsung secara berturut-turut tersebut mengerucut pada satu tema utama, yakni memperkuat solidaritas dan kerja sama di antara negara-negara Global South.

Foto yang diabadikan pada 24 Agustus 2017 ini, menunjukkan hamparan bunga di Xiamen International Conference and Exhibition Center di Xiamen, Provinsi Fujian, Tiongkok tenggara. (F. Xinhua/Jiang Kehong)

KELUARGA YANG KIAN BERKEMBANG

SCO “berakar di Global South, denyut nadinya sejalan dengan Global South, dan menjadi salah satu pilar penting kerja sama Selatan-Selatan,” demikian dikatakan Xi dalam KTT Bishkek yang resmi ditutup pada Selasa (1/9/2026) pekan lalu, seraya menyerukan, agar SCO “mendorong pembangunan dan kebangkitan Global South melalui Kearifan SCO.”

Pemimpin Tiongkok tersebut, diperkirakan akan mengemukakan gagasan lebih lanjut mengenai kerja sama Global South pada KTT BRICS mendatang, setelah sebelumnya menyatakan bahwa BRICS “berada di garis depan Global South.”

Tahun ini menandai peringatan 25 tahun berdirinya SCO dan 20 tahun mekanisme kerja sama BRICS, yang keduanya merupakan tonggak penting.

Seiring gelombang kebangkitan kolektif Global South, BRICS dan SCO dalam beberapa tahun terakhir terus memperluas keanggotaan, serta memperkuat jaringan mitra dari negara-negara berkembang.

Para anggota kedua organisasi tersebut, secara bersama-sama mencakup lebih dari separuh populasi dunia dan sekitar 30 persen perekonomian global.

Hal ini menunjukkan fakta, kedua wadah kerja sama tersebut telah berkembang menjadi platform utama bagi kerja sama Global South.

Xi tidak hanya bergabung dengan para pemimpin negara-negara anggota lainnya, dalam mendorong perluasan kedua organisasi itu, tetapi juga mengemukakan gagasan serta inisiatif baru seperti pendekatan kerja sama “BRICS Plus” dan pembangunan komunitas SCO dengan masa depan bersama, yang membuka peluang baru bagi kerja sama yang saling menguntungkan (win-win) di antara negara-negara Global South.

“Tiongkok secara konsisten telah memberikan visi dan momentum yang jelas bagi BRICS dan SCO, baik secara konseptual maupun dalam praktik,” ujar Humprey Arnaldo Russel, kepala Pusat Studi ASEAN-Tiongkok di Universitas Indonesia.

“Langkah tersebut telah mengubah BRICS dari sebuah kelompok yang relatif eksklusif, menjadi platform kerja sama yang lebih luas di antara negara-negara berkembang dan Global South secara lebih luas,” imbuhnya.

Pakar Tiongkok Li Guiqiang (kiri) memberikan instruksi, terkait budi daya sayuran di Pusat Peragaan dan Pelatihan Teknologi Pertanian Addis Ababa Tiongkok-Ethiopia di Addis Ababa, Ethiopia, pada 20 Agustus 2025. (F. Xinhua/Han Xu)

UTAMAKAN PEMBANGUNAN

Dalam KTT SCO pekan lalu, Xi menyerukan kepada negara-negara anggota untuk “tetap berkomitmen mengutamakan pembangunan, dan membuka prospek bagi kemakmuran bersama.”

Di tengah lanskap internasional yang bergejolak dan berubah cepat, pembangunan masih menghadapi berbagai tantangan berat, dan jalan menuju kemakmuran bagi Global South tidak akan berjalan mulus.

“Global South bangkit demi pembangunan dan makmur melalui pembangunan. Kita harus menjadikan diri kita penggerak utama bagi pembangunan bersama,” ujar Xi dalam KTT BRICS 2024 di Kazan, Rusia.

Bagi Xi, pembangunan selalu menjadi prioritas utama. Dia memandangnya sebagai “kunci utama menyelesaikan segala permasalahan,” serta secara konsisten menyerukan kepada negara-negara di seluruh dunia untuk bersama-sama mengupayakan pembangunan dan kemakmuran.

Xi berulang kali menegaskan, tidak seorang pun boleh tertinggal dalam upaya pengentasan kemiskinan di Tiongkok. Xi juga memimpin sebuah kampanye masif yang berhasil menghapus kemiskinan ekstrem di seantero negara itu, yang disanjung sebagai “pencapaian pengentasan kemiskinan terbesar dalam sejarah.”

Keyakinan “tanpa meninggalkan seorang pun” tersebut turut meluas pada upaya dia dalam mendukung pengentasan kemiskinan serta memacu pembangunan di seluruh penjuru Global South.

“Di jalur menuju modernisasi, tidak seorang pun, dan tidak ada negara mana pun, yang boleh tertinggal,” ujar Xi.

Pekan lalu di Bishkek, Xi menyerukan penguatan kerja sama di bidang tradisional maupun sektor-sektor yang sedang berkembang, mulai dari perdagangan, investasi, konektivitas, dan energi hingga kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, serta industri hijau.

Foto dari udara yang diabadikan pada 22 Oktober 2025 ini, menunjukkan turbin angin Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) De Aar di De Aar, Northern Cape, Afrika Selatan. (F. Xinhua/Han Xu)

Menanggapi aspirasi Global South terhadap pembangunan dan modernisasi bersama, Xi mengusulkan Inisiatif Pembangunan Global (Global Development Initiative/ GDI), yang tahun ini memasuki tahun kelima sejak diluncurkan.

Dalam lima tahun terakhir, GDI telah menghimpun dana lebih dari 23 miliar Dolar AS (1 Dolar AS = Rp17.552), memberikan dukungan bagi lebih dari 1.800 proyek mata pencaharian yang “kecil dan indah”, serta mensponsori program pelatihan bagi lebih dari 200.000 orang di berbagai bidang profesi.

Serik Korzhumbayev, pemimpin redaksi surat kabar Delovoy Kazakhstan, mengatakan, “Di bawah kepemimpinan Xi, konsep pembangunan telah memperoleh dimensi internasional yang baru dan menjadi bagian dari visi yang lebih luas untuk masa depan bersama umat manusia.”

Presiden Tiongkok, Xi Jinping memimpin Pertemuan “Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/ SCO) Plus” di Tianjin, Tiongkok utara, pada 1 September 2025. (F. Xinhua/Huang Jingwen)

SUARA YANG LEBIH BESAR

Seiring dengan kebangkitan Global South, negara-negara di dalamnya layak memiliki suara yang lebih besar dalam urusan global.

   KTT SCO Tianjin tahun lalu Xi mengusulkan Inisiatif Tata Kelola Global (Global Governance Initiative/GGI), sebuah gagasan besar dari Tiongkok untuk mendorong sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara.

   Inti visi tersebut adalah keyakinan bahwa setiap negara memiliki tempat dan peran yang setara dalam tata kelola global.

   Xi telah lama berargumen bahwa urusan internasional tidak boleh didikte oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan lebih besar. “Urusan dunia harus dibahas bersama, dan norma internasional harus ditetapkan bersama,” ujarnya di Bishkek pekan lalu. “Dominasi atas urusan internasional oleh segelintir pihak merupakan ketidakadilan yang diwariskan oleh sejarah, dan tata kelola global yang didikte oleh satu, segelintir, atau satu blok yang terdiri sejumlah negara bukanlah multilateralisme yang sesungguhnya.”

   “Sebagai bagian penting dari dunia multipolar dan penggerak utama di baliknya, negara-negara Global South harus memiliki representasi dan suara yang lebih besar dalam urusan internasional,” ujar Xi.

   Selama bertahun-tahun, SCO dan BRICS telah berkembang menjadi wadah vital bagi negara-negara Global South untuk mengartikulasikan kepentingan, mengoordinasikan posisi, serta memperkuat pengaruh kolektif mereka.

   Peran mereka yang semakin besar terlihat dalam koordinasi politik. Kedua kelompok tersebut telah mengeluarkan pernyataan bersama mengenai berbagai isu internasional dan regional yang menjadi sorotan. Pada Maret tahun ini, misalnya, negara-negara anggota SCO mengeluarkan pernyataan yang menyatakan keprihatinan serius atas perkembangan di Timur Tengah dan serangan terhadap Iran.

   Xi juga telah mendorong perbaikan tata kelola ekonomi dan finansial global. Pada 2014, Xi bersama para pemimpin BRICS lainnya secara resmi menandatangani perjanjian pendirian New Development Bank (NDB), guna menciptakan saluran baru bagi pembiayaan infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di perekonomian-perekonomian emerging serta negara-negara berkembang.

   Pada KTT SCO di Bishkek, negara-negara anggota menegaskan kembali pentingnya pendirian SCO Development Bank.

Sejumlah lengan robot bekerja di bengkel produksi penyimpanan energi di Sigenergy Nantong Smart Energy Center di Nantong, Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, pada 24 Juli 2026. (Xinhua/Chen Yehua)

   Kini, dorongan untuk memperoleh suara yang lebih besar juga merambah ke sektor-sektor emerging yang akan membentuk masa depan. Pada Juli tahun ini, Xi mengumumkan pembentukan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Cooperation Organization/WAICO), dan menyerukan upaya bersama untuk membangun sistem tata kelola AI global yang adil dan setara.

   “Kita harus menjalin kerja sama internasional yang luas dan membantu negara-negara Global South dalam peningkatan kapasitas guna menjembatani kesenjangan AI dan digital, mendorong pembangunan berkelanjutan, serta mencegah terciptanya ketidakadilan historis yang baru di bidang AI,” ujar Xi.

   Di luar SCO dan BRICS, Tiongkok juga mendorong kerja sama serta representasi yang lebih besar bagi Global South melalui berbagai kerangka kerja seperti Forum Kerja Sama Tiongkok-Afrika (Forum on China-Africa Cooperation/FOCAC) dan KTT Tiongkok-ASEAN.

Xi telah menegaskan dalam berbagai kesempatan, Tiongkok selalu menjadi bagian dari Global South dan akan senantiasa menjadi bagian dari dunia berkembang.

“Bagaimana pun lanskap internasional berkembang, kami di Tiongkok akan selalu menempatkan Global South di dalam hati kami, dan menjaga akar kami di dalam Global South,” ujarnya dalam suatu kesempatan. (hen/ xinhua-news.com)