Kunjungan ke China Buka Mata Sejumlah Kades Garap Potensi Desa di Indonesia

Kunjungan ke China Buka Mata Sejumlah Kades dalam Garap Potensi Desa di Indonesia
Warga desa menghabiskan waktu luang mereka di sebuah paviliun di "Kali Sejuk" di Desa Purwosono, Provinsi Jawa Timur, pada 20 Agustus 2025. (Xinhua/Ye Pingfan)

JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) – Dengan wajah semringah, nada bicara penuh kebanggaan dan langkah bersemangat, Hendrik Dwi Martono memandu kami menuju bantaran sungai di Desa Purwosono. Air yang jernih mengalir di sungai yang dinaungi pepohonan bambu yang rimbun.

Hendrik bercerita bahwa sudut desa itu awalnya gelap dan kumuh. Warga membuang sampah di sana, sementara ranting dan daun juga berserakan tanpa dibersihkan.

Selama bertahun-tahun, penduduk menghindari daerah tersebut, dan anak-anak takut bermain di sana.

“Dahulu di sini, orang tidak bisa turun. Sudah ada tumpukan sampah, pohon bambu gelap,” kenang sang kepala desa.

Namun, semua itu tinggal sejarah. Kini, tempat itu telah disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan pepohonan rindang dan air jernih.

Meja dan kursi bambu diletakkan di dasar sungai yang dangkal, dengan paviliun rekreasi serta meja dan bangku batu di bantarannya.

Beberapa penduduk desa membuka warung, kolam renang anak, restoran serbaguna, dan arena gantangan burung di bantaran sungai yang dinamai Kali Sejuk itu.

Kini, tempat yang dahulu gelap dan kumuh berubah menjadi surga bagi penduduk desa setempat untuk bersantai, bersenang-senang, dan bahkan berolahraga, menarik penduduk dari desa-desa sekitarnya.

Berbagai sudut di desa itu telah menjadi mesin ekonomi bagi Desa Purwosono. Terlebih lagi, wisatawan dapat masuk tanpa membayar tiket.

“Masyarakat yang berjualan. Warga itu tidak membayar, tetapi punya kewajiban untuk membersihkan sungai,” tutur Hendrik.

Inspirasi dari Kunjungan ke China: Air dan Alam Sumber Kehidupan

Purwosono merupakan sebuah desa seluas 497,9 Hektare di Lumajang, Provinsi Jawa Timur.

Selama dua tahun terakhir, desa yang mayoritas penduduknya bertani tersebut mengalami perkembangan pesat.

Inovasi di Purwosono tidak terjadi secara tiba-tiba. Semua berawal dari perjalanan Kepala Desa (Kades), Hendrik Dwi Martono yang tak terlupakan ke China pada 2023. Dirinya terpilih dalam “Program Benchmarking Kepala Desa” Indonesia.

“Program Benchmarking Kepala Desa” Indonesia resmi diluncurkan 2019. Bekerja sama dengan otoritas pertanian China dan Indonesia, program ini memilih 20 hingga 30 kades di Indonesia setiap tahun, berkunjung dan belajar ke China, guna memahami model tata kelola akar rumput China.

Hingga 2024, empat sesi telah diselenggarakan. Lebih dari seratus kades telah mengunjungi China, menyaksikan perkembangan pedesaan baru di China serta kondisi pembangunannya saat ini, membawa pelajaran berharga kembali ke Indonesia.

Dalam kunjungan ke China itu, Hendrik terkesima ketika mengunjungi Desa Dongziguan di Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China timur.

“Nah ini, karena kami melihat di China itu airnya bersih (dan) bagus, di sungai-sungai itu dibersihkan. Tenaga kebersihannya pakai perahu,” kenang Hendrik.

Dari China, dia belajar merawat alam dan air, memberikan manfaat karena “air dan alam adalah sumber kehidupan.”

Kunjungan ke China Buka Mata Sejumlah Kades dalam Garap Potensi Desa di Indonesia
Foto dari udara yang diabadikan 18 September 2018 ini, menunjukkan salah satu bagian Desa Dongziguan di Distrik Fuyang, Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang, China timur. Desa Dongziguan, memiliki sejarah lebih dari 1.000 tahun, menawarkan kemudahan transportasi darat dan air. (F. Xinhua/Xu Yu)

Setelah kembali ke Purwosono, Hendrik segera merencanakan sebuah inisiatif besar yang melahirkan Kali Sejuk.

Dia menggerakkan penduduk desa, bergotong royong membersihkan sungai, mengubahnya menjadi area rekreasi bagi penduduknya dan memberinya branding baru, yakni “Kali Sejuk: Alam Desa Indonesia”.

“Saya sangat terkesan dengan China. Teman-teman kita di China, melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan kita di Indonesia harus mengikutinya. Setelah kami dari China pada 2023, (saya) langsung semangat membangun desa, kita gaspol (bergerak cepat), pulang langsung gerak, mengubah semua yang tidak potensial atau tidak produktif. Melihat (segala) sesuatu yang di sana (China) itu produktif dan potensial, dan hampir sama kalau kita bersihkan,” kata Hendrik menggebu-gebu.

Berkat kepemimpinan Hendrik, penduduk Desa Purwosono mengembangkan hubungan yang harmonis dengan alam.

Warga bahu-membahu membangun dan memelihara tanah dan air, serta membersihkan dasar sungai dengan kesadaran sendiri.

Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa dan sekitar 80.000 desa. Perlindungan lingkungan dan pembuangan limbah di pedesaan menjadi semakin menantang.

Hendrik berharap, dapat menjadikan Sungai Qingliang sebagai brand tata kelola lingkungan pedesaan di Indonesia, yang akan memberi manfaat bagi lebih banyak penduduk pedesaan.

“Dari Rakyat, oleh Rakyat, untuk Rakyat”

Sebuah patung Garuda, lambang negara Indonesia, menghiasi pintu masuk Kantor Desa Purwosono. Aula masuknya berupa bangunan semi terbuka bergaya Eropa, dan tulisan-tulisan berlapis emas yang mencolok pada atapnya bertuliskan: “Dari Rakyat, oleh Rakyat, untuk Rakyat”.

Sebagai kantor unit administrasi tingkat desa, kantor ini memancarkan kesan khidmat dan megah, tetapi tetap ramah dan tak pernah mengintimidasi.

Kunjungan ke China Buka Mata Sejumlah Kades dalam Garap Potensi Desa di Indonesia
Kepala Desa Hendrik (keempat dari kiri) dan rekan-rekannya berfoto, sambil memegang bendera nasional Indonesia dan China di depan kantor desa di Desa Purwosono, Provinsi Jawa Timur pada 20 Agustus 2025. (F. Xinhua/Ye Pingfan)

Sambil tersenyum, Hendrik menjelaskan, dirinya menamai kantor desa itu “Istana Rakyat”, dan bahwa semua yang terlihat adalah hasil renovasi setelah kembali dari studi banding di China pada 2023.

Saat itu, Hendrik terpesona dengan gerakan akar rumput di desa-desa China, yang begitu bersemangat membangun desa.

“Waktu saya tiba di salah satu desa sana, itu juga ada desa yang dijadikan sebagai pusat promosi. Bahkan, ada maskot desa. Nah, kita coba aplikasikan di situ,” papar Hendrik.

Menurutnya, etos kerja warga akan menguat ketika warga senang dan bangga saat berkunjung ke balai desa.

Sepulang dari studi banding di China, Hendrik mendapatkan pemahaman baru tentang fungsi dan arti penting kantor desa.

Selama ini, kantor desa menangani urusan sipil warga, seperti pernikahan dan pemakaman. Kedua, kantor ini berfungsi sebagai tempat bagi warga desa untuk bertukar informasi dan membahas urusan resmi.

Ketiga, kantor ini menyediakan pendidikan dan penyebaran pengetahuan. Terakhir, kantor ini berfungsi sebagai tempat dan platform untuk promosi diri.

“Setelah mengunjungi kantor desa di China, saya menemukan, kantor tersebut merupakan pusat pendidikan patriotik. Kantor desa kami berada di sebelah sekolah dasar, dan anak-anak berjalan melewati pintu kami setiap hari. Saya juga berharap, Kantor Desa Purwosono dapat menjadi tempat seperti itu, di mana hal-hal ini secara tidak sengaja dapat mendidik mereka tentang patriotisme,” ungkapnya.

Untuk tujuan ini, Hendrik memasukkan lambang negara Indonesia dan semangat Pancasila ke dalam gedung tersebut, agar setiap warga desa yang melewatinya setiap hari, dapat merasakan kebanggaan nasional dan terinspirasi bekerja keras.

Belajar dari pengalaman rekan-rekannya dari China, Hendrik kini merencanakan pembuatan ruang pameran khusus bagi Desa Purwosono di kantor desa, guna mempromosikan dan memperkenalkan desa itu kepada publik.

“China berkembang pesat, tata kelola pedesaannya sangat baik, dan penggunaan teknologi tinggi semakin meluas. Meskipun kedua negara kita memiliki kondisi berbeda, meskipun kita tidak dapat mempelajari semuanya, kita dapat membuat kemajuan dengan memulai dari apa yang dapat kita lakukan,” kata Hendrik.

Menyatukan Warga: Hikmah Semangat Juang dari Perjalanan ke China

Menjadi kepala desa yang memimpin lebih dari 4.000 orang, bukanlah tugas yang mudah. Desa Purwosono terdiri dari empat dusun dengan kondisi geografis berbeda.

Di dekat sumber air, tanaman utamanya adalah padi. Sementara di lahan yang lebih kering, tanaman tebu dan jagung lebih mendominasi.

Beberapa warga desa juga beternak sapi dan bebek. Selain itu, banyak yang bekerja paruh waktu di pabrik-pabrik terdekat atau menjalankan usaha kecil. Keprihatinan dan tuntutan warga desa beragam, sehingga sulit memuaskan semua orang.

Desa Purwosono juga merupakan desa multietnis. “Kita kampung Jawara. Jawa dan Madura,” kata Hendrik sambil berkelakar.

Kedua etnis itu mendominasi jumlah penduduk di desanya. Terdapat juga beberapa penduduk dari etnis lain, seperti Bali, masing-masing dengan bahasa dan adat istiadatnya yang khas.

Dalam kemajemukan tersebut, menjaga persatuan dan kerukunan masyarakat desa selalu menjadi fokus utama Hendrik.

Yang paling berkesan baginya selama perjalanannya ke China, semangat pantang menyerah masyarakat China memperjuangkan tujuan yang mereka pilih.

“Kita seharusnya tidak hanya terinspirasi oleh diri kita sendiri, tetapi juga menginspirasi orang lain, bergabung dalam perjuangan membangun Tanah Air kita. Saya rasa, ini hadiah terbesar dari perjalanan saya ke China,” kata Hendrik.

Hendrik selalu menyimpan rasa kepedulian tinggi pada penduduk desa di dalam benaknya. Dia, bahkan menyempatkan waktu, membaca informasi harga pasar terbaru untuk anak itik melalui ponselnya, karena terdapat 70 peternak itik di desanya.

Dia juga pernah mengadakan rapat desa pada pukul 20.00, untuk membahas masalah keamanan desa, ketika sebelumnya anak-anak muda dari desa lain telah mencuri ternak dari peternak lokal.

Tahun ini, dia menggunakan dana pemerintah untuk membangun lebih dari 300 Meter jalan semen di desa tersebut.

Belum lama ini, seorang gadis desa menikah dengan seorang pria Tionghoa, dan dia dengan ikhlas membantu mengurus surat nikah mereka di Indonesia.

Berkat kepemimpinan Hendrik, penduduk Desa Purwosono telah mengembangkan tekad yang kuat maju bersama.

“Makanya kita lakukan ini. Sebenarnya, kami tidak bisa melakukan hal yang luar biasa. Kita melakukan hal yang tidak biasa saja. Kalau kita melakukan yang biasa, hasilnya (juga) biasa (saja). Tetapi, kalau yang luar biasa, belum tentu. Karena ini, kita melakukannya tidak biasa, tetapi dengan semangat yang luar biasa,” jelas Hendrik.

Dengan semangat yang luar biasa, Hendrik yakin hasil yang diraih juga akan luar biasa.

Kunjungan ke China Buka Mata Sejumlah Kades dalam Garap Potensi Desa di Indonesia
Kepala Desa Hendrik menunjukkan sertifikat pelatihan “Program Benchmarking Kepala Desa” yang diikutinya di China di Desa Purwosono, Provinsi Jawa Timur, pada 20 Agustus 2025. (F. Xinhua/Ye Pingfan)

Hendrik sangat berterima kasih kepada pemerintah Indonesia dan China, yang telah memberikan kesempatan berkunjung ke China.

Dia sungguh berharap “Program Benchmarking Kepala Desa” akan terus berkembang. Jika memungkinkan, dia sangat ingin bisa pergi ke China lagi.

Modernisasi Pertanian: Pembelajaran dari Kunjungan ke China

Desa Sukajaya yang luasnya 259 Hektare di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, semula menghadapi tantangan ekonomi.

Saat itu, mayoritas angkatan kerja bergantung pada pekerjaan buruh harian lepas dan sektor pertanian.

Perbaikan ekonomi merupakan cita-cita utama ketika Deden Gunaefi terpilih sebagai kepala desa.

Deden memulai upayanya dengan mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), yang menyediakan kebutuhan sehari-hari dan memperbaiki infrastruktur jalan-jalan desa.

“Ketika saya terpilih, (saya memikirkan) bagaimana mengubah desa ini, menjadi desa yang harus maju. Nah, di situ saya lebih mendorong dari segi bagaimana orang membangun desa. Saya mengubah mindset-nya itu dengan ekonomi,” ujar Deden.

Seperti Hendrik dari Purwosono, prestasi Desa Sukajaya membuat Deden dilirik untuk berpartisipasi.

Dia terpilih untuk mengikuti “Program Benchmarking Kepala Desa” Indonesia. Dalam program itu, mantan pengurus karang taruna tersebut mendapat kesempatan berkunjung ke China pada 2019 untuk mempelajari cara mengembangkan desa.

Deden belajar mengembangkan sektor pertanian menggunakan teknologi. “Setelah saya berkunjung ke China, banyak yang saya pelajari dari sana,” kenang Deden.

Deden merasa kagum ketika menyaksikan, teknologi canggih di bidang pertanian diterapkan di desa di Guangxi.

Matanya terbuka, teknologi bisa benar-benar bermanfaat  meningkatkan produktivitas pertanian.

Beberapa contohnya adalah penggunaan rumah kaca, irigasi tetes dan teknologi-teknologi di dalamnya.

Saat kembali ke Indonesia, pertanian di Desa Sukajaya semakin disempurnakan. Mengingat pentingnya teknologi dalam pertanian, para petani Sukajaya mulai menggunakan rumah kaca, beradaptasi terhadap perubahan iklim.

“Di China, semacam pisang saja (ditempatkan) di dalam rumah kaca, greenhouse. Kita juga menerapkan rumah kacanya. Sekarang cuaca tidak bisa prediksi. (Oleh karena itu kami) menggunakan rumah kaca, jadi kalau hujan tidak terkena hujan, (sinar) matahari juga lebih tersaring,” tuturnya.

Kepala desa Sukajaya di Jawa Barat, Deden Gunaefi (kiri) memperkenalkan ruang kaca Kampung Melon di desanya pada Agustus 19, 2025. (F. Xinhua)

Saat ini, deretan rumah kaca berdiri di area yang diberi nama “Kampung Melon”. Rumah kaca juga membuat hama dan rumput lebih terkendali.

Alhasil, para petani kini dapat menanam berbagai komoditas dengan perlindungan rumah kaca tersebut. Beberapa komoditas itu adalah melon dan anggur hijau yang bernilai ekonomi tinggi.

Selain rumah kaca, dia juga belajar tentang proses pemberian nutrisi secara otomatis.

“Ada pertanian yang menggunakan teknologi penyiraman irigasi. Jadi menggunakan handphone. Jadi, ketika tombol ditekan bisa pemupukan, penyiraman, dan mengatur suhu udara,” kenang Deden penuh kekaguman.

Meskipun teknologi tersebut membutuhkan biaya tinggi, dia belajar mengadaptasi dengan sumber daya lokal.

Alhasil, kini panen melon membutuhkan tenaga yang lebih sedikit. Teknologi pemberian nutrisi otomatis, membantunya mengurangi biaya produksi, sekaligus meningkatkan kualitas buah melon.

Kini, Kampung Melon menjadi salah satu tempat wisata edukatif yang banyak dikunjungi.

Ketika kami berkunjung ke sana, sekelompok pemuda sedang melakukan pembelajaran teknik pertanian modern.

Keterampilan yang mereka pelajari dari Kampung Melon akan dijadikan bekal mereka, bekerja di lahan pertanian modern di luar negeri.

Manajer Kampung Melon, Nurul Mukhlis, mengatakan, berbagai kalangan dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah, kerap menjadikan Kampung Melon sebagai wahana pembelajaran.

Wisatawan juga berbondong-bondong mendatangi tempat itu, demi merasakan pengalaman memanen buah-buahan secara langsung di Sukajaya. Semua ini meningkatkan perputaran ekonomi di Desa Sukajaya.

“Dari banyak tempat, sampai dari luar kota juga ke sini, karena melon di sini beda, spesial sekali rasanya. Itu yang jadi kebanggaan,” tuturnya dari dalam rumah kaca. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Desa Bali di Hainan jadi Jembatan Persahabatan China-Indonesia

Rombongan Kades Asal Indonesia Studi Banding ke Chengdu, Pelajari Revitalisasi Pedesaan di China

Ikatan “Kota Kembar” Beri Dorongan Kuat Pembangunan Hubungan RI-China

Menilik Berbagai Keberhasilan Kerja Sama Liuzhou-Bandung

Provinsi Jawa Tengah dan Fujian di China Perkuat Kerja Sama di Bidang Perikanan

Dua Perusahaan China Tanamkan Investasi Rp900 Miliar di Batang, Jawa Tengah

Produsen Alkes China Investasikan Rp1,7 Triliun Bangun Pabrik Baru di Jawa Tengah

Bandung dan Nanning Jalin Hubungan Sister City, Buka Kerja Sama di Berbagai Bidang Strategis