Orang-orang berkumpul untuk berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Iran, pada 1 Maret 2026. (Xinhua)
WASHINGTON (Kepri.co.id – Xinhua) – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Seyed Abbas Araghchi mengatakan kepada ABC News pada Minggu (1/3/2026), tidak ada pemimpin negara mana pun yang berhak melarang Iran merespons serangan udara besar-besaran, yang sedang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, seraya menambahkan negaranya memiliki hak penuh membela diri dan akan terus berjuang.
Melalui sebuah unggahan pada Minggu (1/3/2026) dini hari waktu setempat, Presiden AS, Donald Trump mengatakan Iran tidak boleh membalas.
“Iran baru saja menyatakan bahwa mereka akan menyerang dengan sangat keras hari ini, lebih keras dari sebelumnya. MEREKA SEBAIKNYA TIDAK MELAKUKANNYA, KARENA JIKA MEREKA MELAKUKANNYA, KAMI AKAN MENYERANG MEREKA DENGAN KEKUATAN YANG BELUM PERNAH TERLIHAT SEBELUMNYA!” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.
Menanggapi hal itu, Araghchi mengatakan kepada ABC News, “Saya rasa tidak ada pemimpin negara yang berhak mengatakan hal seperti itu. Tidak ada.”
“Kami membela diri, dan kami memiliki hak penuh, hak yang sah, membela diri,” ujar Araghchi. “Apa yang kami lakukan adalah tindakan membela diri. Ada perbedaan besar antara keduanya,” katanya.
“Kami membela diri; apa pun yang diperlukan; dan kami tidak melihat batasan bagi kami untuk membela rakyat kami, untuk melindungi rakyat kami,” tambahnya.
Saat ditanya apakah penyelesaian melalui negosiasi dengan AS masih mungkin dilakukan, Araghchi menyiratkan, dia ragu akan hal itu. Dia menyebut, pembicaraan nuklir AS-Iran dalam beberapa tahun terakhir menjadi “pengalaman yang sangat pahit” bagi Iran.
Dikatakan Araghchi, Iran diserang pada Sabtu (28/2/2026) dan juga Juni 2025 lalu, di tengah pembicaraan diplomatik dengan AS yang diyakini Iran sudah mengalami kemajuan. Dia menambahkan, Israel dan beberapa penasihat Trump telah “menyeret” Trump ke dalam perang, meskipun kesepakatan damai tampak berpotensi tercapai usai perundingan di Jenewa pada Kamis (26/2/2026).
Ketika ditanya seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan-serangan tersebut terhadap infrastruktur militer Iran, Araghchi mengatakan, “Kami telah kehilangan beberapa komandan, itu fakta, dan nama-nama mereka sudah diumumkan. Tetapi, fakta lainnya adalah tidak ada yang berubah dalam kemampuan militer kami.”
Pejabat Iran itu mengatakan, Iran mampu memulai serangan balasan bahkan lebih cepat daripada yang dapat dilakukannya dalam konflik 12 hari dengan Israel dan AS pada Juni 2025.
“Militer kami siap. Mereka cukup mampu membela negara kami,” kata Araghchi. “Bahkan, lebih dari itu, mereka lebih siap dan lebih mampu dibandingkan perang sebelumnya … mereka berada dalam posisi yang lebih baik. Anda telah melihat bagaimana mereka bertindak sejauh ini.”
Serangan udara besar-besaran AS-Israel, yang telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memasuki hari kedua pada Minggu (1/3/2026).
Trump mengatakan, 48 pejabat tinggi Iran tewas dalam operasi tersebut dan pasukan AS telah menenggelamkan sembilan kapal perang Iran, serta menghancurkan sebagian besar markas besar angkatan laut Iran.
Komando Pusat AS menyatakan melalui media sosial pada Minggu (1/3/2026)’ tiga anggota militer AS tewas dan lima lainnya terluka parah dalam operasi militer AS terhadap Iran. (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Serangan Besar-besaran AS ke Iran Picu Banyak Pertanyaan
Pemimpin Houthi Nyatakan Solidaritas dengan Iran, Siap Hadapi Segala Perkembangan
Rusia Kutuk Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Serukan Deeskalasi
Hingga 160 Orang Diperkirakan Tewas dalam Serangan AS-Israel terhadap Sekolah Perempuan di Iran
Media Pemerintah Iran: Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel
Intisari: Anggota Parlemen AS dari Partai Demokrat Kecam Trump atas Serangan terhadap Iran






