Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial
SAYA punya kawan orang Malaysia. Setelah sekian lama berkawan, kami jadi saling memahami. Kawan saya ini merasa daripada Sarawak dan Sabah, dia lebih suka (Kepulauan) Riau yang menjadi wilayahnya Malaysia. Dan beginilah kemauan hampir semua orang Melayu di Malaysia. Mereka menyayangkan kami yang tak senegara dengan mereka, padahal wilayah kami sangat dekat dengan mereka. Disebabkan kesultanan Riau sebagai pewaris Melaka dan dikuatkan lagi dengan tayangan video anak-anak (Kepulauan) Riau di YouTube akhir-akhir ini, yang semakin menguatkan perasaan mereka.
Saya sebagai anak (Kepulauan) Riau, tidak pernah mau wilayah saya bergabung dengan Malaysia. Sebab perbedaan ideologi antara Malaysia dan (Kepulauan) Riau. Satu hal yang seolah-olah sederhana tapi sakral, yaitu ideologi. Di Malaysia, istilah suku Melayu diubah menjadi bangsa. Sangking demi nak menyedapkan hati keturunan pendatang Muslim dari Indonesia.
Sedangkan saya, menerapkan yang sebenarnya, yaitu Melayu adalah suku. Selain itu, demi bisa merasa sehebat Romawi, Ottoman, dan Inggris, bukan berarti suku-suku pendatang yang bukan Melayu harus dikategorikan sebagai Melayu juga.
Oleh sebab inilah, selamanya wilayah saya tak akan pernah bersatu dengan Malaysia, seperti yang didambakan banyak pejabat-pejabat di sana. Di Malaysia, keadaannya sudah kacau balau karena membanjirnya pendatang dari barat Sumatera dan Jawa sejak tahun 1980-an. Dan keturunan pendatang-pendatang ini, tidak merasa sebagai keturunan pendatang karena berstatus warga negara, sehingga berbuat yang melebihi kewajaran-kewajaran. Contohnya, seperti pembuatan gedung-gedung bergaya Minang yang semakin menjamur. Keadaan yang disebabkan karena kesalahan kedua belah pihak.
Malaysia dan (Kepulauan) Riau umpamanya adalah seperti Korea Utara dan Korea Selatan, yang selamanya akan terpisah karena perbedaan ideologi. Walaupun sama-sama kapitalis ekonominya. Sebab lain kami tak akan pernah bersatu dengan Malaysia adalah karena saya tak mau semua urusan sakral wilayah saya ditentukan oleh politisi-politisi di Kuala Lumpur.
Andai begini keadaannya, artinya tak ada bedanya dengan di Indonesia. Saya tak ingin (Kepulauan) Riau menjadi seperti Sarawak dan Sabah, yang setelah terkecoh dan disatukan, tak akan dilepaskan selamanya. Karena kekayaan alamnya.
Belajar dari Singapura, walaupun wilayahnya tak banyak tapi karena berkuasa penuh di wilayahnya, akhirnya dalam waktu singkat bangsa Singapura mampu menjadi bangsa yang maju dan berjaya. Berkat pemimpinnya yang menjadikan bangsanya menjadi bangsa yang jujur, tertib, dan gigih. Kejayaan bangsa Singapura ini mengilhami saya.
Apalagi, didukung dengan orang (Kepulauan) Riau yang tak banyak, artinya tujuan pendirian negara bisa lebih mudah terwujud. Selama pemerintahnya mampu. Dan ini tak akan terjadi bila (Kepulauan) Riau menjadi bagian dari Malaysia. ***
…
Penulis adalah peminat berita mancanegara dan provinsinya.
*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.







